
"Kamu siapin dong di piring, masa aku makan pakai kertas begitu sih?!" Omelku kesal.
Tuti tidak menjawab, dia langsung membawa lagi kantong yang di berikan kepadaku masuk kedalam rumah, aku pun mengikutinya dari belakang menuju meja makan.
"Kok beli nya cuma satu?" Ucap ku heran.
"Duit ku tinggal sepuluh ribu kang, harga nasi uduk ini saja delapan ribu, gimana aku mau beli dua!" Tuti menjawab ucapanku dengan Omelan, bikin mood ku hancur saja.
"Makanya jangan malas cari duit, sok sok an semalam tidak kerja,malah nyusulin aku ke tempat tongkrongan, coba tadi malam kamu kerja, kan bisa lumayan dapat duit!" Akupun akhirnya ngomelin dia lagi.
"Mending aku dapat tamu kang, kalau lagi sepi ya sama saja tidak dapat duit!,mendingan juga kamu yang kerja kang, seharusnya kan akang yang kerja!" Kurang @jar Tuti menyuruhku kerja, sedangkan Asti saja selama aku nganggur hidup berumah tangga dengan nya tidak pernah menyuruh aku kerja, ini baru aku nikahin beberapa hari sudah ngelunjak.
Braaak!
Aku menggebrak meja makan, hingga nasi yang ada di piring ikut berhamburan, Tuti pun terlihat terperanjat kaget.
"Aku ingatkan sama kamu ya gendut!, Jangan pernah menyuruh aku kerja!, Asti saja istri sah ku tidak pernah menyuruh aku mencari kerjaan, kamu baru juga jadi istri sirih sudah berani!" Tuti terlihat ketakutan sewaktu aku menggebrak meja, siapa suruh membuat aku kesal di pagi hari jika tidak ingin aku semprot.
..."Satu lagi Tut, kapan uang warisan mu turun?!, Aku ingin cepat beli rumah baru agar istriku bisa kembali ke sini dan bisa membiayai hidupku lagi!, Aku tidak bisa mengandalkan kamu yang tidak punya gajih!, Tidak seperti Asti memiliki gajih banyak tanpa harus drama beli sarapan pagi" ucapku sambil menatap Tuti dengan tajam, menunggu jawaban darinya , Sedangkan Tuti bukan menjawab malah terisak menangis di meja makan...
Aku segera keluar untuk pergi ke rumah Emak, mau pinjam motor Euis sekalian pinjam uang nya lagi dua ratus buat isi kantong , untuk menjemput Asti hari ini, dan nanti jika Asti sudah kembali padaku juga pasti dia akan bayar semua hutang ku.
__ADS_1
***
"Mau apa kamu datang kesini?!, Mau cari masalah lagi!" Seorang satpam yang bernama Andika menghardik di saat aku mendatangi pos satpam untuk meminta memanggilkan Asti.
"Sabar bro, aku kesini nyari istriku! Aku mau jemput dia pulang sekarang, karena ada kepentingan mendadak, lebih baik kamu panggilkan saja dia kesini! Dari pada kamu di pos ini cuma duduk-duduk tidak jelas!"
Ucapku menyindir mereka, toh ucapanku benar kok, mereka hanya duduk saja di pos ini sambil ngobrol, dari pada tidak ada pekerjaan lebih baik aku suruh saja.
"Hei jangan kurang ajar ya kamu!, Seenaknya bilang kami hanya duduk-duduk saja!, Tanggung jawab kami itu besar, untuk menjaga keamanan wilayah ini dari orang-orang br*ngsek macam kamu!" Ucap Andika nyolot, tapi teman satu profesi dengan nya langsung menarik tubuh Andika yang sudah berdiri untuk mendekatiku.
"Lebih baik kamu cepat keluar!, Kamu tunggu dia di rumah saja, soalnya jika istrimu sedang bekerja tidak bisa di ganggu!" Ucap teman si Andika yang bernama Burhan, kenapa aku tahu nama-nama mereka?, Ya karena kan di dada baju mereka sudah terpampang nama-nama mereka.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini sebelum kami kehilangan kesabaran, tunggu istrimu sampai dia keluar saja, soalnya peraturan di perusahaan ini tidak bisa memanggil orang yang sedang bekerja seenaknya, jadi harus melalui prosedur yang sudah ada di perusahaan ini baru istri anda bisa pulang di jam kerja seperti ini!" Seorang satpam setengah tua yang di dadanya terpampang nama Wiryo berbicara sedikit sopan kepadaku di banding teman-teman nya yang lain.
"Perusahaan macam apaan begini,! Karyawan nya ada perlu saja tidak bisa keluar!" Ucap ku kesal.
"Hei, aku kasih tahu sama kamu ya!, Mbak Asti tidak kerja hari ini, dia sudah mengajukan cuti lama, tadi dia kesini bersama keluarganya menjemput motor nya yang kemarin di titipin di sini!, Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini!, Aku muak lihat tingkah kamu!"
Ucap Andika masih dengan nada ngegas.
"Haha.. kalian pasti berbohong bilang istriku tidak kerja hari ini!, Biar aku pergi dari sini kan?!" Ucapku tertawa nanar, mereka membual istriku tidak masuk kerja supaya aku tidak memaksa mereka untuk memanggil istriku, dia pikir aku anak kecil yang bisa di kibuli mereka!
__ADS_1
"Kamu itu lucu!, Istri sendiri kok tidak tahu kerja atau tidak hari ini! Di kasih tahu yang benar tidak percaya, ya sudah tunggu saja sampai semua Karyawan ini bubar nanti, cari tuh bini Lo ada tidak di sini!" Andika tersenyum sinis kepadaku, entah kenapa dia sepertinya benci kepadaku, padahal kami baru saja ketemu kemarin itu.
"Baik, aku akan tunggu semua karyawan bubar, jika istriku ada nanti, aku hajar kamu!" Aku menunjuk wajah Andika dengan telunjuk ku mengarah tepat di wajahnya, Andika mau menghampiriku dengan tangan yang terkepal, tapi teman nya menghalangi sikap arogan dia, aku pun pergi dari sana, nanti sore aku akan ke sini lagi menunggu istriku pulang kerja.
***
POV author.
Asti dan keluarga nya sedang bersiap membereskan semua barang yang akan di butuhkan nanti di puncak, ke dalam mobil rental yang di sewa Asti, dan yang membawa menjadi sopir tentunya bapak, tapi sayang nya Umar tidak bisa ikut karena dia tidak mungkin minta cuti lama di tempat kerjanya, walaupun sebenarnya jika Umar minta cuti pun bos nya yaitu Yoga pasti akan mengijinkan nya, sebab yoga sebenarnya teman satu perguruan di tempat bela diri karate, dari situ lah Umar dan yoga bersahabat, hingga Umar di tawari bekerja di showroom milik Yoga, tentu Umar sangat senang menerima tawaran itu, karena sebagian orang mungkin susah untuk melamar pekerjaan, sedangkan dia di tawari oleh pemilik nya langsung untuk bergabung di perusahaan itu.
"Mar, selama kami tidak di rumah tolong kamu lihat kios di pasar ya, takut di bongkar orang!" Ucap bapak menitipkan tempat usahanya kepada Umar, bapak memang berjualan di pasar, kios buah kelapa yang dia miliki lumayan rame, di sana juga menyediakan santan yang sudah jadi dan menerima jasa memarut buah kelapa di sana memakai mesin.
"Tenang pak, bapak yang tenang saja healing nya, soal kios biar nanti Umar jagain!" Ucap umar sambil tangan nya di miringkan di kepalanya seperti orang memberi hormat kepada bendera.
"Hiling itu apaan sih mar?, "Ucap bapak polos, aku cekikikan mendengarnya sedangkan ibu diam saja karena sama-sama tidak mengerti apa yang Umar omongkan.
"Healing itu bapak ganteng!" Ucap Umar dengan mimik wajah serius,
"Kalau itu dari dulu" ucap bapak sambil tersenyum lebar, ibu menjulurkan lidahnya meledek ayah, aku pun akhirnya ngakak melihat ulah mereka, sementara Umar cuma nyengir saja.!
"Teh Asti!" Tiba-tiba ada suara seorang perempuan memanggil Asti di luar pagar, semua pun menoleh ke arah suara.
__ADS_1