
Sejak dari pagi Anton sudah datang bertandang ke rumah Euis, sarapan spesial pun di hidangkan Euis untuk sang pujaan hati, Euis sangat bahagia ternyata Anton juga sangat mencintainya, terbukti Anton sekarang datang ke rumahnya karena menurut Anton dia sudah berat menanggung rindu dari semalam kepada Euis, tentu saja Euis semakin di buat mabuk kepayang oleh rayuan-rayuan maut Anton,
Anton sekarang berada di dalam kamar Euis, mereka di rumah hanya berdua, sebab Emak pergi ke rumah Asti dari pagi sampai siang hari ini belum pulang, tentu saja kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Anton untuk menyalurkan hasratnya kepada Euis, dan dengan bodohnya Euis pun melayani semua keinginan Anton dengan pasrah, mereka saling berpelukan setelah saling melepaskan nafsu sahwat mereka, tubuh mereka tidak mengenakan sehelai benang pun hanya di tutupi selimut tipis milik Euis, Anton melarang Euis untuk memakai pakaian nya kembali setelah mereka melakukan hubungan intim, Anton beralasan masih ingin mengulang sekali lagi, Euis pun manut saja karena dia sedang di mabuk asmara.
Tiba-tiba pintu rumah Emak ada yang mendobrak, dan beberapa orang warga masuk ke dalam rumah itu , mereka langsung mendobrak kamar Euis yang berada di depan dekat dengan ruang tamu, tentu saja Euis dan juga Anton kaget dan ketakutan, warga pun marah melihat mereka berduaan di kamar tanpa sehelai pakaian, lalu Euis dan Anton pun di bawa ke kantor desa setelah mereka di beri kesempatan untuk mengenakan kembali pakaian masing-masing.
Euis menangis menutupi wajahnya karena malu, sementara Anton hanya menunduk lesu.
"Kamu itu keterlaluan sekali Euis! Kakak kamu belum juga empat puluh hari meninggal tapi kamu sudah membuat dosa besar di rumah mu itu, sungguh terlalu kalian ini!" Bentak pak RT marah, dia betul-betul tidak habis pikir dengan kelakuan mereka berdua, terutama Euis, apakah dia tidak menghormati kakak nya yang baru saja tiada,
"Maaf pak, saya khilaf!" Isak Euis sambil menunduk, Euis bingung kenapa warga bisa sampai tahu jika dirinya sedang berzinah! Euis tidak habis pikir siapa yang tega melaporkan dirinya kepada kepala desa hingga sampai di gerebek ke rumah.
Sebenarnya Ceu Icut lah tetangga terdekat Euis yang melaporkan jika di rumah emak ada seorang lelaki, waktu itu Ceu Icut datang ke rumah emak untuk mengantarkan sayur asam buat Emak, namanya juga hidup di kampung dan bertetangga, saling membagi makanan itu sudah biasa, itu juga yang di lakukan ceu Icut, niat hati ingin berbagi tapi malah menemukan sesuatu yang janggal , Ceu Icut merasa curiga dengan suara cekikikan dan ******* yang terdengar di kamar Euis ketika Ceu Icut melewati kamar Euis yang terletak paling depan dan jendelanya menghadap ke teras rumah di mana Ceu Icut berdiri sekarang ini, dengan pelan-pelan Ceu Icut menguping di dekat jendela, Ceu Icut mendengar ada suara lelaki di kamar Euis, segera saja Ceu Icut pulang kembali ke rumah dan melaporkan kejadian itu kepada suaminya, akhirnya suami Ceu Icut pun langsung mengajak sebagian warga dan juga ketua RT untuk menggerebek rumah emak dan berakhir lah Euis dan Anton berada di kantor desa ini.
Emak tergopoh-gopoh datang ke kantor desa bersama seorang tetangga lain nya, Emak baru saja pulang dari rumah Asti, tapi begitu sampai rumah, emak langsung mendapat laporan dari tetangganya jika Euis sedang di bawa ke kantor desa karena sudah berbuat zinah di rumahnya,
"Euis! Kamu bikin malu emak ya!" Teriak emak sambil melepaskan sendalnya lalu melemparkan sendal itu tepat mengenai kepala Euis, Euis pun mengaduh karena selain kaget, dia pun kesakitan di bagian kepala akibat hantaman sendal emak.
"Maaf Mak.. Euis khilaf.." ujar Euis sambil menangis tapi tangan nya mengusap kepala yang sakit terkena lemparan sendal.
"Kamu juga Anton! Kamu harus bertanggung jawab sekarang juga! Keterlaluan kamu sudah merusak anak ku!" Teriak emak sambil memukuli Anton dengan sendal yang satu lagi.
__ADS_1
"Ampun Mak sakit!" Ujar Anton berusaha melindungi kepalanya dari hantaman sendal Emak yang terbuat dari karet asli, warga pun tidak ada yang menghentikan amukan Emak kepada kedua sejoli itu, justru kebanyakan mereka menyoraki dan bertepuk tangan, seolah mereka mendapatkan hiburan gratis di tengah penderitaan kedua pasangan yang telah berbuat dosa ini.
"Cukup Mak ampun! Jangan pukul kang Anton! Pukul Euis saja Mak! " Euis berusaha menghalangi amukan Emak kepada kekasihnya itu,
"Kamu mau aku pukul juga Euis!" Ujar emak sambil mengangkat tinggi-tinggi sendal itu untuk bersiap memukul Euis, tapi pak RT sigap mengentikan aksi Emak itu.
"Sudah cukup Mak! Sekarang lebih baik kita bicarakan baik-baik persoalan ini, kita tidak boleh main hakim sendiri, sebaiknya kita selesaikan masalah ini dengan segera," ucap pak RT berusaha bijak,
"Saya kesal pak RT! Saya malu!" Teriak Emak menangis.
"Iya, saya paham sama perasaan Emak, tapi tetap saja kita harus bisa berpikir bijak, semua sudah terjadi, sebaiknya kita mencari jalan keluarnya Mak" ucap pak RT lagi.
"Baiklah, tapi saya bingung harus bagaimana pak RT?" Emak terlihat sangat malu dan juga kesal bercampur aduk di hatinya.
"Saya ikut saja pak RT, bagaimana baik nya , yang penting anak saya jangan sampai di arak saja pak!" Mohon emak kepada pak RT.
"Tenang saja Mak, kami tidak akan melakukan itu, tapi itu semua tergantung keputusan si Anton!" Ujar pak RT menyerahkan keputusan kepada Anton.
"Maaf pak RT! Saya bukan tidak mau bertanggung jawab, tapi untuk sekarang saya belum bisa menikahi Euis!" Ujar Anton terbata, karena dia memang bingung, bagaimana mau menikahi Euis sekarang, sedangkan uang di kantong saja hanya ada dua puluh ribu.
Warga pun bersorak menyoraki ucapan Anton, mereka mengatakan Anton mau lari dari tanggung jawab,! padahal bukan itu maksud Anton, justru Anton merasa senang jika dia menikah dengan Euis, tapi dia belum mempunyai bekal apapun, dia malu mengakui jika dirinya sekarang tidak memiliki uang untuk menikahi Euis, dia takut di tertawakan oleh warga,
__ADS_1
"Kamu mau lepas dari tanggung jawab!" Emak maju bersiap memukul Anton kembali, sementara Euis langsung menangis patah hati, dia pun mengira Anton menolak menikahinya.
"Bukan itu Mak!, Saya siap menikah dengan Euis sekarang juga! Tapi sejujurnya saya tidak memiliki uang untuk menikah sekarang!" Ujar Anton sambil tangan nya berusaha melindungi kepalanya dari amukan sendal yang emak pegang.
"Haha.. modal dengkul dong!" Teriak salah satu warga yang berjenis perempuan,
"Modal kolor doang!" Timpal yang lain nya, dan berakhir riuh oleh tertawaan warga.
Wajah emak dan Euis langsung panas menahan malu, sementara Anton langsung tertunduk lesu, dirinya sudah pasrah jika di hina sekarang, lebih baik di tertawakan warga saja dari pada terkena pukulan sendal emak, karena harga dirinya akan merasa jatuh jika dirinya di pukul sendal oleh perempuan.
"Jadi bagaiman keputusan emak sekarang? Dia sudah bilang jika sekarang dia tidak punya uang Mak!" Tanya pak RT.
Emak tidak langsung menjawab ucapan pak RT, tapi dia langsung bertanya kepada Euis dan Anton.
"Kamu mau nikah sama dia Euis?" Tanya emak kepada anaknya.
"Ma.. mau.. Mak." Jawab Euis pelan.
Kamu bagaimana Anton!?" Emak beralih bertanya kepada Anton.
"Saya juga mau Mak!" Tegas Anton.
__ADS_1
"Kamu punya uang berapa?" Tanya emak lagi.
"Aku punya dua puluh ribu Mak!" Anton menjawab pertanyaan emak pelan, karena dia malu mengatakan jika di sakunya hanya ada yang dua puluh ribu.