Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
akhirnya resmi bercerai


__ADS_3

"Benar tuh kata si Entis! Tidak usahlah kita ngambil resiko yang terlalu berat! Cukup kita memberi efek jera saja pada mereka, besok kita bergerak tis!" Si Gandi membenarkan penolakan Entis, dia sendiri tidak ingin jika harus menghilangkan nya-wa seseorang,


Akhirnya mereka pun membahas rencana jahat mereka dengan serius di dalam basecamp itu, enam orang lelaki beragajul yang berada dalam ruangan itu asik membuat skenario.


Hingga keesokan harinya Entis bangun pagi-pagi dan langsung pulang ke rumah emak, semalam dia tidur di basecamp dengan kawan-kawan nya, pagi ini Entis berencana menghadiri sidang akhir perceraian dirinya dengan Asti, maka nya Entis pagi sekali pulang ke rumah ibunya.


"Mak! Hari ini antarin aku ke pengadilan ya." Ucap Entis kepada ibunya yang sedang asik mencuci piring di dapur,


"Kamu masuk rumah itu salam dulu kenapa tis! Datang-datang mengagetkan orang saja!" Emak yang memang kaget mendengar suara Entis yang tiba-tiba datang dari belakang tubuhnya merasa kesal.


"Iya maaf! Tapi emak jadi kan ikut aku?" Harap Entis kepada ibunya.


"Iya, sana kamu mandi dulu!" Jawab emak.


Entis pun segera mandi, dan setelah mandi Entis duduk manis di depan meja makan.


"Kang mana kunci motor ku?" Euis yang baru keluar dari kamarnya langsung menodong kakak nya untuk meminta kunci motor yang sudah beberapa hari ini motornya di pake Entis.


"Hari ini aku mau pakai motor kamu lagi is, aku mau ke pengadilan," Entis tidak mau memberikan kunci motor adiknya itu, karena dia memang masih membutuhkan nya.


"Naik angkot saja lah kang! Aku malas harus pesan ojek online terus, boros kang, pokok nya aku minta kunci motorku sekarang!" Euis kukuh minta kunci motor nya, dia tidak ingin terus mengalah.


"Oh jadi gitu! Ya sudah aku akan kasihkan kamu kunci motor ini, tapi aku yakin kamu sekarang juga kena pukul Emak karena akang akan ngasih tahu kelakuan kamu tempo hari sama si Umar!" Bisik Entis kepada adiknya, Entis mengancam adiknya sambil tersenyum licik, kontan Euis membelalakkan matanya dan menggelengkan kepala tanda melarang Entis untuk memberitahukan rahasia itu kepada ibunya.


"Nah makanya, biar akang pakai dulu motor kamu ya, sekalian akang minjam uang bensin seratus ribu!" Euis seketika melotot melihat kakak nya karena kesal, Euis pun langsung menghentakan kakinya karena emosi.

__ADS_1


Entis terkekeh sambil memainkan alisnya dan tersenyum penuh kemenangan, Euis terpaksa mengambil seratus ribu dari dompetnya dan menyerahkan kepada kakaknya, lalu Euis pergi hendak berangkat kerja, saking emosinya hingga dia lupa sarapan pagi.


"Si Euis mana tis?!" Emak nongol dari dapur sambil membawa kerupuk di dalam toples yang baru saja dia goreng.


"Sudah berangkat!" Jawab Entis cuek sambil terus makan.


"Loh kok gak sarapan dulu dia?!" Tanya Emak heran kepada Entis, sedangkan Entis hanya menggedikan bahunya tanpa menjawab.


***


Siang ini di pengadilan agama ,Persidangan perceraian sudah usai di gelar, walau sekeras apapun Entis menolak perceraian ini tapi kenyataan nya tetap saja pahit, kini Entis dan Asti sudah resmi berpisah, dan Entis pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya bisa pasrah.


"Selamat ya as, akhirnya kamu terbebas dari lelaki brengs*k itu!" Ayu sahabat Asti yang ikut menemani Asti mengucapkan selamat,


"Iy semoga saja mereka berhenti mengganggu aku" ucap Asti penuh harap.


Baru saja di bicarakan tiba-tiba Entis terlihat oleh mereka sedang berjalan menghampiri Asti dan rombongan.


"Asti! Kita perlu bicara!" Ucap Entis sambil mengulurkan tangan nya untuk menarik tangan Asti, kontan saja Asti mengepiskan tangan Entis dengan kasar.


"Apaan sih kang! Jangan asal tarik saja! Kita ini sudah bukan siapa-siapa lagi! Jadi jangan sembarangan pegeng-pegang!" Sewot Asti kesal.


"Asti akan mau rujuk sama kamu! Kita masih bisa menyelesaikan ini baik-baik, akang akan ceraikan Tuti, dan kita hidup bahagia berdua, akang janji as!" Entis memohon tanpa rasa malu.


"Tidak kang, sebaik nya akang pulang saja ,aku ikhlas akang menikah sama Tuti, Asti malah sangat berterima kasih kepada Tuti karena mau menikah dengan akang, jadi Asti harap , akang jangan sakiti Tuti!" Ucap Asti, sekarang memang Asti tidak merasa sakit hati kepada Tuti, justru dengan adanya Tuti, dia bisa bebas dari lelaki benalu ini.

__ADS_1


"Tuti sudah pergi meninggalkan akang, dia kabur entah kemana! Akang juga tidak perduli dia mau kabur kemana, yang ada di pikiran akang sekarang hanya kamu as!" Kali ini Entis memang sedang tidak membuka, dia jujur sering teringat Asti, dia tidak ingin kehilangan Asti.


"As ayo pergi, sopir ku sudah nunggu tuh!" Ayu segera narik tangan Asti, ibu pun segera berjalan sambil menggandeng tangan anak nya, tanpa bicara atau pun menyapa Entis.


"Hei tunggu!" Emak terlihat sedang berlari ke arah mereka, Emak baru keluar dari kamar mandi karena tadi seusai sidang Emak kebelet sakit perut.


"Tis ngapain kamu masih ngobrol sama mereka! Sudah lah kamu tidak usah lagi mengharapkan wanita kurang @jar ini!" baru saja sampai Emak langsung mengomel.


Asti segera berlalu dari sana dan di ikuti ayu dan ibu tanpa pedulikan lagi mantan mertuanya itu.


"Dasar mantu durhaka!" Teriak emak meneriaki Asti, tapi Asti cuek saja pur-pura tidak mendengar, karena dia tidak merasa jadi menantu Emak lagi.


"Baiklah kalau begitu as! Kamu yang minta aku bertindak lebih! Aku akan terus berusaha agar kamu tetap menjadi milik ku!" Teriak Entis emosi.


Asti sedikit gentar mendengar ancaman Entis, tapi dia segera menepis kekhawatiran nya itu, Entis pasti hanya menggertak nya saja.


"Jangan dengerin mereka as! Kita langsung pulang saja jangan meladeni mereka lagi!" Ucap ibu sambil mengeratkan genggaman tangan nya di jemari Asti, Asti tersenyum sambil mengangguk.


Setelah sampai rumah, ayu langsung bergabung ke dapur bersama ibu untuk menyiapkan makan siang, sedangkan Asti masuk kamar karena merasa sakit kepala, hari ini Asti memang ijin tidak masuk kerja karena Asti harus menghadiri persidangan perceraian itu, sedangkan ayu memang sedang mengambil cuti selama dua hari, karena dia merasa tidak ada jadwal kemana mana selama cuti, maka ayu memutuskan untuk ikut ke persidangan Asti, dan ingin bermain di rumah Asti seharian ini.


"Sopir nak ayu kenapa langsung di suruh pulang? Padahal kan dia belum makan masakan ibu." Ibu bicara kepada ayu sambil mengupas buah yang akan di hidangkan di meja makan untuk pencuci mulut.


"Tidak usah buk, biar saja, dia juga harus segera ke kantor Abang ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan katanya." Jawab ayu sambil menata buah di atas piring yang sudah di potong ibu.


"Oh, ya sudah kalau begitu nak ayu nginap saja di sini!"

__ADS_1


__ADS_2