
"Mak, barusan siapa yang antar emak pulang? Kayaknya bukan taksi online ya Mak,? Soalnya mobilnya bagus." Tanya Anton penasaran.
"Memang bukan taksi, itu sopir si Yoga," jawab Emak sambil melangkah keluar rumah, dia bermaksud pergi ke warung,
Anton sebenarnya penasaran kantong yang di bawa emak tadi, Anton pikir itu makanan tapi ternyata kantong hitam itu di bawa ke dapur, tapi ternyata di bawa ke kamarnya, Anton curiga, jika yang di bawa emak itu uang dari keluarga Asti, Anton ingin sekali bertanya, tapi tidak berani.
"Kang, ngapain bengong!?" Tiba-tiba Euis sudah berada di dalam rumah tanpa mengucapkan salam, Euis melihat Anton terbengong sambil menatap ke ruang tengah yang di mana di sana dekat kamar Emak.
"Ih ngagetin aja neng, kok pulang sore pulang nya neng?" Tanya Anton.
"Iya langsung kerja tadi, aku sekarang kerja di toko sepatu kang."
"Oh, syukur neng, berarti kita tidak akan kesulitan uang ya jika Eneng kerja ya."
"Insya Allah kang, semoga saja Eneng betah kerja di sana ya."
"Harus betah dong neng, nanti jika Eneng gak kerja, gimana nasib rumah tangga kita ini, sedangkan akang itu jangan terlalu di harapkan bisa kerja berat neng, penyakit akang suka kambuh jika kerja berat." Anton memasang wajah memelas ketika bicara seperti itu.
"Iya kang, Eneng akan mencoba bertahan kerja di sana, demi akang." Ujar Euis sambil tersenyum manja.
"Dan demi anak akang juga dong neng, anak akang kan sudah jadi anak Eneng juga, jadi dia itu anak kita." Ujar Anton sambil tertawa, tapi Euis hanya diam tidak merespon lagi ucapan terakhir suaminya.
"Oh iya neng, si Dina anak akang itu tadi telpon akang, dia minta di belikan sepeda plastik sama akang, tapi akang belum bisa belikan dia, kasihan dia nangis di telpon neng." Hiba Anton minta di kasihani anaknya oleh Euis.
__ADS_1
"Emang anak akang umurnya berapa tahun?" Euis yang memang tidak tahu anak Anton merasa penasaran juga dengan usia si anak.
"Baru umur lima tahun neng, dia tadi minta sepeda, tapi akang tidak punya uang, terus menangis deh! Akang sedih neng, gimana kalau akang pinjam uang Eneng dulu satu juta, nanti akang bayar kalau akang sudah dapat kerja." Anton mencoba meminjam uang kepada Euis, dia berharap istrinya mau memberinya.
"Banyak amat kang sejuta?! Memang nya sepeda berapa?"
"Kata mantan istri akang cuma enam ratus ribu neng,"
"Kalau sepeda enam ratus ribu kenapa minjam nya sejuta kang?"
"Iya kan buat pegangan akang jika si Dina minta apa-apa akang ada pegangan, jika tidak ada nanti malu lah sama keluarga mantan istri akang, nanti di katakan nya akang punya istri baru tapi miskin! Akang tidak ingin istri akang yang cantik ini di hina! akang sudah lama tidak pernah ngasih nafkah sama anak akang karena akang sakit, tapi sekarang kan akang sudah punya istri yang mau membantu kesulitan akang," dengan enteng nya Anton bicara seperti itu tanpa memikirkan perasaan Euis, tapi Euis juga tidak bisa marah karena cinta nya kepada Anton menahan segala rasa kesal menjadi rasa kasihan dan tidak tega.
"Kirain Eneng sisanya buat mantan istri akang?!" Ujar Euis cemberut.
"Tapi kang, uang Eneng di ATM sisa dua juta, tadi Eneng ambil uang satu juta buat pegangan kita, ini sisa tinggal delapan ratus ribu, buat jatah akang beli roko setiap hari sama ongkos Eneng kerja di toko." Ujar Euis menjelaskan sisa uang yang di milikinya.
"Ya sudah ambil saja uang di ATM satu juta itu, yang yang di tangan Eneng pegang saja sama Eneng, nanti itu buat jatah akang sehari-hari, siapa tahu nanti ATM Eneng bisa nambah lagi uang nya jika Eneng sudah gajihan nanti."
"Ya sudah kang, besok kita ambil uang nya, sekarang kita makan dulu yuk, Eneng pengen makan di luar, kita beli ayam bakar yuk kang." Ajak Euis kepada suaminya.
"Ayo dong neng, akang mah suami siaga! Sekarang juga akang akan mengantar Eneng makan di mana pun Eneng suka, tapi akang cuma ngantar saja ya, masalahnya akang tidak punya uang!" Ujar Anton sambil cengengesan,
"Iya Euis tahu kang, biar Euis yang bayarin nanti." Ujar Euis tersenyum senang, karena suaminya mau menuruti keinginannya makan di luar, dirinya tidak perduli jika harus mengeluarkan uang sendiri , yang penting suaminya selalu berada di dekatnya, Euis sudah merasa bahagia.
__ADS_1
"Ayo neng kita berangkat sekarang, nanti ambilkan uang di ATM yang satu juta sekalian ya neng."
"Iya kang, ayo kang berangkat." Ujar Euis sambil menggamit tangan suaminya dan menggandeng keluar untuk menaiki motornya.
"Mau kemana is? Kamu baru juga pulang sudah mau pergi lagi!" Emak yang baru saja pulang dari warung langsung bertanya kepada anak nya
"Mau cari makan di luar Mak," jawab Euis.
"Oh, ya sudah nanti belikan emak juga ya."
"Iya Mak." Jawab Euis singkat, lantas dia naik ke boncengan motor yang di kendarai suaminya, mereka pun meluncur ke jalan raya untuk mencari makan dan juga mengambil uang dua ATM untuk Anton.
***
Rosi kini mengamuk di dalam kamar nya, dia kesal karena Yoga susah untuk dia dekati, Rosi yakin jika perempuan yang berada di rumah yoga itu penghalang dirinya, Rosi merasa cemburu kepada Asti, piling nya sangat kuat jika Asti perempuan yang akan menjadi penghalang antara dirinya dan Yoga.
'aku harus cari tahu siapa perempuan itu!' batin Rosi sambil menatap tajam pantulan dirinya sendiri di kaca rias kamarnya.
"Rosi! Sudah jangan menghancurkan barang di kamar mu lagi! Ayo kita cari solusi untuk kamu bisa mendekati yoga." Pak Toni mencoba membujuk anak perempuan nya untuk tidak menghancurkan barang lagi.
Rosi tidak mau menjawab ucapan ayahnya, dia masih diam mematung sambil menangisi nasib dirinya yang sangat sial, dia tidak bisa menerima kenyataan jika dirinya sudah terbuang dari semua lelaki kaya yang pernah menggilai dirinya.
Terutama Rosi ingin Yoga kembali dalam pelukan nya, Rosi masih berharap jika Yoga masih seperti yang dulu, Yoga yang sangat mencintai dirinya dan juga mau melakukan apa saja demi kebahagiaan nya, Rosi kini terpuruk jatuh dalam rasa penyesalan, menyesal pernah membuang berlian hanya untuk mendapatkan emas imitasi, walau pun Ronal seorang lelaki kaya raya, tapi semua percuma, karena kemewahan yang di berikan Ronal hanya lah ilusi, dia hanya menikmati sesaat tanpa bisa memiliki, Rosi kesal jika mengingat dirinya di usir dari kediaman mewahnya hanya karena Ronal sudah memiliki mainan baru, yaitu perempuan yang lebih cantik dan juga lebih muda dari Rosi,
__ADS_1
Rosi menonjok kaca riasnya dengan tinju nya hingga mengakibatkan kaca itu menancap di jarinya dan membuat luka , darah pun menetes dari sela-sela jari lentik Rosi, suara pecahan kaca membuat Toni kaget,