Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Euis bingung


__ADS_3

Ayu melirik wajah Asti yang terlihat sedikit kecewa di wajahnya setelah dia mendengar telpon dari yoga, wajah ceria yang tadi tergambar di wajah Asti kini berganti dengan mendung.


"Ok bang aku tunggu di kantor ya," jawab ayu.


"Ya sudah yu kamu tunggu di kantor saya, tapi Abang tidak bisa janji ya untuk bisa ketemu kamu di kantor, masalahnya urusan Abang ini sangat penting dan memakan waktu lama yu, Abang tidak bisa memprediksi selesai nya sampai jam berapa."


"Ya sudah jika Abang memang tidak ketemu aku tidak masalah, aku ke kantor Abang juga ada urusan lain kok." Jawab ayu .


"Ok kalau gitu Abang tutup telpon nya ya, Abang lagi di jalan nih." Ujar Yoga mengakhiri pembicaraan.


"Ok" jawab ayu singkat, telpon pun di tutup.


Sejujurnya jantung Asti berdetak kencang ketika mendengar suara Yoga, ingin sekali Asti tadi berteriak mengatakan kepada Yoga jika dirinya sekarang bersama Ayu sedang menuju kantor nya, tapi apa daya rasa gengsi asti tidak bisa di abaikan, asti sedikit kecewa kepada ayu karena dia tidak memberi tahukan abangnya jika Ayu sekarang bersama dirinya.


"As sudah sampai woy kelewat itu kantor Abang gua!" Tiba-tiba ayu membuyarkan lamunan Asti karena memang mereka sudah sampai di kantor Yoga, tapi Asti tidak menyadari nya hingga mobil yang dia kemudikan melewati kantor Yoga.


"Lo kenapa gak bilang sih yu!?" Omel Asti.


"Lah lu yang melamun gua yang di omelin! Makanya jangan melamun Mulu lu as nanti kesambet hantu vampir baru tahu kamu!" Sewot Ayu pura-pura marah pada sahabatnya ini.


"Iya maaf, tinggal putar balik saja kan gampang gak usah sewot kali!" Ujar Asti sebal, sementara ayu cuma mesem melihat tingkah ayu.


Akhirnya Ayu dan Asti tiba di dalam kantor, mereka sekarang sudah berdiri di depan pintu ruangan Yoga, Ayu lantas membuka pintu ruangan itu dan mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


***


Kita ceritakan kembali tentang Euis yang kini sedang gelisah karena sudah dua hari semenjak Anton pergi setelah menendang kursi yang sedang di duduki Euis waktu itu hingga kini belum kembali, sudah dua hari ini Anton menghilang membuat Euis uring-uringan, rasa marah dan kesal Euis kepada Anton kini sudah hilang berganti rasa cemas karena suaminya menghilang begitu saja tanpa kabar berita, bahkan hapenya saja tidak aktif semenjak Anton menghilang,


Sementara emak kini sudah mulai membuka warung barunya hingga emak tidak begitu memperhatikan anak dan menantunya, emak sibuk dengan warungnya itu yang lumayan sedikit ramai.


Malam Euis berada di kamar sedang menangis karena nomor Anton tidak bisa di hubungi , Euis ingin mencari Anton, tapi Euis tidak tahu harus mencari kemana,


Emak tidak tahu jika anaknya sedang dalam keadaan gelisah, warung emak sudah tutup dan emak sepertinya sudah tidur di kamarnya karena kelelahan seharian melayani pembeli.


Di saat Euis sedang menangis tiba-tiba kamar Euis terbuka, di pintu kamar muncul lelaki yang sedang di pikirkan Euis saat ini, siapa lagi kalau bukan Anton, Anton masuk ke kamar dengan mulut masih bau alkohol, ternyata Anton pulang dengan kondisi mabuk.


"Kang, dari mana saja kamu kang?" Tanya Euis langsung bertanya kepada suaminya itu.


"Kang, Euis harap akang jangan seperti ini, jika akang ada masalah lebih baik kita bicarakan baik-baik kang, Euis khawatir sama akang!" Ujar Euis penuh perhatian.


"Jika kamu ingin akang seperti dulu lagi, akang harap kamu mau mengabulkan permintaan akang,! Akang hanya ingin kamu meminta hak kamu sama emak, kamu itu punya hak minta uang sebanyak dua puluh lima juta is!" Bentak Anton.


"Kang Euis mohon akang mengerti, Euis tidak mau bikin emak marah kang!" Ucap Euis memelas.


"Oh jadi kamu lebih memikirkan emak dari pada suami kamu! Seharusnya kamu mikirin bagai mana caranya suami kamu ini tidak marah! Tapi kamu lebih takut emak marah dari pada sama aku!" Anton semakin marah, matanya hampir keluar karna melotot.


"Bukan begitu kang! Uang itu sudah habis di bikin modal usaha emak! Tolong mengerti kang!" Rengek Euis karena bingung.

__ADS_1


"Akang tidak mau tahu bagai mana caranya uang itu harus ada Minggu ini, akang ingin kita pergi berlibur dalam waktu dekat ini!, Pokoknya abang ingin uang itu ada di tangan akang dengan segera!" Ujar Anton sambil memejamkan matanya untuk tidur.


Euis hanya bisa mengenakan kakinya tanpa menjawab lagi ucapan suaminya,


"Kang, sebenarnya aku ingin memberi kabar berita penting sama akang, tapi akang pulang-pulang marah-marah saja, Euis jadi takut untuk memberikan kabar gembira ini!" Ujar Euis sambil memainkan jarinya menunggu jawaban suaminya.


Anton yang sedang pura-pura tidur pun langsung membuka matanya, dirinya jadi penasaran dengan ucapan Euis, Anton berharap Euis akan memberikan kabar gembira itu menyangkut tentang uang yang dia minta, Anton berharap jika uang itu sudah ada di tangan Euis sekarang, dan Euis memberikan kejutan ini dengan berpura-pura tidak berhasil meminta uang kepada emak.


"Berita bahagia apa!?" Ujar Anton sambil berusaha duduk.


"Itu.. emh.. akang akan.... Akan menjadi seorang ayah, maksudnya aku hamil kang" ujar Euis sambil tersenyum bahagia, tapi setelah dia selesai memberikan kabar bahagia itu ternyata sikap Anton di luar ekspektasi Euis, Euis berharap Anton akan bahagia dan membopong dirinya dengan bahagia seperti film-film India yang sering dia tonton, tapi wajah Anton itu justru datar saja tanpa ekspresi apapun, jangan kan membopong dirinya, senyum di wajah nya pun tidak ada.


"Kang.. apa akang tidak bahagia?" Tanya Euis sedih.


"Akang kira kabar bahagia itu menyangkut uang emak, tapi kamu justru memberi akang kabar yang membingungkan! Bagai mana caranya akang bahagia mendengar kabar ini, sementara akang sendiri belum bekerja, padahal jika Eneng kasih akang uang dua puluh lima juta itu akang punya rencana untuk membuka usaha baru, sisa uang liburan kita itu akan akang buat modal usaha membuka lapak di pasar, akang ingin berjualan juga di pasar, tapi sayangnya istri akang yang Seharusnya mendukung akang, malah tidak mau mengusahakan nya! "


Anton mengemukakan Kekesalan nya, dia ingin Euis mengabulkan keinginan nya walau bagai mana caranya dia tidak perduli.


"Bukan begitu kang! Euis ingin akang juga punya usaha! Tapi..." Euis tidak meneruskan ucapan nya, karena tangisnya pecah lebih dulu, dirinya sedih dengan ucapan suaminya, bahkan Anton sendiri tidak merespon kehamilan nya ini, dia lebih mementingkan uang di banding anak yang di kandung Euis.


Euis tidak bicara apa-apa lagi, dirinya langsung lari ke luar kamar dan masuk ke kamar mandi, Euis menangis di kamarandi sambil mengucurkan keran Bak kamar mandi, agar tangisnya tidak terdengar oleh emak.


Euis bingung dengan sikap suaminya ini, padahal selama ini Euis sudah memanjakan Anton, uang belanja dan rokok dia yang memberikan, bahkan Anton sendiri tidak pernah memberikan nafkah kepadanya, tapi kenapa Anton bersikap seperti itu!

__ADS_1


__ADS_2