Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
takut


__ADS_3

"Rosi! Buka pintunya!" Teriak Toni dari depan pintu kamar anaknya tapi Rosi tidak menjawab panggilan ayahnya, Rosi larut dalam kesedihan, dia pun teriak histeris dan menangis.


Toni segera mendobrak pintu kamar anaknya dengan susah payah, pintu itu tidak terbuka walau Toni sudah menendang dan menubruk pintu itu, pikiran Toni di penuhi hal-hal negatif, dia takut anaknya menghabisi dirinya sendiri.


Setelah sekian lama dia berusaha mendobrak pintu kamar, akhirnya pintu pun terbuka , Toni melihat anaknya menangis di depan meja rias yang kacanya sudah hancur, sementara darah menetes terus dari tangan anaknya, Toni panik lantas menghambur memeluk anaknya,


"Sudah ros jangan menangis, seharusnya kamu tidak boleh melakukan hal seperti ini! Kamu itu cantik Ros! Kamu bisa mencari pria yang lebih segalanya dari Yoga, ayah yakin kamu pasti bisa bangkit kembali dan bisa menjadi wanita yang paling beruntung." Toni menyemangati anaknya supaya tidak prustasi, dirinya tidak rela melihat anak nya terpuruk seperti ini,


"Aku hancur yah, aku hancur!" Teriak Rosi histeris, Toni memeluk erat anaknya ,dirinya sedih melihat anak perempuan yang dia banggakan selama ini, kini histeris karena menerima kegagalan,


"Ini hanya sementara Ros, jangan takut ya, besok kamu pasti akan lebih sukses dari kemarin lagi, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, badan kamu panas?!" Ujar Toni baru menyadari jika Rosi sakit,


Sebenarnya dari kemarin tubuh Rosi memang sedikit demam, tapi Rosi tidak menghiraukan keadaan sakitnya itu, dirinya menganggap bahwa itu hanya sakit biasa yang jika minum obat demam pun akan segera hilang, tapi sekarang keadaan tubuhnya sedikit berbeda, tulang-tulang persendian nya sangat terasa ngilu dan sakit, Rosa melepaskan pelukan ayahnya karena dirinya merasa sangat kesakitan.


Kening Rosi mengernyit menahan sakit, Toni tidak sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Yah, aku ingin tidur" bisik Rosi kepada ayahnya, dua merasa tidak memiliki tenaga, bahkan untuk bicara saja dia merasa sangat lelah hingga malas mengeluarkan suara keras.


"Iya Ros, ayah akan memapah kamu ke atas kasur." Toni pun memapah anaknya hingga Rosi berbaring di atas kasur, setelah di anggap Rosi sudah mulai tenang, ayah Rosi pun segera keluar kamar, pak Toni mencari kain untuk membalut luka di tangan anaknya, setelah itu dia pergi menggunakan ojek untuk ke apotik.


Setelah kepergian ayahnya, Rosi merasakan sakit di tenggorokan , bahkan untuk menelan ludah pun dia merasa kesulitan, sudah beberapa hari ini daerah ******** nya timbul ruam dan membuat gatal yang teramat sangat, Rosi, pun akhir-akhir ini mengalami pilek, tapi Rosi tidak memperdulikan kondisi pisiknya ini, dia lebih perduli dengan ambisinya yang ingin menjadi nyonya Yoga kembali, tapi sekarang Rosi mulai khawatir dengan kondisi pisiknya, masalahnya Rosi curiga jika dirinya mengidap penyakit menakutkan, tapi segera kekhawatiran itu dia hapus dari pikiran nya, dia merasa tidak akan mungkin jika dirinya terkena penyakit kel@min, Rosi tidak pernah merasa sering berganti pasangan, dirinya hanya pernah melakukan hubungan badan hanya dengan Yoga dan juga Ronal.


Ada rasa ingin memeriksakan diri ke dokter, tapi rasa malu dan takut mengalahkan segalanya, Rosi hanya bisa berharap dan berdoa saja agar dirinya hanya mengalami demam biasa saja.


Sementara Toni ayah Rosi kini dirinya keluar rumah untuk pergi ke apotik, dia membeli obat demam untuk anaknya, Toni begitu menghawatirkan keadaan anaknya itu, Toni memang sangat menyayangi Rosi.


Setelah sampai rumah, Toni segera masuk ke dalam kamar anak nya, tangan Rosi yang di balut kain di bukanya, lantas dirinya memberi obat luka dan juga perban, sementara Rosi hanya diam saja, matanya menatap langit-langit kamar, air matanya juga tidak henti menetes di pipi putihnya.


"Sabar Ros, kamu harus bangkit lagi ya nak, jangan sedih, cepat sehat dong Ros, kita nanti bikin rencana baru untuk bisa mencuri hati si Yoga lagi ya, sekarang kamu sehatkan dulu badan nya, ini bapak belikan bubur ayam, kamu makan dulu ya, setelah itu kamu minum obat demam." Ujar pak Toni, Rosi tidak menjawab, dia hanya menggeleng lemah.


"Ayo lah Ros, jangan bikin bapak sedih, dengan kamu bersikap seperti ini, bapak jadi tidak tahan menahan kesedihan nak." Lirih pak Toni dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Rosi tidak merespon ucapan ayahnya, dirinya masih larut dengan rasa kecewa, sedih dan juga takut, takut akan terinfeksi penyakit mematikan.


"Yah, aku mau tidur dulu, nanti bangun tidur, aku janji akan makan obat itu." Akhirnya Rosi membuka juga mulutnya untuk berbicara dengan ayahnya,


"Ya sudah, kamu tidur dulu, nanti setelah bangun ayah akan suapin kamu makan ya nak."


"Iya yah, terimakasih sudah mau menyayangi aku ya yah." Lirih Rosi.


"Ya pastinya ayah akan selalu menyayangi kamu dong Ros, kamu itu permata hati ayah, ayah akan melakukan apa saja asal kamu bahagia,"


"Iya yah, Rosi percaya," ujar Rosi sambil tersenyum ke arah sang ayah, Toni pun akhirnya meninggalkan Rosi sendirian di kamarnya untuk istirahat, dia lantas ke luar sambil merenungi nasib yang terjadi kepada dirinya akhir-akhir ini, dan ketika dirinya teringat akan nasib teman nya yang dia begal waktu itu, hati pak Toni langsung gemetar, rasa takut itu langsung menyelusup di relung hatinya, dirinya sangat gelisah, pak Toni mengira jika pak Parman yang bukan lain adalah ayah nya Asti itu meninggal di jurang, dirinya tidak tahu jika pak Parman sekarang baik-baik saja.


Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena telah terpengaruh Anton untuk merampok seseorang untuk kesenangan sesaat, waktu itu pak Anton terpaksa merampok karena ingin membuat anaknya senang, Rosi baru saja di usir oleh Ronal, dan sering menangis,, niat pak Toni ingin membawa anaknya untuk menghibur Rosi dan mengajak nya berlibur ke Bali, tapi apa daya dirinya tidak memiliki uang, akhirnya dirinya curhat kepada Anton, mantan anak buahnya ketika dirinya masih banyak uang dulu, Anton menyarankan untuk mencari mangsa tajir untuk di rampok, namun pak Toni menolak kala itu, tapi pertemuan pak Toni dan bapak Parman di kios milik ayah Asti itu membuat ide jahatnya muncul, akhirnya Anton dan juga Toni merencanakan lah kejahatan itu,


Pak Toni sangat menyesali kejadian itu, terkadang di dalam tidurnya pun sering terbangun karena rasa bersalah yang begitu besar telah menghabisi nyawa seseorang, pak Toni sering menangis sendiri di kala malam tiba, dirinya sangat takut di tangkap polisi, pak Toni memikirkan anaknya yang sekarang sedang terpuruk, jika dirinya di penjara nanti, bagaimana dengan nasib Rosi?! Itu terus yang selalu ada dalam pikiran pak Toni.

__ADS_1


__ADS_2