Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
adu mulut


__ADS_3

"Jangan teriak di rumahku!" Tekan ibu menahan kesal.


"Jika aku tidak boleh teriak, suruh anak mu keluar! Temui aku sekarang!" Tekan Emak dengan seringai yang membuat ibu ingin muntah.


"Kuping kamu itu masih normal kan! Sudah kukatakan jika Asti tidak ada di rumah!" Teriak ibu akhirnya habis kesabaran.


Emak tidak menanggapi ucapan ibu, dia malah berdiri dan memaksa masuk ke dalam rumah ibu.


"Jika selangkah lagi kamu masuk kerumah ini tanpa seijinku! Maka aku akan meneriaki maling kepdamu biar warga nanti yang akan mengurus mu!" Ancam ibu, emak jadi ragu untuk masuk ke dalam ruangan lain untuk mencari Asti, dirinya takut juga di teriaki maling, karena posisinya dia di sini memang hanya tamu, tapi Emak tidak kehilangan akal, dia pun mulai menarik nafas siap berteriak memanggil Asti.


"Asti! Asti! Keluar kamu! Jika kamu tidak keluar aku sumpahi kamu biar di ganggu setan Entis!" Teriak Emak dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan rumah ibu.


Ibu kesal melihat sikap mantan besan nya ini, ibu langsung saja menarik baju emak untuk mengusirnya dari rumah, hingga emak tidak terima dengan perlakuan ibu dan dia pun melawan, mereka saling tarik baju dan berakhir tarik-tarikan rambut hingga terdengar jerit dari mulut keduanya, tetangga yang tadi sempat kepo mengintip ke rumah Asti dari pintu pagar pun langsung lari masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi, sebab teriakan dan jeritan mereka mengundang kekhawatiran mereka,


Beberapa ibu-ibu yang ada di depan pagar itu kini sudah berada di dalam rumah untuk memisahkan pergulatan antara ibu dan juga Emak.


Asti yang dari tadi menutup kuping merasa khawatir dengan teriakan ibu, akhirnya Asti melanggar perintah ibunya untuk tidak keluar kamar apapun yang terjadi nantinya, tapi Asti khawatir kepada ibunya maka dari itu Asti segera membuka pintu kamar, dan begitu melihat emak dan ibu sibuk saling Jambak rambut, Asti berlari untuk memisahkan mereka, berbarengan Asti keluar kamar, para tetangga pun sudah masuk berada di sana, lima orang ibu-ibu dan Asti berusaha memisahkan kedua perempuan paruh baya itu untuk menghentikan aksi mereka, ternyata cukup sulit memisahkan mereka hingga akhirnya ibu berhasil menendang tulang kering kaki Emak sampai terjengkang.

__ADS_1


Emak berteriak kesakitan, dan ibu bersiap untuk menyerang Emak kembali, tapi Asti dan dua ibu-ibu yang ada di sana segera menahan tubuh ibu, dengan sekuat tenaga mereka menahan ibu agar tidak bisa menyerang Emak yang sedang kesakitan.


"Buk sudah buk! Tenangkan pikiran ibu, istighfar buk, jangan kuasai hati ibu oleh amarah." Seorang ibu yang lebih tua dari ibu Asti menenangkan ibu.


"Buk, Asti mohon sudah jangan bertengkar lagi, ayo kita duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini!" Ujar Asti sambil menangis di pelukan ibunya.


"Hei Asti! Ini semua gara-gara kamu! Dasar menantu pembawa sial! Lihat aku dan ibumu jadi bertengkar karena ulahmu!" Teriak Emak memarahi Asti, dan Emak menyalahkan Asti Atas kejadian ini.


"Enak saja kamu menyalahkan anak ku! Yang membuat kegaduhan ini semua karena kamu sendiri! Kamu lah pembawa sial di kehidupan kami!" Ujar ibu kembali marah, padahal tadi emosi ibu sudah sedikit mereda, tapi begitu mendengar ocehan Emak kepada anak nya, emosi ibu kembali naik.


Akhirnya semua orang duduk di ruang tamu, Emak dan ibu duduknya di jauhkan agar tidak saling Jambak lagi, Asti duduk di sebelah ibu , wajah Asti terlihat kusut seperti menyimpan beban berat.


"Sebenarnya ada apa ini ibu-ibu!? Mohon maaf jika saya ikut campur, tapi menurut saya apa pun persoalan ibu-ibu ini sebaik nya di selesaikan dengan baik-baik, pakai kepal dingin, jangan seperti tadi." Ucap buk ustad sambil memulai pembicaraan.


"Aku ke sini mau nemuin si Asti, tapi dia malah sembunyi, dan ibunya ini ikut menyembunyikan anak nya ini, siapa yang tidak kesal dan marah kalau di bohongin! Pasti ibu-ibu di sini juga pasti kesal kan kalau di bohongi!?" Ucap Emak secara tidak langsung meminta dukungan ibu-ibu yang hadir di sana, karena memang kali ini yang berada di rumah ini ikut menyaksikan dan melerai perkelahian antara ibu dan emak adalah perempuan semuanya, jawaban dari ibu-ibu itu tidak kompak, ada yang mengiyakan ucapan emak, ada juga yang diam tanpa reaksi.


"Kamu tidak perlu meminta pembelaan kepada para tetangga saya ya! Kamu datang kesini hanya ingin membuat anak saya tertekan! Kamu bahkan mengancam anak saya di hantui setan anak mu!" Ujar ibu bicara berapi-api karena masih menahan emosi!

__ADS_1


"Ya jelas si Asti kalau tidak mau bertanggung jawab atas meninggalnya anak ku pasti di hantui setan anak ku! Tapi jika dia mau membayar ganti rugi nyawa anak ku dengan impas pastinya jiwa anak ku juga akan tenang di alam sana!" Ujar Emak tidak mau kalah! Sementara Asti hanya menunduk dan terisak mendengar ucapan Emak, batin nya bergejolak antara merasa bersalah dan juga rasa takut.


"Sudah-sudah jangan berdebat lagi! Kita selesaikan masalah ibu-ibu ini dengan baik, kalau boleh tahu kronologi kejadian nya bagaimana?" Ujar buk ustad dia pusing melihat emak dan ibu masih saja bersitegang.


"Apa sebaiknya kita panggil pak RT saja buk ustad?" Tanya seorang ibu tetangga Asti."


"Buat apa kalian bawa-bawa RT segala! Aku kesini cuma berurusan dengan keluarga ini! Saya tidak punya waktu banyak untuk menerangkan masalah ini! Saya datang kesini mau menagih janji si Asti untuk membayar ganti rugi!" Ujar Emak menolak usulan untuk memanggil pak RT.


"Memangnya siapa yang janji sama kamu! Anak ku tidak pernah mengucapkan janji itu!? Waktu itu kamu sendiri yang memberi waktu kepada anak ku untuk membayar ganti rugi yang tidak jelas juntrungan nya itu tanpa meminta persetujuan anak ku!" Ucap ibu semakin tersulut emosi.


"Memangnya dia minta ganti rugi berapa Asti?" Ucap buk Ijah tukang lotek tetangga Asti.


"Seratus juta!" Ucap emak lantang, kontan semua ibu-ibu itu terperanjat kaget mendengar nominal yang di sebutkan Emak.


"Seratus juta?!" Buk Ijah mengulang ucapan Emak dengan kaget.


"Iya seratus juta! Kamu tidak budeg kan! Makanya aku datang kesini cuma mau meminta hak saya! Tapi mereka malah mau lepas dari 5anggung jawab!" Ucap emak seolah-olah persoalan seratus juta itu memang wajib di setujui dan di bayar oleh keluarga Asti! Tentu itu membuat ibu semakin meradang, sementara Asti hanya bisa terisak karena bingung.

__ADS_1


__ADS_2