Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Diskusi


__ADS_3

Akhirnya aku sampai juga di rumah ibu, rumah orang tuaku lampunya sudah padam semuanya kecuali lampu teras rumah, itu tandanya semua orang sudan tidur.


Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tidak lama menunggu, lampu tengah pun menyala, pertanda ada yang bangun, pintu pun di buka dan muncul wajah ibu dengan raut khawatir.


"Asti, kamu ga apa-apa kan nak?, Sama siapa kesini malam-malam?" 


Ibu celingukan melihat keluar.


"Asti sendiri buk," 


Aku pun menyeret koper masuk kedalam, ibu pun membantu menariknya, dan tidak bertanya lagi.


"Ibu bikinkan teh manis ya," 


"Gak usah buk, Asti cuma mau istirahat saja."


"Ya sudah atuh, kamu tidur aja ya, biar besok aja ceritanya"


Ibu tersenyum sambil mengusap rambutku, aku hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamarku, kamar ini aku tempati sebelum aku menikah, sampai sekarang pun masih menjadi kamarku, semua barang di sana tidak ada yang berubah.


Lekas aku ke kamar mandi untuk membersihkan badan setelah dari tadi bolak balik di perjalanan, setelah merasa nyaman akhirnya aku pun tertidur dengan pulas.


***


Pagi ini badanku terasa sakit sekali, mungkin masuk angin, setelah shalat subuh aku tidak keluar kamar lagi, aku tertidur hingga terbangun pagi ini, aroma masakan dari dapur menguat di Indra penciumanku, tapi selera makan ku tidak ada.


Pintu kamar di ketuk dari luar, dan suara ibu terdengar memanggil.


"Teh, ibu masuk ya?"


"Iya buk, masuk saja" segera aku bangkit dari rebahan ku, lalu duduk bersandar.


"Teh, tumben gak keluar? Teteh sakit?" Tanya ibu seperti khawatir.

__ADS_1


"Iya buk, agak sedikit kurang enak badan"


"Oh, ya udah atuh sekarang sarapan dulu terus minum obat ya."


"Iya buk," aku pun akhirnya turun dari kasur, dan melangkah mengikuti ibu ke ruang makan.


"Eh ada teteh? Kapan teteh datang?" 


Umar kaget melihatku, mungkin semalam dia tidak mendengar aku pulang.


"Tadi malam mar,"


Aku menjawab pertanyaan adik ku dengan tersenyum.


"Si Entis gak ngapa-ngapain Teteh kan?!" Tanya Umar.


"Tidak kok, tadi malam teteh pengen pulang aja kesini"


Ucapku berbohong.


Sela ibu kepada Umar, bapak cuma memandangku sambil makan tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Eh... Hehe.. maaf, Umar kepo teh"


Aku tersenyum melihat tingkah Umar yang cengengesan, kamipun makan tanpa ada yang bicara, setelah selesai makan aku pamit ke kamar, ibu pun mengikuti ku ke kamar dan membawa obat, beliau lalu duduk di tepi ranjang.


"Teh, boleh bapak masuk?" Bapak berdiri di ambang pintu minta ijin untuk masuk ke kamarku.


"Boleh atuh pak, masuk lah" 


Bapak pun masuk, dan menarik kursi dari dalam meja rias, sementara aku duduk di atas kasur di sebelah ibu.


"Apa yang terjadi semalam teh?"

__ADS_1


Aku menunduk tidak berani menatap wajah bapak, ibu mengusap punggungku, dan beliau mengangguk pertanda agar aku menceritakan kejadian semalam, lalu perlahan aku menceritakan semua kejadian tadi malam kepada bapak dan ibu, bapak terlihat menahan emosi, tangan nya terkepal menahan gejolak emosi di dalam dirinya,, sementara ibu menghela nafas seperti sesak, mungkin ibu ikut kesal kepada kang Entis.


"Tingkah suamimu itu semakin kurang aj@r, saja, menurut ibu, jika kamu sudah tidak tahan lebih baik lepaskan, dari pada kamu tersiksa lahir dan batin.!" Ucap ibu tegas.


"Asti juga sudah punya pikiran ke sana buk, tapi Asti juga bingung bagaimana cara melepaskan diri dari kang Entis, Asti juga tidak tahu caranya mengajukan gugatan cerai itu harus bagai mana?"ucapku bingung.


"Sebenarnya gampang saja jika Asti mau mengajukan perceraian, bapak bisa bantu urus, tapi yang bapak khawatirkan sekarang itu kamu as, jika kamu pergi dari rumah masih dalam status istri sah si Entis, itu akan menjadi bumerang buat diri kamu nanti di pengadilan agama ." Ucap bapak lebih tenang dari tadi sewaktu mendengar ceritaku tentang kang Entis.


"Tapi pak, kang Entis itu tidak bekerja, dia juga sudah melakukan Kdrt terhadap Teteh, jadi itu bisa jadi bukti untuk menggugat nya,"ucapku


"Bapak mengerti teh tapi tetap saja buktinya belum kuat, jika suami tidak bekerja itu bukan alasan yang kuat, karena banyak sekali istri-istri yang di luaran sana bekerja menggantikan peran suami, sepertinya itu sudah bukan hal yang aneh dan kuat untuk di adukan ke pengadilan, misal si Entis nantinya di pengadilan berjanji akan bekerja gimana?"


Ucap bapak panjang lebar.


"Tapi dia sudah menampar Asti pak!"


"Teteh juga pernah menyiramkan air panas ke wajahnya, dan memukul pakai sapu, bagaiman jika dia yang melaporkan teteh balik dengan pasal kekerasan rumah tangga juga ?" Bapak memang selalu berpikir dulu sebelum melangkah, dan ini lah pikiran bapak yang bisa aku pahami, aku mengerti kemana arah pembicaraan bapak, aku harus mencari alasan dan bukti yang kuat untuk menggugat suamiku ke pengadilan agama


"Sekarang Teteh harus gimana pak?" Tanyaku kepada bapak, sedangkan ibu hanya diam, mungkin beliau juga mengerti apa yang bapak katakan.


"Kalo menurut ibu sih pak, biar saja teteh di sini, biar si Entis tau rasa di tinggalin teteh itu gimana rasanya? Lelaki tidak punya tanggung jawab begitu biarkan saja tidak perlu di urus!" Ternyata ibu masih kesal kepada kang Entis .Terlihat sekali amarah di mata ibu, bapak tersenyum melihat ibu marah.


"Menurut bapak, teteh harus selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, jika ingin berpisah segera selesaikan, bapak tidak menghalangi, bapak akan menerima teteh kembali kesini dan menjadi tanggung jawab bapak lagi, karena sampai kapan pun teteh tetap anak bapak," ucap bapak sambil mengusap kepalaku.


"Iya pak , Asti akan mencoba bersabar dulu, sampai Asti bisa mencari bukti bukti yang kuat untuk mengajukan perceraian."


Memang sepertinya aku harus bersabar dulu jika ingin mendapatkan kebebasan dari belenggu pernikahan yang sudah tidak sehat ini, aku harus bisa membuktikan bahwa pernikahan ini berakhir bukan karena kesalahan ku.


"Bapak yakin kamu paham dengan apa yang bapak bilang teh, bersabar dan berusaha, jangan lupa berdoa, semoga Allah memberi jalan keluar dari semua permasalahan hidup teteh." ujar bapak memberi petuah.


"tapi sejujurnya ibu tidak mau mengulur waktu untuk anak kita hidup satu atap dengan lelaki itu pak!, dia jahat sekali sudah berani menyakiti anak kita!, dia itu hanya suami benalu yang banyak ulah!" terlihat sekali ibu begitu membenci kang Entis, mungkin karena seorang ibu lebih peka perasaan nya ,apalagi menyangkut kebahagiaan anak.


"bapak setuju buk, tapi bapak tidak ingin citra anak kita terlihat buruk di mata orang lain, jika seorang istri pergi dari rumah tanpa seijin suami, teteh sudah dewasa makanya dia berani menikah juga berarti dia sudah bisa menghadapi segala macam cobaan hidup, bapak pesan sama kamu nak, hadapi masalah ini jangan jadi pengecut lari dari masalah, selesaikan sampai tuntas ya nak."

__ADS_1


aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapan bapak tidak menjawab.


__ADS_2