Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Asti merasa tertekan


__ADS_3

Umar sekarang sudah kembali ke rumah, kesehatan nya pun sudah mulai pulih kembali, selama Umar di rumah sakit, Asti dan ayu yang paling setia menunggu Umar di rumah sakit, sebab ibu harus mengurus bapak yang kurang sehat, asam lambung bapak sering kambuh semenjak bapak terkena musibah perampokan itu.


Sekarang ibu sudah merasa lega karena Umar sudah ada di rumah, walau kesehatan nya belum sehat total, setidak nya ibu bisa mengurus Umar dan bapak sekaligus di rumah.


"Buk, ayu pulang dulu ya, itu sopir bang yoga sudah datang." Ayu berpamitan pulang,


"Iya nak ayu, terima kasih ya sudah mau mengantar dan menjaga umar." Ucap ibu berterima kasih.


"Iya buk sama-sama."


Ayu langsung pergi setelah capaka cipiki bersama Asti dan ibu, setelah ayu berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah, ayu lantas pergi.


"Kenapa mar kok langsung bengong, di tinggal si ayu?! Tenang saja mar, besok juga dia kesini lagi!" Goda Asti kepada Umar yang memang sedang menatap keluar rumah dengan pandangan kosong karena melamun.


"Apaan sih teh, orang cuma lagi liatin bunga juga." Jawab Umar grogi.


"Haha... Iya deh, itu bunga baru mekar ya, selamat melihat deh." Kelakar asti terus menggoda adiknya sambil pergi ke kamarnya, Umar hanya bisa nyengir menanggapi ocehan kakak nya.


Ayu merebahkan tubuhnya di atas kasur karena lelah, tiba-tiba pikiran nya melayang tertuju kepada yoga, sudah beberapa hari ini yoga tidak menampakan wajah nya lagi di hadapan nya, terakhir dia melihat yoga itu sewaktu hari kematian Entis, sudah hampir satu Minggu dirinya tidak bertemu dengan yoga, ada rasa kehilangan dalam diri Asti, sebenarnya ayu sudah bilang jika kakak nya sibuk mengurus bisnis di luar pulau selama dua satu Minggu, secara mendadak dan tidak bisa berpamitan, tapi asti selalu berharap yoga pulang cepat dan datang menemuinya, tapi ketika Asti sadar jika dirinya bukan siapa-siapa yoga, Asti pun mentertawakan dirinya sendiri karena terlalu banyak berkhayal.


Tiba-tiba pintu kamar di ketuk lalu ibu membuka pintu sesaat setelah mengetuk pintu, ibu masuk ke kamar dan menghampiri Asti yang duduk di kasur sambil menyandarkan punggungnya di kepala kasur sambil di sanggah bantal yang di tumpuk.

__ADS_1


"Asti ada mantan mertua mu di ruang tamu, katanya ada yang mau dia bicarakan sama kamu" ujar ibu setengah berbisik kepada Asti.


"Mau apa katanya buk?" Asti balik bertanya kepada ibu sambil ikut berbisik juga.


"Entah lah, ayo kita temui dia teh." Ajak ibu.


Akhirnya Asti dan ibu menemui Emak di ruang tamu.


Emak datang ke rumah ini di antar tukang ojek, karena Euis kukuh tidak mau mengantar Emak, alasan nya karena dia mau ada janji lagi sama Anton, dan Emak pun mengalah pergi bersama tukang ojek.


Asti begitu melihat mantan ibu mertua langsung saja menghampirinya dan mencium tangan Emak dengan hormat, sementara ibu yang sudah bersalaman sama emak tadi langsung saja duduk di kursi ruang tamu.


"Tumben Emak datang ke sini? Apa Emak ada perlu sama Asti?!" Tanya ibu langsung bertanya kepada pokok nya langsung,


"Iya aku ada perlu sama si Asti dan keluarga ini! Kalian itu manusia yang kurang berterima kasih, sudah di tolong anak ku tapi tidak ada punya inisiatif untuk datang.?!" Ujar Emak sambil sinis, Asti hanya bisa menghela nafas, sebab dia ingat betul jika waktu itu Emak sendiri yang melarang dirinya untuk mengantar jasad Entis ke rumah Emak, tapi sekarang justru seolah-olah dirinya lah yang tidak punya rasa empati.


"Maaf Mak, kami tidak bisa datang ke acara pemakaman almarhum Entis kemarin, karena kami pun mendapat musibah." Ujar ibu meminta maaf karena tidak datang melayat waktu itu, padahal sebenarnya ibu dan Asti tidak perlu meminta maaf kepada Emak, sebab Emak sendiri yang melarang keluarga Asti datang ke rumah duka waktu itu.


"Itu tidak masalah, yang penting pertanggung jawaban kalian harus segera di laksanakan.!" Tegas Emak, membuat keluarga Asti bingung dengan ucapan nya


"Pertanggung jawaban apa? " Tanya ibu spontan.

__ADS_1


"Aku datang kesini untuk mengingatkan Asti, bahwa Entis meninggal itu gara-gara dia!" Ujar emak sambil menunjuk wajah Asti, sikapnya pun kembali ke setelan pabrik semula, jutek dan juga pedas kalau bicara kepada Asti.


"Maksudnya?!" Ibu mulai tinggi nada suaranya,


"Jangan pura-pura bodoh kalian! Anak ku mati karena menolong si Asti! Harusnya kalian mikir kalau pengorbanan Entis itu tidak gratis!"ujar emak berapi-api.


"Ada apa ini?!" Umar yang sedang istirahat di kamarnya tiba-tiba sekarang sudah berdiri di ruangan ini bergabung dengan mereka, karena Umar mendengar keributan di ruang tamu makanya Umar penasaran dan langsung melihat kesini.


"Jangan ikut campur kamu!" Ujar Emak sinis kepada Umar,


Umar hanya menghela nafas kesal, dia ingin sekali membalas ucapan Emak, tapi Umar malas berdebat dengan ibu-ibu, Umar hanya menggedikan bahu lalu masuk lagi ke ruang tengah untuk menonton televisi, walau tv menyala, perhatian Umar tetap kepada mereka yang berdebat di ruang tamu, biarlah Emak di tangani ibu sama Asti saja, dia malu jika ribut dengan perempuan.


"Kalian dengar ya! Aku menuntut pertanggung jawaban Asti untuk membayar nyawa Entis !" Ujar Emak berapi-api.


"Mak, sebaiknya kita bicara dengan kepala dingin saja ,tidak perlu marah-marah seperti ini," ujar Asti mencoba mengajak Emak menyelesaikan masalah ini dengan baik.


"Aku datang ke sini dengan tujuan untuk meminta uang ganti rugi sebanyak seratus juta!" Tegas Emak tanpa mengindahkan ucapan Asti.


"Apa seratus juta!" Ibu terkejut mendengar nominal uang yang Emak sebutkan barusan.


"Maksudnya apa ini Mak!" Asti mulai kesal, dia pun bingung uang ganti rugi apa yang Emak maksud.

__ADS_1


"Kalian jangan pura-pura bodoh terus lah, apa kalian mau jadi orang bodoh beneran?! Pokoknya aku ingin Asti membayar nyawa anak ku seratus juta! Itu nominal kecil bila di bandingkan keselamatan si Asti waktu itu! Coba kalian bayangkan, seandainya anak ku si Entis tidak datang ke sana menolong si Asti! Apa yang akan terjadi pada diri kamu Asti! Kamu bisa bayangkan nasib buruk kamu?!" Ucap emak mengintimidasi Asti, dan Asti pun hanya diam , pikiran nya mulai terpengaruh jika semua ucapan emak itu benar, apa jadinya jika dirinya tidak di tolong Entis, air mata Asti pun akhirnya kembali luruh mengingat kejadian itu, ibu yang melihat Asti menangis lagi membuat dirinya meradang kepada Emak.


"Cukup! Kamu tidak perlu terus menyalahkan anak ku Asti! Ini semua bermula karena tingkah anak mu Entis yang keterlaluan, seandainya si Entis tidak mengeroyok anak lelaki ku, mungkin semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi!, Jika kamu meminta ganti rugi kepada Asti seratus juta! Maka aku ibu dari Umar yang telah di sakiti si Entis hingga masuk rumah sakit, aku minta pertanggung jawaban padamu uang sebanyak seratus juta! Biar kita sama-sama impas!" Ucap ibu berapi-api penuh amarah.


__ADS_2