
Kini Euis dan Anton sudah berada di sebuah tempat yang sunyi di kebun teh, Anton mengajak Euis jalan-jalan ke beberapa tempat dengan mengendarai motor, akhirnya sore ini Anton mengajak Euis ke kebun teh, Anton bilang ingin menikmati suasana alam,
Tapi yang ada di pikiran Anton cuma niat buruk terhadap Euis.
Anton melancarkan segala bujuk rayu nya kepada Euis, untuk melakukan hubungan suami istri, Euis menolak karena takut hamil, tapi Anton tidak menyerah, Anton terus menggerayangi tubuh Euis untuk membakar gairah Euis, tangan Anton terus bergerilya ke titik tubuh sensitif Euis, kini Euis pun tidak berdaya dengan bujuk rayu Anton untuk menyerahkan kehormatan nya untuk di berikan kepada Anton, pohon teh pun bergoyang menjadi saksi bejad kedua insan yang di bakar nafsu syetan.
"Saya takut hamil nanti kang?" Ujar Euis sambil merapikan pakaian nya sesaat setelah mereka menuntaskan hasratnya.
"Gampang itu neng, akang akan tanggung jawab jika Eneng hamil," ujar Anton sambil tersenyum senang, karena dia berhasil menghisap madu perawan Euis.
"Akang janji ya jangan sampai kabur?!" Ujar Euis sambil bergelayut manja di tangan Anton.
"Iya akang janji! Sekarang kita pulang ya," ujar Anton mengajak Euis pulang.
Euis yang memang sudah merasa lelah karena sehari ini di bawa keliling kota sama Anton, dan berakhir di sini dengan permainan yang cukup melelahkan akhirnya menyetujui untuk di ajak pulang.
Anton pun lantas membonceng kembali Euis untuk mengantar nya pulang, kali ini Anton bermaksud mengantar langsung ke rumah kekasih nya ini.
Sepanjang perjalanan Euis hanya diam saja, ada rasa penyesalan dalam hati nya ketika tadi dia sudah menyerahkan mahkota nya kepada Anton, Euis taku jika Anton kabur, sedangkan dirinya sendiri tidak tahu Anton tinggal di mana.
"Kang, boleh tidak jika Euis main ke rumah akan?" Euis mencoba mencari tahu di mana tempat tinggal Anton.
"Boleh neng, tapi akang hidup sendiri di kota ini, akang mah tidak punya rumah, akang tinggal sama orang lain, akang tidak enak kalau bawa cewek." Ujar Anton apa adanya, dia memang tinggal sebatang kara di kota ini, dia tinggal bersama teman nya.
"Terus kalau Euis ada perlu sama akang gimana?" Ujar Euis mulai khawatir di bohongi oleh Anton.
"Kan ada hape!" Ujar Anton , dia paham apa yang ada di dalam pikiran Euis.
"Tapi kalau hape akang mati, tiba-tiba Euis mendadak ada perlu akang, Euis harus nyari Kemana dong kang?" Tanya Euis mulai gelisah.
__ADS_1
"Tenang neng, akang tidak akan lari, kalau bisa besok kita kawin saja neng, akang siap kok jika besok menikah sama neng Euis." Ujar Anton sambil tertawa, Euis hanya memukul punggung Anton pelan, Euis malu karena pikiran nya bisa di tebak oleh kekasihnya ini.
"Neng Euis tenang saja ya, akang pasti akan melamar neng Euis secepatnya." Ujar Anton memberi harapan.
"Iya kang, Euis tunggu ya." Jawab Euis pelan.
Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Euis,
"Akang mampir dulu ya, sekalian kenalan sama Emak aku?!" Ajak Euis kepada Anton.
"Iya neng, akang juga memang harus ketemu dengan calon mertua, semoga saja mertua akang ini tidak galak!' kekeh Anton sambil mencolek bokong Euis, sementara Euis hanya menjerit kecil karena kaget dengan colekan Anton di bokongnya, tapi dia hany memukul manja tangan Anton tanpa marah sedikitpun.
Anton segera mengikuti langkah Euis untuk masuk ke dalam rumah, Euis langsung masuk ke ruangan lain untuk mencari ibunya.
"Mak, ada tamu." Ujar Euis begitu melihat ibunya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Ih, sembarangan aja, teman Euis Mak." Jawab Euis sebal.
Emak pun bangun, lantas berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa tamu nya, sementara Euis mengekori Emak dari belakang.
"Ini kang Anton Mak, temen Euis" ujar Euis memperkenalkan kekasihnya, sementara Emak diam sambil memperhatikan penampilan Anton yang di anggap mirip preman, dirinya langsung teringat Entis, pakaian Entis dan Anton mirip seperti ini, rasa rindu kepada Entis pun kembali hadir ketika Emak melihat Anton, Emak mengabaikan tangan Anton yang mengajaknya bersalaman, Emak justru malah menangis melihat Anton.
Tentu saja pemandangan ini membuat Anton dan Euis bingung, kenapa Emak tiba-tiba menangis.
"Mak, kenapa?" Tanya Euis.
"Emak sakit ?" Tanya Anton.
Emak menggelengkan kepalanya, karena emak memang tidak sakit,
__ADS_1
"Emak rindu sama anak Emak, oh iya maaf emak jadi nangis lihat kamu, kenalin saya ibunya Euis." Jawab emak sambil menyambut tangan Anton,
"Saya Anton Mak," Anton tersenyum senang, karena ternyata Emak menyambut dirinya dengan baik, tidak seperti ibu cewek-cewek lain yang pernah dia singgahi, pasti Anton akan di jutekin ibu dari perempuan yang dia dekati, bahkan ada pula yang terang-terangan melarang anak gadis nya bergaul dengan dirinya.
"Kalian dari mana?"
"Kami habis jalan-jalan Mak," jawab Euis.
"Oh" jawab Emak singkat.
"Mak, tadi Emak jadi ke rumah si Asti?' tanya Euis penasaran, karena semalam Emak berencana datang ke rumah Asti.
"Belum is, nanti saja lah, kapan-kapan jika Emak sudah tidak kepikiran kakak mu lagi, sekarang Emak masih sedih, belum mau kemana-mana." Ujar Emak sambil mengusap air mata yang sempat tadi keluar setelah melihat Anton
"Ya sudah kalau begitu, emak sebaiknya istirahat, kelihatan sekali jika Emak sedang kurang sehat." jawab Euis, dan di angguki oleh Emak.
"Ya sudah kalau gitu is, ajak teman mu makan, Emak mau ke kamar dulu, Emak mau rebahan, kepala Emak sakit." Ucap Emak sambil beranjak dari tempat duduknya, Emak pamitan kepada Anton terlebih dulu sebelum Emak pergi dari ruang tamu.
"Iya Mak," jawab Euis lantas mengajak Anton makan di ruang makan.
Anton merasa nyaman tinggal di rumah ini, Anton merasa ingin menikahi Euis nantinya, sebab buat apa dia hidup seorang diri terus kalau ternyata di layani perempuan itu sungguh enak, Euis begitu baik , sampai-sampai dari tadi mereka jalan-jalan pun Euis yang mengeluarkan semua biaya, dari bensin motor sampai makan siang pun Euis yang bayar, kini dia makan di rumah Euis, perempuan ini terus melayaninya dengan baik, Anton sangat yakin jika Euis cinta mati kepadanya, ini sungguh menyenangkan, dia bisa tinggal di sini bersama Euis, tanpa harus bekerja, bahkan rumah ini lumayan besar kalau cuma di tinggali emak dan Euis saja.
Anton sudah tahu tentang Entis yang telah tiada, Euis menceritakan kehidupan nya kepada Anton tanpa ada yang di rahasiakan tentang kehidupan keluarganya.
Anton berpikir, rumah ini pastinya akan jatuh ke tangan Euis sebagai satu-satunya ahli waris jika ibunya sudah tiada, Anton tersenyum membayangkan jika dia menikahi Euis pastinya dia bisa menikmati rumah warisan ini.
"Kang, kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?" Ujar Euis heran, sebab dari tadi Euis memperhatikan Anton makan sambil senyum-senyum.
"Eh.. iy.. iya maaf, tadi akang lagi melamun seandainya akang menikah dengan Euis, pasti hidup akang bahagia memiliki istri secantik ini." Ujar Anton tergagap, tapi akhirnya dia pun lancar merayu Euis, tentu saja rayuan Anton membuat wajah Euis memerah karena malu, hati nya berbunga karena telah di puji oleh pujaan hati.
__ADS_1