Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Umar masuk rumah sakit


__ADS_3

"Tidak usah buk, nanti sore juga ayu di jemput Abang, tadi Abang telpon mau jemput ayu nanti ." Jawab ayu.


"Oh ya sudah kalau begitu, ayo kita makan siang dulu, tolong panggilkan Asti di kamarnya nak ayu " akhirnya mereka pun segera menuju meja makan untuk makan siang bersama, sementara Umar tidak di rumah karena sedang bekerja, dan bapak masih ada di pasar.


***


Sore ini yoga dan Umar pulang bersamaan, sementara bapak masih belum pulang, padahal biasanya bapak pulang dari pasar siang hari, tapi sekarang sudah sore bapak belum juga pulang, di telpon pun nomor hape bapak tidak aktif, apalagi ketika Umar pulang dari kantor, membuat kekhawatiran ibu bertambah, karena seharusnya bapak dulu yang tiba ke rumah sebelum Umar, tapi ini Umar sudah di rumah tapi bapak belum juga pulang.


"Mar, bapak belum pulang juga, tadi ibu telpon anak buahnya katanya kios sudah tutup dari siang! Tapi bapak belum juga sampai ke rumah! Ibu khawatir mar!" Ibu langsung mengadu kepada anak lelakinya tentang kekhawatiran nya kepada suaminya, sementara Asti terus mencoba menelpon kontak sang bapak, tapi nihil, nomornya tidak pernah aktif.


"Mungkin ngobrol kali sama teman nya di pasar buk," ucap yoga yang kini sedang duduk di ruang tamu, kopi hitam dan cemilan sudah terhidang di hadapan nya.


"Semoga saja begitu nak yoga " ucap ibu berharap.


"Ya sudah sekarang Umar pergi ke pasar untuk melihat bapak" Umar berpamitan kepada semua orang yang ada di sana untuk pergi ke pasar,


"Mar, aku ikut ke pasar ya!" Ayu menghentikan langkah Umar untuk menaiki motornya,


"Boleh yu, tapi aku naik motor loh, apa kamu tidak masuk angin nantinya kalau naik motor?" Tanya Umar kepada ayu, karena Umar tahu jika ayu jarang sekali atau hampir tidak pernah naik motor, kemana-mana selalu di antar memakai mobil.


"Ya enggak lah, aku malah suka naik motor." Jawab ayu sambil langsung nangkring duduk di boncengan motor Umar.


"Hati-hati mar, jangan ngebut-ngebut " teriak ibu, Umar pun mengiyakan ucapan sang ibu.


Sepeninggalan Umar, Asti duduk berhadapan dengan yoga, dia merasa canggung karena ibu tidak ada di sana menemani mereka berdua, ibu tadi setelah Umar pergi langsung masuk ke kamar, katanya kepalanya sedikit pusing, dia ingin beristirahat sebentar.

__ADS_1


"Bagaimana hasil persidangan tadi as?" Tanya yoga memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah bang, semuanya berjalan lancar, kami sudah resmi bercerai," ucap Asti pelan, walau bagaimana pun dia merasa malu mengatakan permasalahan pribadinya kepada orang lain.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kamu sekarang sudah bukan istri orang lagi, sudah bisa di dekati ya" ucap yoga sambil senyum-senyum melihat Asti .


"Apaan sih bang! Siapa juga yang mau deketin seorang janda." Jawab Asti malu.


"Pasti ada lah, ini mah janda nya juga janda manis yang tidak membosankan jika di lihat, apalagi jika senyum, lesung Pipit nya itu bikin lelaki meleleh" ucap yoga menggoda Asti.


"Gombal Abang ini!" Ucap Asti sebal karena yoga sudah berhasil membuat wajahnya merah karena malu.


"Haha.. Abang tidak gombal as, Abang serius" jawab yoga, walau terlihat seperti bercanda tapi dalam hati yang paling dalam, yoga mengakui jika pesona Asti sudah membuat dirinya terus memikirkan Asti,


"Sudah ah bang, jangan ngegombal lagi gak lucu tau!" Sewot Asti, tapi yoga semakin gemas melihat tingkah Asti seperti itu, ingin sekali yoga merengkuh tubuh mungil dan manis ini di pelukan nya, tapi itu tidak mungkin, karena Asti bisa saja menampar dirinya jika berani berbuat seperti itu, yoga memang sudah menaruh hati kepada Asti sejak pandangan pertama, tapi apa daya ketika tahu Asti sudah bersuami, yoga cuma bisa menggigit jari tidak bisa memilikinya.


"Tapi apa kata-kata Abang bisa Asti pikirkan tidak?!" Yoga bertanya serius kepada Asti, sementara Asti tidak mengerti arah pembicaraan yoga, karena Asti tidak merasa ada pembahasan yang serius dengan yoga, yang ada juga tadi yoga hanya menggoda dirinya.


"Kata-kata yang mana bang?" Tanya asti.


"Yang mengatakan jika Abang suka sama Asti!" Wajah Asti langsung memerah mendengar ucapan yoga, sejujurnya ada rasa bahagia jika yoga menyukai dirinya, karena Asti pun merasa suka kepada yoga, tapi dia juga tidak ingin semudah itu mengatakan bahwa dirinya juga menyukai yoga, Asti takut yoga berpikiran bahwa dirinya perempuan gampangan.


Sebelum Asti menjawab, hape Asti bergetar, dan terpampang nama ayu.


"Maaf bang ayu telpon, aku angkat dulu ya." Ijin Asti kepada yoga untuk mengangkat telpon ayu.

__ADS_1


"Silahkan" jawab yoga


"Halo." Ucap Asti ketika telpon dari ayu sudah di angkat.


("As, tolong... U..Umar as....") Ayu bicara terbata-bata sambil menangis.


"Umar kenapa yu?!" Asti ikut panik mendengar tangisan ayu.


"Kenapa?" Yoga langsung menatap wajah Asti cemas, Asti hanya menggeleng karena memang belum tahu ada apa, ayu belum cerita tapi masih menangis.


("Umar di keroyok orang, sekarang aku lagi di jalan ke rumah sakit as.") Ucap ayu sambil gemetaran, terlihat sekali dari suaranya dia sedang ketakutan.


"Apa! Di keroyok!" Ucap Asti kaget, dia langsung lemas mendengar kabar mengejutkan ini, yoga sigap langsung menyebar telpon Asti dari tangan Asti yang sedang gemetaran karena khawatir dengan keselamatan adik nya.


"Yu, ini Abang, kalian sekarang di mana,!? Abang segera ke sana ya.!" Ayu pun akhirnya memberitahukan di mana posisi mereka sekarang, ayu sedang berada dia tas mobil angkot yang membawa Umar untuk ke rumah sakit, umar terkapar tidak berdaya karena di keroyok sekelompok orang yang tidak di kenal, walau Umar jago bela diri tapi menghadapi sepuluh lawan yang beringas tentu saja Umar tidak berdaya, kalah jumlah dan kalah tenaga.


"Buk" Asti mengetuk pintu kamar ibunya setelah merasa dirinya sedikit tenang, yoga terus mendampingi Asti dan terus menguatkan Asti agar bisa tabah, akhirnya Asti sadar, dia harus segera berangkat ke rumah sakit di mana Umar berada sekarang, Asti sebenarnya tidak tega memberi kabar tidak mengenakan ini kepada ibunya, tapi bagaiman pun ibu harus tahu, sedangkan menelpon bapak nya Asti tidak bisa, karena hape bapak masih tidak aktif.


Setelah ibu membuka pintu kamar lalu Asti pun menceritakan bahwa Umar sekarang berada di rumah sakit karena di keroyok, membuat ibu langsung shock , tapi Asti terus menenangkan ibunya, dan akhirnya mereka semua berangkat menyusul ayu ke rumah sakit.


***


Ayu sedang berada di ruang IGD, sementara Umar berada di ruang tindakan, ada beberapa luka yang harus segera di jahit, ayu tidak sanggup melihat luka dan darah.


Sehingga ayu hanya bisa menunggu Umar di luar ruangan sambil menangis ketakutan, begitu ayu melihat yoga, dia langsung berlari ke pelukan kakaknya sambil terus menangis, tubuhnya gemetar karena shock melihat banyak darah di tubuh Umar.

__ADS_1


"Selamat sore pak! Apa bapak keluarga korban?!" Tanya seorang lelaki yang memakai seragam polisi, dan ternyata ayu tidak sendiri di sana ada beberapa orang polisi yang menemani ayu, mereka akan mengusut siapa orang yang melakukan penyerangan terhadap Umar dengan tuntas, akhirnya yoga pun berbicara dengan para polisi itu, mewakili keluarga Umar, karena tidak mungkin jika Asti atau ibu yang berbicara kepada para polisi itu, mereka sedang shock dengan kejadian ini.


__ADS_2