
"As, aku kangen" ucap kang Entis sambil mengusap rambut ku, ada desiran aneh ketika kang Entis membelai rambutku, tapi semua itu segera aku hempas , aku tidak ingin terlena dalam rayuan nya.
Aku segera bangun dari tempat duduk ku dan langsung berdiri untuk menghindar dari kang Entis, rasanya tidak rela jika aku harus melayani dia lagi, aku tahu tujuan dia mendekatiku dan membelai rambutku, dia meminta aku melayani nya, tapi aku sudah tidak memiliki rasa lagi kepada kang Entis, jadi aku memilih menghindar.
"Mau kemana sayang,?" Ucap kang Entis membuat aku ingin muntah.
"Tidur.!" Jawab ku ketus.
"Iya ayo sayang, akang juga sudah ngantuk, mau tidur bareng kamu." Kang Entis berdiri dan mengikutiku dari belakang, aku segera berhenti tidak melanjutkan langkahku ke kamar.
"Kenapa sayang?, Apa perlu akang gendong?!" Kang Entis tersenyum menyebalkan, dia menghampiriku hendak menggendong ku, tapi segera aku tepis tangan nya.
"Apaan sih kamu! Lebay banget.!" Ketusku sambil melangkah ke dapur,
"Loh kok lebay sih, akang itu kangen sama kamu as, apa kamu tidak kangen lagi sama aku setelah lama kita tidak saling tegur sapa"
Ucap kang etis memelas, tapi sedikit pun aku tidak merasa kasihan, yang ada muak malahan.
"Aku capek kang mau istirahat, besok harus kerja!" Ucapku berkelit.
"Kamu kalau menolak ajakan suami itu berdosa as, kamu tahu itu kan?! Kamu rajin solat dan ngaji pasti tahu, jika menolak ajakan suami itu dosa besar." Kang Entis giliran hal kayak beginian tahu dosa, tapi disaat dia sedang megang botol sambil mabok, lupa akan dosa.
__ADS_1
"Akang tahu dosa juga?, Aku kira akang tidak tahu dosa, akang tahu tidak jika tidak memberi nafkah pada istri itu dosa? Terus meminum minuman keras juga dosa besar kang!, Akang pasti tahu kan?!" Tanya ku balik pada kang Entis.
"Kamu itu as, suami ngomong itu bukan nya di dengar tapi di bantah saja terus.!, Aku tuh bicara bener jika kamu menolak nafkah batin dari suami itu kamu berdosa,!, Tapi di kasih tahu bukan nya ngerti malah nyolot!" Jawab kang Entis marah, dia pun akhirnya pergi kekamar mengambil jaket kesayangan nya yang sudah hampir tidak pernah di cuci, karena jaket Levis buluk itu tidak pernah lepas jika dia pergi, dan tidak boleh di cuci juga. Aneh kan?!
"Lebih baik aku pergi dari pada di rumah juga pusing, istri di ajak enak kok malah ngomel,!" Gerutunya sambil mengenakan jaket Kumal itu.
Aku diam saja tidak menjawab, aku juga tidak bertanya mau kemana dia memakai jaket, dulu biasanya aku suka bertanya jika dia mengenakan jaket itu, tapi sekarang - sekarang aku tidak pernah melakukan itu lagi, aku lebih banyak cuek , terserah dia mau kemana dan ada di mana.
"Aku mau keluar dulu," pamitnya, aku hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Aku bagi duit dong" ucap nya lagi.
"Gak ada duit!" Jawabku singkat.
"Aku memilih hilang duit ku dari pada di pake sama kamu kang!" Ucapku pelan, tapi aku yakin jika kang Entis mendengarnya.
"Apa kamu bilang!" Mata kang Entis melotot padaku, sementara aku hanya menggedikan bahuku sambil melangkah ke ruang tv lagi untuk nonton tv.
"Aku pinjam motor mu!, Mana kuncinya?"
Kang Entis menanyakan kunci motor, tentunya aku tidak akan memberi pinjaman.
__ADS_1
"Motor mau aku pakai." Ucapku sambil menyalakan tv yang tadi sempat di matikan kang Entis ketika hendak mengikutiku masuk kamar.
"Mau kemana kamu malam-malam?" Kang Entis mengerutkan kening heran.
"Kemana pun aku pergi apa urusan nya sama kamu?!" Jawab ku asal .
"Jelas itu urusan aku lah, kamu istriku jadi kemana kamu pergi aku harus tahu!" Bentaknya.
"Aku mau kerumah orang tuaku." Ucapku asal, padahal aku tidak ada rencana kesana sama sekali, tapi demi mempertahankan motor agar tidak di pinjam kang Entis.
"Mau ngapain, aku tidak ijinkan kamu pergi kesana?!" Kang Entis melarang ku kesana, aku pun tersenyum miring, karena merasa muak, setiap kali aku pamit ke rumah orang tuaku pasti di larang alasan nya nanti mereka minta duit sama aku, dasar kurang @jar.
"Terserah aku lah, kamu saja pergi kemana mana sesuka hati kamu, jadi aku juga bisa lah kemana- mana sesuka hati aku, lagian aku pergi juga bukan ke warung remang seperti kamu, tapi ke rumah orang tuaku." Jawabku sarkas!
"Jangan asal nuduh kamu!, Enak saja bilang aku pergi ke warung remang!" Kang Entis berkelit, padahal mau di sembunyikan atau berbohong seperti apa pun aku tahu dia itu pasti kesana, karena ada teman nongkrong dia yang memberi tahu ku, katanya kang Entis suka main di sana, makanya aku nekad mengajukan surat cerai ke pengadilan juga karena aku sakit hati sama dia.
"Akang boleh bohongin siapapun, tapi aku tidak akan bisa di bohongi.! Cibirku
"Ah sudah lah, terserah kamu saja as!, Sini aku pinjam kunci motor nya." Kang Entis masih kukuh minjam kunci motor,
"Tidak bisa!, Aku mau pakai!" Aku pun kukuh mempertahankan nya .
__ADS_1
"Dasar pelit kamu!" Ucapnya sambil pergi keluar, dia juga membanting pintu rumah, bodoh amat dia marah juga, aku justru merasa nyaman jika dia tidak ada di rumah, segera aku kunci pintu dan masuk kamar untuk salat isya.