
"Pantas saja si Entis hidupnya tertekan karena kamu sebagai istrinya selalu saja berbuat kurang ajar, dia itu suamimu, yang seharusnya kamu hormati bukan nya kamu bentak -bentak!" Ucap emak memarahiku.
"Mak, lebih baik emak bawa anak emak ini ke rumah Emak saja deh, Asti sudah pusing ngurus nya, duit - duit saja yang di bahas, kalau tidak duit pasti hutang! Aku pusing!" Jawabku tidak kalah pedas, aku menyuruh Emak membawa kang Entis pergi dari rumah ini.
"Eh tidak sopan kamu as!, Seenaknya saja kamu ngomong begitu sama Emak, yang seharusnya yang ngomong kayak begitu tuh aku kepada kedua orang tuamu, bukan nya kamu malah mengembalikan aku pada Emak!" Semprot kang Entis padaku.
"Iya nih, si Asti makin lama makin kurang @jar, aku ini mertuamu yang harus kamu hormati, tapi kamu tuh sama sekali tidak pernah menghargai aku!" Ucap emak sambil membentak.
"Sudah lah aku capek, aku mau istirahat dulu baru pulang kerja, kalian mau ngomong apa terserah saja lah!" Ucap ku sambil pergi ke kamar.
"Asti bayar hutang nya dulu, si Euis perlu banget uang itu!" Teriak Emak.
"Minta tuh sama yang berhutang, bukan sama aku!" Ucapku sambil masuk kamar dan menutupnya kencang.
"Dasar perempuan kurang waras!, Tidak punya etika, kurang didikan!" Ucap mertuaku, masa bodoh aku tidak perduli dia mau ngomong apa pun aku tidak perduli, mulai sekarang aku bukan Asti yang bisa kalian maki seenaknya lagi, aku juga bukan ibu asuh kang Entis yang harus aku kasih makan dan aku nafkahi lagi!, Aku sungguh bodoh sekali! , Aku pun berbaring di atas tempat tidur sambil merutuki kebodohanku selama ini, hingga tidak terasa saking lelahnya aku tertidur.
__ADS_1
Aku terbangun setelah merasa tubuhku menggigil kedinginan, aku melhat jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Astagfirullah, aku sampai melewatkan shalat Maghrib, mungkin akibat lelah jiwa dan raga hingga aku tertidur dengan pulas, tadi aku sempat ganti baju tapi belum sempat mandi, keburu datang Emak, dan akhirnya adu mulut, ya Allah maafkan hamba ya Rabb hamba sudah lalai dengan perintah mu, dan hamba juga sudah berani melawan orang tua dari suamiku, hamba tidak ingin berlaku kurang ajar kepada beliau, tapi mereka selalu memancing kesabaran hamba, ucapku dalam hati sambil terdiam di bibir ranjang , akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan melaksanakan salat isya.
Aku segera turun dan menyambar handuk, lekas aku keluar kamar , di luar sepi , mungkin kang Entis dan emak pergi.
Aku memeriksa pintu rumah, dan ternyata memang tidak di kunci, aku mengusap dada tanda sesak dengan kelakuan suamiku, dia pergi tanpa mengunci pintu, gimana kalau ada orang jahat masuk! Dia benar-benar tidak perduli keselamatan ku.
Setelah mengunci pintu lekas aku ke kamar mandi dan membersihkan diri, lalu melaksanakan halat isya dengan khusu, aku berdoa kepada Rabb ku meminta jalan keluar yang terbaik atas segala
***
Dua hari berlalu dari semenjak kejadian itu, aku dan kang Entis tidak saling sapa, bahkan kang Entis tidak tidur di rumah, kami hanya bertemu menjelang Maghrib saja, kang Entis pulang sebelum Maghrib hanya untuk mandi dan ganti pakaian saja, lalu pergi lagi, aku pun tidak pernah bertanya kemana dan di mana dia tidur.
Aku pun sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama secara diam-duam, aku minta bantuan adik ku untuk mengantar aku ke pengadilan, keluarga sudah tahu jika aku sudah mengajukan gugatan cerai, mereka setuju karena aku bilang memang sudah tidak tahan hidup dengan kang Entis, terutama Umar adik ku itu sangat senang dan mendukung penuh ketika aku mengatakan jika aku akan bercerai dengan kang Entis.
__ADS_1
Ibu ku ingin aku tinggal di rumah nya, tapi aku bilang bahwa sebelum ketok palu hakim aku masih harus tinggal di rumah kontrakan dulu, aku juga ingin melihat kang Entis bagaimana nasibnya jika aku tidak mau mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah tangga, dan aku juga tidak akan membayar kontrakan lagi, sedikit demi sedikit pakaian ku, aku bawa ke rumah ibu, bahkan barang- barang pribadiku yang berharga semuanya sudah aku simpan di rumah ibu, buku nikah, dan juga buku tabungan, dan BPKB motor semuanya sudah aku simpan di rumah ibuku.
Rencana motor ku juga aku akan simpan di sana, dan aku akan menggunakan ojek online untuk pulang dan pergi kerja.
Tapi sebaliknya kang Entis belum mengetahui jika aku sudah mulai bergerak, entah dia senang atau sedih berpisah dengan ku, aku juga tidak tahu dan tidak mau tahu, aku sekarang jalani saja hidup seperti ini.
Seperti malam ini kang Entis tumben sedikit lama berada di rumah, biasanya dia jam segini sudah tidak ada di rumah,
"As, kamu sekarang berubah," ucap kang Entis sambil menghampiriku yang sedang duduk di depan tv.
"Berubah apaan, emang aku power Granger bisa berubah segala!" Ketusku.
"Kamu sudah tidak sayang aku lagi, kamu juga sudah tidak perduli aku lagi." Ucapnya dengan raut sedih, aku yakin dia seperti ini pasti ada maunya.
"Tidak usah betele - tele mas, kamu mau apa?, Tidak usah pakai drama memelas segala!" Ketusku masih terlihat jutek, kang Entik mendecak kesal, mungkin aku dari tadi sinis terus menjawab ucapan nya.
__ADS_1
"As, aku kangen" ucap kang Entis sambil mengusap rambut ku, ada desiran aneh ketika kang Entis membelai rambutku, tapi semua itu segera aku hempas , aku tidak ingin terlena dalam rayuan nya.