
"Benar kata pak Handoko neng, mana ada orang bisa merobek sesuatu dengan satu tangan! Jadi mana yang benar ini? Di robek Umar atau di robek Eneng sendiri?!" Pak RT kini mulai menekan Euis untuk mengaku kejadian yang sebenarnya, dia kini mulai percaya jika Umar sedang di fitnah oleh perempuan ini,. Sementara Umar yang dalam hati nya terus berdzikir untuk meminta pertolongan Allah dari fitnah yang Euis lemparkan kepadanya mulai sedikit bernafas lega, karena ada secercah harapan jika dirinya tidak bersalah, Umar yakin jika kasus ini akan terbuka dengan tidak adanya bukti bahwa dirinya telah merobek baju Euis.
"Kenapa kalian jadi memojokkan saya, seharusnya kalian menghukum kang Umar yang sudah melecehkan saya, hidup saya sudah ternoda olehnya, saya prustasi!" Teriak Euis histeris sambil menangis kencang, dia berbuat seperti itu Demi menutupi kesalahan nya, dia sangat panik takut perbuatan nya memfitnah Umar akan terbongkar.
"Prustasi kok ngomong!" Ucap pak Handoko polos, kontan semua yang hadir tertawa mendengar ucapan pak Handoko.
Ibu RT yang tadi keluar rumah kini dia masuk kembali dengan menenteng kantong, dia pun kini duduk di sebelah Euis yang sedang menangis, kali ini tangisan Euis tidak di buat-buat seperti tadi, karena Euis kini mulai takut jika kebohongan nya terbongkar, dia memikirkan gimana nasibnya jika semua kebohongan nya di buka oleh semua orang yang ada di sini.
"Neng, sebaiknya kamu ganti pakaian dulu, tidak mungkin Eneng memakai pakaian robek itu terus, ini pakaian anak saya silahkan di pakai," ucap buk RT menyerahkan kantong yang berisi pakaian anak nya yang di bawa oleh asisten nya buk Rt, beliau menyuruh Euis menukar pakaian, awalnya Euis tidak mau mengganti pakaian tapi buk RT terus merayunya, dan akhirnya Euis mengganti juga baju robek nya dengan yang di bawa buk RT, setelah berganti pakaian Euis masih di suruh duduk kembali guna untuk melanjutkan kasus ini, Euis sempat menolak dengan alasan dia ingin segera pulang karena stres menghadapi masalah ini, tapi dengan keras pak RT menyuruh Euis tetap tinggal disini sebelum kasus ini terbuka dan terang benderang, akhirnya dengan berat hati Euis duduk kembali di sebelah buk Rt.
"Kamu tidak bisa seenaknya pulang dengan meninggalkan kasus ini! Ini menyangkut nama baik seseorang, jika kamu yang di lecehkan maka kita akan melaporkan Umar, tapi jika kamu yang memfitnah Umar, maka kamu yang akan kami laporkan akan tuduhan pencemaran nama baik!," Tegas pak RT kepada Euis,
Euis menunduk dan sedikit gentar dengan ucapan pak RT, dia hanya mengangguk tanpa bisa menjawab ucapan pak RT .
"Ini baju Euis silahkan di periksa pak!" Buk RT menyerahkan baju yang Euis yang robek kepada suaminya, Euis melirik tajam buk RT, dia baru sadar kenapa buk RT kukuh menyuruh dirinya berganti pakaian, ternyata baju itu untuk di berikan kepada pak RT sebagai bukti, dia menyesal kenapa tadi baju itu tidak dia basahi saja di kamar mandi, kenapa justru baju itu dia serahkan kepada buk RT tadi!
__ADS_1
"Lihat semua, kemeja putih ini bersih tanpa noda cabe atau sambel sedikit pun, jika Umar merobek pakaian ini, sudah pasti baju ini akan terkena noda, tapi ini bersih! Jadi bagaimana menurut kalian semua!" Pak RT membeberkan pakaian itu di depan semua orang yang hadir di sana, terdengar bisik-bisik dari mulut mereka, yang kini rumah ini sudah mulai ramai karena banyak tetangga yang datang penasaran karena terdengar kegaduhan di rumah ini, Euis baru menyadari jika di rumah ini sudah banyak orang, hati nya makin ciut takut kebohongan nya di buka di depan semua orang.
"Wah ini masalah besar yang harus di tuntaskan segera, ini menyangkut nama baik dan juga harga diri, aku rasa si Umar bisa saja melakukan nya merobek dengan satu tangan karena pakaian itu kan sedang di pakai, jadi ada kemungkinan !" Ucap pak agung yang masih membela Euis.
"Sekarang coba saja pak agung robek baju saya!" Ucap pak Handoko sambil maju ke hadapan pak agung.
"Tidak mau!" Ucap pak agung menolak.
"Kenapa tidak mau!? Pernyataan pak agung itu harus di buktikan dengan tindakan, saya ikhlas baju saya robek guna menyelesaikan masalah ini dengan benar.!" Ucap pak Handoko.
Dengan terpaksa pak agung mendekati pak Handoko dan mulai merobek baju nya dengan tangan kiri, tapi ternyata memang tidak bisa, baju itu cuma ketarik saja tanpa bisa di robek.
"Nah pak agung tidak bisa merobek nya kan!" Ucap pak Handoko tersenyum, sementara pak agung hanya menggedikan bahunya saja tanpa menjawab ucapan pak Handoko,mereka pun akhirnya duduk kembali di kursi masing-masing.
"Mar si Eneng ini bertamu jam berapa?" Pak RT bertanya kepada Umar, mungkin sekitar jam empat lebih lima belas menit, soalnya saya pulang kerja dan sampai ke rumah ini jam empat lewat sepuluh menit, dari kerjaan saya ke sini cukup sepuluh menit saja, saya keluar dari kantor pas jam empat." Semua orang melihat jam, kini jam menunjukan pukul lima lewat lima menit, jadi dari kejadian Euis datang dan sampai sekarang kurang lebih dari satu jam.
__ADS_1
"Kejadian kamu dan perempuan ini di kamar mandi sekitar jam berapa?" Ucap pak RT.
"Sekitar jam empat lewat tiga puluh menit saya ada di sini pak!" Ucap pak Handoko.
"Jadi sekitar lima belas menit pas perempuan ini bertamu langsung kejadian di kamar mandi itu " ucap pak RT sambil manggut-manggut.
"Sekarang begini ya pak , ini menurut analisa saya saja, si Umar sedang makan lalu mendapatkan tamu perempuan di rumah ini, lalu dia ingin melecehkan tamunya dengan tiba-tiba sekitar lima belas menit libido Umar naik hanya melihat tamunya ini, di tengah-tengah dia sedang makan pula,apa bisa masuk akal tidak!" Ucap pak RT,
Suara riuh di ruangan itu menggema, semuanya hampir mengatakan tidak mungkin Umar berbuat seperti itu.
"Apalagi tadi perempuan ini teriak minta tolong, tapi Umar masih terus memaksa perempuan ini dalam pelukan nya, tapi Umar melakukan itu dengan pintu rumah yang terbuka! Aku tidak percaya Umar melakukan perbuatan hina itu dengan sembarangan, jika Umar punya niat tidak baik, pasti rumahnya di kunci tidak di biarkan terbuka begitu saja!" Ucap pak Handoko menambah analisa meringankan Umar.
"Benar itu pak! Saya setuju!" Ucap buk RT membenarkan ucapan pak Handoko, dan Umar benar-benar merasa sedikit lega ketika kebenaran mulai sedikit-sedikit terkuak.
"Pak, jangan mentang-mentang kang Umar adalah warga bapak lantas bapak membela dia pak!" Teriak Euis kalap.
__ADS_1