
Yoga tidak menjawab, dia terus berjalan masuk kedalam rumah nya, Yoga masih mendengar teriakan Rosi meskipun sudah memasuki ruang tamu, tapi begitu Yoga masuk ke dalam rumah, teriakan Rosi sudah tidak terdengar lagi.
"Sudah pergi dia kak?" Tanya ayu, sewaktu yoga tadi mengusir Rosi, ayu menjelaskan kepada keluarga Asti siapa Rosi sebenarnya,
"Sudah yu, sudahlah tidak usah di pikirkan lagi dia itu, sebaiknya kita bicarakan acara tahlilan untuk nanti malam" ujar yoga berusaha melupakan apa yang barusan terjadi, dia lebih fokus untuk membahas acara tahlilan yang akan di gelar nanti malam, bapak ibu dan Umar akan turut membantu, tapi seperti nya Asti butuh istirahat karena suhu badan nya masih panas, ayu mengajak Asti masuk ke dalam kamarnya, di sana ayu menyuruh Asti istirahat, tapi Asti menolak, dirinya ingin ikut membantu acara tahlilan nanti malam, tapi ayu tetap menyuruh Asti untuk istirahat, akhirnya Asti menuruti keinginan ayu, dia pun akhirnya istirahat di kamar ayu.
Malam itu pun langsung di adakan tahlilan atau juga pengajian untuk mendoakan mendiang ibu Wina, acara itu berjalan dengan hikmat, hingga selesai pas waktu sudah hampir tengah malam, tinggallah kini yoga dan ayu tinggal berdua di rumah, tentunya di temani para art mereka juga, Asti dan keluarganya langsung pulang pas tadi setelah acara tahlil selesai, Yoga ingin mengantar mereka tapi di larang bapak, karena Yoga pasti letih dari pagi sibuk mengurus pemakaman, akhirnya keluarga Ayu di antar oleh sopir pribadi Ayu.
Yoga sangat mencemaskan kondisi Asti, sebab Asti masih terlihat lemah, Yoga menyarankan Asti untuk di rawat di rumah sakit, tapi di tolak Asti, Asti mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Bang, ayu tidak mau Abang kembali lagi dengan perempuan itu!" Tiba-tiba ayu bicara seperti itu di saat mereka duduk sambil masing-masing memainkan hape, yoga lantas menyimpan hape nya di meja, barusan dia memang sibuk dengan hape karena sedang berbalas pesan dengan anak buahnya.
"Kamu tenang saja yu, Abang tidak mungkin kembali dengan nya! Lebih baik kamu sekarang istirahat saja dulu, Abang juga lelah mau istirahat" ujar Yoga mengakhiri obrolan dengan adiknya, ayu tidak bisa membantah ucapan kakaknya, sebab dirinya juga merasa sangat lelah, akhirnya mereka pun masuk kamar masing-masing untuk istirahat.
***
"Kang, aku pergi cari kerja dulu ya, kata temanku yang kerja di pasar, ada lowongan di toko baju, aku mau kerja di sana." Ujar Euis pagi itu membangunkan suaminya untuk pamit melamar pekerjaan di pasar.
__ADS_1
"Iya neng, akang doain kamu di terima kerja di sana, akang mau lanjut tidur lagi,tapi jangan lupa uang rokok akang ya neng, sama sarapan akang tolong bawa ke kamar saja, akang segan sama Emak jika sarapan di meja makan, akang takut Emak punya pikiran buruk terhadap akang, sebab akang tidak bekerja, padahal bukan akang malas neng, tapi pisik akang memang tidak bisa di ajak bekerja keras untuk mencari nafkah" ujar Anton memelas meminta belas kasihan istrinya, dengan tidak tahu malu Anton ingin menjadi raja di istana mertua, Anton setiap hari meminta jatah uang untuk membeli rokok, Euis pun tidak keberatan untuk memberi suami nya uang saku, dia mengeluarkan uang lima puluh ribu dan menyerahkan uang itu kepada suaminya, senyum sumringah Anton tercetak jelas di wajahnya, dia senang karena tidak perlu bersusah payah bekerja lagi, cukup menjual kata cinta dan berpura-pura bucin kepada Euis, nafkah pun di berikan Euis dengan senang hati, Anton merasa beruntung bertemu dengan Euis, dia tidak perlu bersusah payah mencari nafkah.
"Emak tidak ada kang, tadi berangkat sama kang ojek ke rumah si Asti."
"Asti siapa neng?"
"Mantan istri almarhum kang Entis kang,"
"Mau ngapain Emak ke sana?" Anton mulai kepo.
"Katanya mau minta ganti rugi uang seratus juta kepada mereka" ujar Euis membuat mata Anton membulat mendengar nominal uang yang di sebutkan Euis barusan, Anton yang sedang rebahan di kasur reflek langsung duduk begitu mendengar keterangan Euis,
"Gitu kang ceritanya, jika waktu itu kang Entis tidak menolong si Asti, tentunya kakak ku itu pasti masih hidup " Euis bicara seolah dia tidak menerima ketentuan nasib yang telah di gariskan oleh tuhan, padahal mungkin saja itu memang tulisan takdir yang kuasa atas nasib Entis.
"Akang setuju neng, Keputusan emak untuk meminta ganti rugi itu memang tepat, harus seperti itu, kenapa tadi emak tidak minta antar akang saja neng!" Ujar Anton.
"Akang kan masih tidur, Emak berangkat tadi pagi, katanya kalau siang sedikit takut nya mereka semua tidak ada di rumah."
__ADS_1
"Oh gitu, ya sudah kalau gitu, perut akang sekarang lapar, tolong siapkan sarapan, akang malas keluar, sarapan di kamar saja ya,?" pinta Anton kepada istrinya, Euis pun mengangguk lalu beranjak ke luar untuk membawa sarapan untuk suaminya.
Setelah Euis membawa sarapan untuk sang suami, Euis lalu pamit kembali dan mencium tangan suaminya untuk pergi ke pasar , Anton pun mencium kening Euis dengan lembut, membuat Euis semakin cinta kepada Anton, Euis merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Anton, Anton itu sangat memperlakukan dirinya lembut dan penuh kasih sayang, Euis benar-benar di butakan oleh cinta, Euis termakan dengan sikap palsu Anton, Euis tidak bisa membedakan mana lelaki yang tulus dan mana lelaki yang modus.
Setelah kepergian Euis, Anton pun melahap habis sarapan nya, lalu menyeruput kopi panas dan menyalakan sebatang rokok untuk menemani dirinya berselancar di dunia Maya, Anton berleha-leha di kamar tanpa ada yang mengganggu.
Sementara Emak yang sekarang sudah tiba di rumah Asti, di sambut dengan tatapan sinis dari ibu, di rumah Asti kebetulan hanya ada Asti dan ibu saja, bapak sudah berangkat ke pasar tadi pagi, sementara Umar hari ini mulai kembali masuk bekerja, Asti yang seminggu ini selalu murung kini semakin pucat ketika melihat kedatangan mantan mertuanya itu.
"Mau apa kamu datang kesini!?" Ibu geram dengan kehadiran emak disini, sebab tadi pas Emak datang, sebenarnya ibu malas untuk membuka kan pintu rumah, tapi gedoran pintu yang di ketok emak membuat sedikit kegaduhan, serta teriakan emak yang memanggil nama Asti dengan keras, membuat ibu takut mengganggu ke tenangan para tetangganya, mau tidak mau akhirnya ibu membuka pintu juga untuk Emak.
"Dari tadi di panggil baru keluar! Gini nih jika kalian merasa bersalah dan punya hutang itu, pasti kalian takut kan sama saya!" Ujar Emak menyindir ibu.
"Emak saja kamu ngomong! Aku tidak merasa bersalah dan juga tidak merasa punya hutang! Aku malas buka pintu karena memang tidak ingin ribut saja! Kamu datang ke sini pasti ngajak orang bertengkar!" Teriak ibu kesal.
"Eeh.. selow dong jangan teriak-teriak! Kupingku tidak budeg loh! Aku kesini mau ketemu si Asti! Mana dia!" Ujar emak sambil celingukan melihat ke dalam ruangan tengah.
Sementara Asti yang berada di kamar mulai gelisah, ibu sengaja menyuruh Asti diam di kamar dan tidak di perbolehkan keluar menemui mantan mertuanya, ibu takut Asti drop kembali jika berhadapan dengan Emak.
__ADS_1
"Asti tidak ada di rumah! Dia pergi kerja ke luar kota!" Ucap ibu berbohong.
"Aku tidak percaya! Asti...! Keluar kamu! Jangan sembunyi kamu!" Teriak Emak memanggil Asti.