
"Tapi teteh masih suka bekerja disana pak, teteh punya rencana untuk mengambil cuti seminggu, dan teteh juga akan mengajak bapak, ibu, dan Umar untuk pergi berlibur ke puncak untuk menginap di sana beberapa hari , sekalian untuk menenangkan pikiran pak." Ucapku memberi tahu niatku kepada bapak.
"Itu juga bagus teh, tapi jika cuti kamu selesai apa kamu yakin jika si Entis tidak akan mengganggu kamu lagi!," Bapak masih tetap takut jika aku tidak berhenti bekerja nantinya kang Entis akan mengganggu aku terus.
"Semoga saja tidak pak, kan sebentar lagi juga aku akan bercerai pak, tinggal nunggu sidang nanti Minggu depan pak, jadi begitu selesai liburan, Asti akan menghadiri sidang pertama perceraian Asti sama kang Entis pak." Ucapku memberi alasan, agar bapak jangan memaksaku untuk berhenti bekerja.
"Ya sudah jika itu mau nya Asti, bapak juga tidak bisa memaksa, tapi bapak mohon masalah ini jangan sampai terdengar Umar." Ucap bapak pelan, aku dan ibu mengiyakan, karena memang kami khawatir Umar tidak bisa mengontrol emosinya.
Jam makan pun tiba dan Umar pun baru saja tiba, ternyata Umar dan bang Yoga saling mengenal, Umar bekerja di showroom milik bang Yoga, aku baru tahu ternyata abangnya ayu memiliki showroom, ayu tidak pernah cerita tentang pekerjaan kakak nya itu, aku salut sama ayu walau pun abangnya seorang pengusaha tapi ayu tetap mau bekerja, padahal hanya pegawai biasa sama seperti ku tidak memiliki jabatan apa-apa, tapi ayu orangnya sangat bersahaja dan tidak sombong, aku makin salut pada sahabatku ini.
Kami semua sedang duduk mengelilingi meja makan, kami menikmati makan malam bersama, sambil berbincang ringan,
Ibu sibuk melayani ayu dan bang Yoga,
Tiba-tiba aku melihat wajah ayu sedih, aku spontan kaget melihat ayu yang menitikan air mata,
"Kamu kenapa, yu?!" Aku kaget melihat dia menitikan air mata ketika ibu mengambilkan ayu ayam goreng dan di simpan di piring ayu, semua orang melihat ke arah ayu termasuk Abang nya itu.
"Aku cuma seneng as, aku bisa ngerasain di layani seorang ibu, walau pun itu ibu kamu." Ucap ayu sambil terisak, bang Yoga langsung mengusap punggung adik perempuan nya itu, aku terdiam mendengarnya, mungkin ayu selama ini merindukan perhatian seorang ibu, tapi sayang nya ibu yang dia harapkan sekarang berada di rumah sakit jiwa, walaupun ayu bergelimang harta dan memiliki cinta kasih dari seorang kakak laki-lakinya itu tapi ternyata belum cukup membuat hati ayu bahagia, aku terharu ketika ayu berbicara seperti itu,
"Loh memangnya ibu nak ayu kemana?" Ibu penasaran mungkin dengan ucapan ayu, ibu memang tidak tahu menahu soal kehidupan ayu, karena aku juga tidak pernah cerita tentang ayu, karena aku terlalu sibuk dengan kehidupan rumah tanggaku yang tidak biasa itu.
"Ibu saya ada di rumah sakit buk" jawab ayu sambil menunduk, Abang nya meremas telapak tangan ayu sambil menarik nafas dengan berat, mungkin dia sedang menahan gejolak dalam hatinya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita makan saja yu, kamu jangan cengeng ya, sudah makan kita pulang, kita jenguk ibu besok pagi. Ok!" Ujar bang Yoga mengakhiri kesedihan ayu, ayu hanya mengangguk dan melanjutkan makan nya.
"Emang ibunya sakit apa nak?" Tanya ibu kepada ayu, tapi ayu dan bang Yoga terdiam tidak menjawab, mungkin dia malu atau tidak mau masalah pribadinya di umbar di sini.
"Buk, ambilin Umar ayam dong." Umar seperti nya mengerti dengan situasi hati bos nya ini, makanya Umar mengalihkan perhatian ibunya agar tidak banyak bertanya terlalu pribadi kepada dua tamu ini.
Ibu pun lalu mengambil kan paha ayam untuk Umar, karena memang Umar sangat suka sekali bagian itu.
Aku hanya Diam tidak bicara apa-apa , walaupun mulut ini mengunyah makanan tapi entah kenapa rasanya seperti tidak ada rasa, mungkin karena aku sedang banyak pikiran.
"Semoga cepat sembuh ya ibunya," ucap ibu dengan tulus.
"Iya." Ayu menjawab dengan singkat sambil menganggukkan kepalanya,
"Hust, teteh bisa aja, tidak boleh begitu tidak sopan" semprot ibu padaku, sambil mencubit pahaku, aku mengaduh kaget,
"Sukurin week" ayu cekikikan sambil melelet kan lidahnya meledek ku, ayu senang melihat aku di marahi ibu, aku merenggut karena kena marah, tapi bersyukur bisa membuat ayu kembali tertawa tidak menangis lagi.
Bang Yoga mengulum senyum yang membuat dia semakin ganteng,, ya ampun kok ganteng banget sih dia! Aku mengakui kegantengan nya dalam hati tapi aku segera menepis supaya jangan memuji dirinya walau dalam hati, bahaya! 'Sadar as.. sadar.. aku masih istri orang,tidak boleh memuji laki-laki lain!' jerit batinku, tapi aku hanya memuji bukan berarti suka kan!
Bang Yoga melirik ku, aku yang tanpa sadar masih melihatnya spontan menunduk, aku jadi salah tingkah, bodoh sekali aku ini!, Kenapa juga harus ngelihatin dia!
"Sudah-sudah kalau lagi makan jangan banyak ngomong dulu nanti tersedak" bapak mengingatkan kami sambil tersenyum, akhirnya kami makan menikmati masakan ibu dengan diam.
__ADS_1
Setelah selesai makan ayu dan bang Yoga berpamitan untuk pulang, kami pun mengantarkan mereka ke depan rumah.
"Asti.. buka pintunya as!" Teriak kang Entis di luar pagar meminta pintu pagar di buka, padahal pagar itu bisa di buka dari luar juga, karena memang belum di kunci, tapi kenapa dia berteriak minta di buka, dasar sinting!
"Wah ini orang minta di gebuk rupanya!" Umar berjalan untuk menghadapi kang Entis, tapi ibu dan aku segera menghalanginya.
"Jangan mar, ibu takut dia tidak sendirian!" ucap ibu was-was, aku pun berpikiran sama dengan ibu, rasa takut yang tadi sudah hilang kini tiba-tiba kembali menyerang ku, aku merasa sangat takut melihat kang Entis,
Bang Yoga sepertinya melihat perubahan wajahku, di berbisik kepada ayu, dan ayu segera menarik ku masuk ke dalam rumah
Ibu pun mengikuti aku dan ayu masuk ke rumah.
"Asti... Ayo pulang!, Ayo Asti! Kita pulang ke rumah kita,! Aku tidak mau bercerai!" Kang Entis masih terdengar berteriak-teriak di luar, aku yakin dia pasti sedang mabuk, soalnya ngomongnya terdengar ngaco.
"Buk, sebaiknya Asti di dalam saja biar para lelaki saja yang menghadapi kang mantan suami Asti!" Ucap ayu kepada ibu.
"Iya yu, lihat wajah teteh sampe pucat gini, teh jangan takut ya, kamu aman ada adikmu dan juga bapakmu!" Ucap ibu mencoba menenangkan ku.
"Ada bang Yoga juga as, tenang saja bang Yoga itu jago karate loh as!" Ucap ayu ikut menghiburku, aku hanya mengangguk.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar, karena ibu dan ayu membawaku ke kamar.
Suara kang Entis juga sudah tidak terdengar lagi, mungkin Umar, dan bapak berhasil mengusirnya.
__ADS_1