Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
sedikit membaik


__ADS_3

"Sudah tenangkan dulu dirimu yu, ini minum dulu" ucap Abang nya sambil memeluk adiknya memberi kekuatan dan perlindungan untuk adik tercintanya.


Ayu segera meminum air yang di berikan kakaknya, lalu ayu menatap wajah Asti dan ibu dengan tatapan sedih, Asti dan ibu mencoba tenang walau hati mereka sebenarnya sangat takut, takut terjadi apa-apa kepada Umar.


"Umar mana sekarang yu?" Tanya ibu lirih.


"Di dalam buk, tapi kita tidak boleh masuk ke sana buk, maaf kan ayu ya buk tidak bisa menolong Umar!" Ayu langsung menangis lagi, setelah mengatakan maaf kepada ibu,


"Keadaan Umar apakah parah yu?" Tanya Asti khawatir.


"Bahunya terkena tikaman pisau as, kepalanya berdarah juga, aku tidak tahu kenapa bisa berdarah, karena mereka begitu cepat datang lalu mengeroyok kami, aku hanya bisa menutup wajah karena takut, ketika mereka menarik ku dari atas motor, Umar berusaha melawan dan terus melindungi aku, hingga dia tidak fokus menjaga dirinya sendiri, di lebih fokus menjaga aku dari tangan jahat mereka, untung masa segera datang untuk menyelamatkan kami, hingga para preman itu langsung kabur meninggalkan kami, Umar tergeletak setelah mereka pergi, karena banyak luka di tubuhnya as, aku tidak sanggup Melihat nya." Tangis ayu kembali menggema, kini ibu dan Asti ikut menangis setelah mendengar kejadian nya, yoga mengepalkan tangan nya,


Perlahan yoga berlalu dari hadapan mereka, lalu dia mengambil handphone nya dalam saku bajunya, yoga segera beranjak mencari tempat sepi untuk menelpon anak buahnya, yoga sangat marah dengan kejadian ini, dia meminta anak buahnya untuk mencari siapa yang sudah tega mengeroyok Umar dan mengganggu adik nya hingga shock, walau pun kasus ini sekarang sudah di tangani polisi tapi yoga ingin secepatnya kasus ini ada titik terang nya, jika yoga lebih dulu tahu siapa mereka,aka yoga akan membuat perhitungan terlebih dahulu sebelum di serahkan kepada polisi,


Setelah selesai memberi tugas kepada anak buah nya, lantas yoga menghampiri adiknya kembali yang kini sedang duduk di kursi tunggu bersama Asti dan ibu, melihat wajah Asti yang sendu dengan mata yang sembab yoga ingin sekali memeluk Asti, tapi itu tidak mungkin bisa dia lakukan, karena status dirinya hanya lah teman.


"As, apa bapak sudah bisa di hubungi?" Ibu mulai ingat kembali kepada bapak setelah tadi perhatian nya tersita kepada anak lelaki nya.


"Belum buk, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa sama bapak! Dan semoga bapak baik-baik saja" Asti mencoba menghibur dan mengajak ibu berdoa untuk keselamatan bapak.


"As, ada foto bapak tidak,? Kalau ada boleh saya minta? Biar saya suruh anak buah saya mencari bapak, soalnya kalau kita lapor polisi pun tidak mungkin bisa as, karena jika melaporkan orang hilang itu harus sudah 2x24 jam baru bisa di proses as." Yoga mencoba menawarkan solusi untuk mencari bapak.

__ADS_1


"Ada bang, ini di hape Asti banyak." Jawab Asti.


"Kirim ke wa aku ya as," Asti mengangguk lalu mereka bertukar nomor terlebih dahulu untuk bisa mengirim foto bapak ke wa yoga, karena mereka berdua memang tidak saling miliki nomor kontak.


Seorang dokter keluar dari ruangan di mana Umar di beri tindakan,


"Dok bagaimana kondisi anak saya?" Ibu segera menghalangi langkah dokter itu yang sedang bergegas pergi, dokter itu pun menghentikan langkahnya,


"Ibu orang tua Umar?" Tanya dokter itu.


"Iya dok, bagaimana ke adaan Umar dok?!" Ibu sudah tidak tahan untuk mengetahui kondisi anaknya, dia pun tidak berhenti berdoa agar luka Umar tida parah.


Ibu dan Asti segera menyusul dokter itu, sementara yoga dan ayu tetap menunggu di depan pintu ruangan tindakan.


"Kondisi pasien sekarang sudah mulai stabil, jadi ibu jangan terlalu khawatir, luka di bahu akibat tikaman juga tidak terlalu fatal karena tidak dalam, hanya butuh di jahit tidak perlu di operasi, luka di kepala bagian belakang akibat benturan benda tajam mengakibatkan luka kulit kepala juga sudah di jahit dan tidak terlalu fatal juga, jadi sekarang pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter itu memberitahukan kondisi Umar sekarang, seketika ibu dan Asti langsung menghela nafas lega karena Umar kondisi fisiknya sudah mulai stabil.


"Alhamdulillah kalau begitu dok, saya senang mendengar kondisi adik saya tidak terlalu parah lukanya, saya permisi dok mau mengurus segala perlengkapan nya untuk kepindahan adik saya ke ruang perawatan." Ucap Asti mohon diri.


"Iya mbak, silahkan" jawab dokter itu sambil tersenyum.


Ibu dan Asti segera beranjak dari ruangan itu dan segera mengurus segera perlengkapan persyaratan dan memilih kelas untuk tempat Umar di rawat,

__ADS_1


"Bagai mana as?" Yoga yang dari tadi tidak sabar ingin tahu kondisi Umar sekarang langsung menanyakan kondisi Umar begitu Asti melangkah mendekatinya.


"Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat bang, sekarang Umar harus di pindahkan ke ruang perawatan, aku permisi dulu untuk mengurus nya bang" pamit Asti.


"Aku ikut! Biar ibu dan ayu tunggu di sini, ya." Ibu dan ayu mengangguk, dan Asti pun hanya bisa pasrah ketika yoga ingin menemani dirinya ke ruang administrasi.


Yoga lantas meminta ruang VIP untuk Umar, dan Asti tidak bisa menolak ketika yoga mengcover semua biaya perawatan Umar, sebab yoga bilang bahwa Umar adalah tanggung jawab perusahaan nya.


Kini Umar sudah berada di ruang perawatan, luka di belakang kepala dan bahu membuat Umar susah untuk tidur terlentang, dia hanya bisa tidur miring ke arah kanan saja, sebab bahu kiri terluka tidak memungkin kan untuk Umar tidur miring ke sebelah kiri, ibu terus menangisi anak lelakinya ini, Asti hanya bisa mengusap usap punggung ibu untuk memberi kan kekuatan, Asti mengerti ibu sekarang sedang tidak baik-baik saja, sebab pikiran nya terbagi antara Umar dan juga bapak, Asti pun merasakan apa yang ibu rasakan, Asti sangat khawatir kepada nasib bapak sekarang, apakah beliau sedang baik-baik saja atau sebaliknya.


Asti tidak berhenti berdoa untuk kebaikan dan keselamatan Umar dan bapak, air mata Asti terus mengalir deras ketika ketika dirinya berdoa dalam hati, ayu yang berdiri di sebelah Asti langsung memeluk teman nya ini untuk memberi kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja, sementara yoga hanya berdiri mematung melihat orang yang dia sukai menangis sedih, yoga ingin sekali memeluk dan menghibur Asti, tapi itu tidak mungkin bisa terjadi karena dirinya bukan siapa-siapa Asti.


"Buk, Umar tidak apa-apa kok, besok juga Umar sehat," Umar menggenggam tangan ibunya yang sekarang sedang duduk di hadapan nya mencoba menenangkan ibunya agar tidak bersedih,


"Iya nak, ibu juga berharap seperti itu, sekarang Umar istirahat saja ya, biar besok sehat nak" timpal ibu lalu membelai pipi anak nya.


Umar mengangguk, dan matanya langsung melihat ayu, dia sangat lega melihat ayu baik-baik saja, dia takut ayu ikut terluka, sebab dia tadi tidak bisa maksimal melindungi ayu dari tangan para penjahat itu,


"Yu, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Umar memastikan.


"Aku baik-baik saja mar, itu semua karena kamu," jawab ayu, walau bibirnya tersenyum tapi matanya berderai air mata karena tidak tega melihat kondisi Umar.

__ADS_1


__ADS_2