
"(Kamu akan tetap menjadi istriku,)" pesan kedua pun datang, tanpa pikir panjang aku pun memblokir nomor itu lagi.
Aku hiraukan pesan itu dan tidak begitu di pikirkan, aku terus melanjutkan pekerjaan ku,
"As, makan siang yuk" Ajeng teman kantor ku mengajak aku makan siang, karena memang ini sudah waktunya jam makan siang.
"Ayo" jawabku singkat, dan segera aku bangun dari kursi kerjaku, dan kami pun berjalan keluar kantor,
"As, kamu ingat tidak kemarin aku di jemput Abang ku."
Tanya ayu kepadaku.
"Iya, kenapa emang?" Tanyaku heran.
"Kemarin dia nanyain kamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Nanyain apaan?" Tanyaku penasaran.
"Sudah punya suami belum?, Aku jawab sudah, tapi lagi proses cerai, terus dia bilang bahwa dia bersedia menunggu jandamu." Ucapnya sambil tertawa.
"Ngapain kamu ngomong gitu sama Abang mu, malu tahu!" Sewotku.
"Halaah biarin saja as, aku malah kalau Abang aku mau nungguin kamu janda aku dukung dia kok, Abang aku itu kerja tidak pengangguran as, jadi tenang saja, kamu pasti di kasih nafkah jika kamu mau sama Abang ku." Ucap nya semakin menjadi meledek ku.
__ADS_1
"Berisik ah, aku sudah lapar nih yuk cepetan jalan nya." Ucapku sambil berjalan cepat, kami memang sudah saling percaya, antara aku dan ayu sudah tidak ada rahasia lagi, aku sering curhat tentang masalah ku dengan kang Entis, kadang kang Ajeng sering bilang suruh aku meninggalkan kang Entis, tapi waktu itu aku bilang masih mau memberi kesempatan, tapi kini aku sudah tidak ingin memberi kesempatan lagi, begitu ayu mendengar aku sudah mengajukan cerai dia begitu senang, aku yang bercerai malah si Ajeng yang bahagia, dasar sahabat tidak ada akhlak.. haha...
"Kapan kamu main ke rumahku as?!, Kita sudah lama berteman tapi kamu tidak tahu rumahku, begitu juga aku tidak tahu di mana rumahmu." Ayu membuka obrolan di tengah - tengah makan siang kami di rumah makan Padang, kamu memang sering makan di sini karena jika makan di kantin antrian nya sangat panjang, kadang kita makan jadi kayak terburu-buru, tidak bisa makan sambil ngobrol begini, makan di kantin di kejar waktu.
"Tunggu ketok palu dulu yu, aku tidak bisa pergi kemana-mana sebelum masa udah ku selesai, karena jika aku kelayapan sebelum udah ku usai, bisa kena omel bapak ku nanti." Jawab ku sambil menikmati makanan ku.
"Ok, kalau begitu nanti setelah kamu menjadi jendes alias janda ngenes kamu harus main ke rumahku ya." Kelakar ayu tanpa dosa bilang aku janda ngenes, kurang asem kan dia!
"Siap buk, biarlah aku jendes dari pada kamu jompat!" Kelakar ku.
"Jompat apaan tuh?!" Rupanya dia penasaran dengan ucapan ku.
"Jomblo paten haha..haha.." ucap ku terbahak, ayu mengerucutkan bibirnya tapi akhirnya terbahak juga, karena kami memang terbiasa saling buli kalau ngomong, tapi kami saling sayang kok, itu hanya candaan yang ekstrim saja, tapi kami saling mengerti tidak pernah di ambil hati, cuma sekedar info tentang ayu, sebenarnya ayu wajahnya cantik, imut, dan kulitnya putih, bukan nya tidak ada yang suka kepadanya, bahkan banyak sekali laki-laki yang berharap menjadi suaminya, tapi ayu masih senang sendiri dengan alasan tidak mau terbelenggu pernikahan, dia sebenarnya trauma dengan pernikahan orang tuanya yang kandas karena perselingkuhan, ibunya menderita hingga tidak bisa menanggung beban pikiran hingga berujung stres dan kini masuk rumah sakit jiwa, sedangkan kakak laki-lakinya juga kandas pernikahan nya karena di selingkuhan oleh istrinya, mereka bercerai setelah di karuniai seorang anak perempuan, tapi kini anak itu ikut dengan mantan istrinya.
"Kamu salah yu, karena pernikahan itu adalah ibadah, jika di dalam pernikahan itu ada batu sandungan yang kita hadapi, anggap saja itu ujian kesabaran yang memang harus kita jalani." Ucapku
"Iya kayak kamu ya as, saking sabarnya malah kayak orang oon mau saja di begoin laki macam si Entis!" Ucap ayu menyebalkan, di kasih tahu malah bisa saja bikin orang kesel, tapi aku juga tidak bisa marah memang pertemanan kami seperti ini, ceplas ceplos tapi kami saling membantu jika salah satu dari kami tertimpa kesulitan.
"Ni bocah di kasih tahu ada saja jawaban nya!" Ucapku ngomel, dia hanya tertawa.
Jam makan pun sudah selesai kami segera kembali ke kantor, dan melakukan tugas seperti biasanya.
Jam pulang pun tiba, aku bersiap untuk pulang, aku dan ayu berjalan beriringan, ayu bilang hari ini di jemput oleh abangnya lagi karena motor ayu sudah beberapa hari ini masih di bengkel, jadi abangnya yang kebetulan abangnya tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan nya bisa mengantar jemput adik semata wayang nya ini.
__ADS_1
"Aku ke parkiran dulunya yu, ambil motor" pamitku kepada sahabatku.
"Ok, aku duluan ya as, itu mobil Abang ku sudah ada di gerbang" ucap ayu menunjuk pintu gerbang perusahaan ini, yang memang sudah terparkir mobil Pajero putih di sana, aku tahu itu mobil Abang nya ayu, karena sudah pernah beberapa kali melihat ayu di antar jemput oleh mobil itu, tapi aku tidak pernah melihat wajah Abang nya, karena dia setiap jemput ayu tidak pernah turun dari mobil, dia selalu standby di belakang setir pengemudi.
Tapi menurut ayu, Abang nya yang bernama Prayoga yang biasa di panggil yoga, pernah melihatku dan menitipkan salam padaku, bukan aku GeEr tapi itu kata ayu, aku pun tidak pernah menanggapi ucapan ayu, karena dia memang kadang-kadang suka ngaco kalau ngomong.
Ayu terus berjalan lurus menuju gerbang, sementara aku belok ke samping kantor untuk mengambil motor yang ada di parkiran, setelah aku menaiki motorku lantas aku berjalan keluar gerbang dengan kecepatan yang sedang, dan ketika aku keluar dari gerbang tiba-tiba motorku di hadang sebuah mobil hitam, keluar lah kang Entis dalam mobil itu, dia mendekatiku dengan seringai yang menakutkan.
Ada sedikit gentar aku menghadapi kang Entis kali ini, mungkin karena kejadian tadi pagi membuat aku sedikit shock.
"Mau apa kamu?!" Geram ku setelah dia berada di hadapan ku, dan menghalangi motorku dengan tubuhnya.
"Aku sudah bilang kamu tidak akan pernah lepas dari aku as, ayo sekarang kamu ikut aku pulang ke rumah!" Bentak kang Entis melotot padaku.
"Jangan mimpi!, Aku tidak akan pernah mau kembali kepadamu, apalagi harus menjadi istri kamu lagi!," Bentak ku kesal.
"Kamu saat ini masih menjadi istriku as, kita belum bercerai dan aku belum mengucapkan talak padamu, jadi aku rasa percuma kamu berontak juga, karena kamu masih hak milik aku!" Kang Entis mendekatiku, bau alkohol menguat dari mulutnya, aku benar-benar benci mencium aroma ini, kang Entis memegang pergelangan tangan ku, tapi aku berontak hingga mengundang beberapa orang yang berada di area gerbang kantor itu, dan pak satpam perusahaan pun segera menghampiriku.
"Ada apa ini?!" Tanya satpam kepada kang Entis, sementara orang-orang yang mendekati kami tadi hanya berdiri mengelilingi melihat dari dekat keributan yang di ciptakan kang Entis dan aku.
"Jangan ikut campur!, Aku ini suaminya.! Bentak kang Entis kepada satpam itu, pak satpam yang bernama Wiryo melirik ku, dengan raut wajah yang mengisyaratkan pertanyaan bahwa apa yang di katakan kang Entis itu benar apa tidak.
"Kamu akan bercerai pak, tapi dia memaksa saya untuk ikut dengan nya, saya takut pak, tolong saya.!" Ucapku mengiba kepada pak Wiryo untuk menolongku, sementara pergelangan ku yang di pegang kuat oleh kang Entis tidak bisa aku lepaskan walau aku berontak.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menceraikan mu!" Teriak kang Entis.