
Euis menghentakkan kakinya tanda kesal, wajahnya terlihat merah, mungkin menahan kesal, tapi aku pun tidak mau ambil perduli lagi, rasanya cukup aku di perlakukan semena-mena oleh kang Entis.
Emak dan Euis memang tidak terlalu dekat denganku, jika aku berkunjung ke rumah emak, mereka seolah tidak senang,padahal aku kesana tidak pernah dengan tangan kosong, kadang aku juga suka memberi uang bulanan kepada emak walau cuma sedikit.
Tapi sikap emak dan Euis tetap aja menjaga jarak denganku, aku sering di cuekin di rumah nya, kalaupun aku bantu emak di dapur tapi emak suka marah-marah, ngatain masakan aku gak enak, cucianku ga bersih, Nyapu gak bersih.
Emak bilang aku tidak bisa ngurus suami, makanya suaminya jadi pecandu alkohol, kang Entis sering mabok itu gara-gara aku, itu fitnahan emak terhadapku, aku berusaha bersabar.makanya aku jarang datang kerumah emak karna menjaga hati biar tidak sakit, dan kang Entis juga tidak pernah ngajak ke rumah emak.
Dulu sebelum nikah, sikap emak baik, tapi semenjak kang Entis usahanya gak maju karna sering mabok-mabokan , sikap emak berubah juga padaku, emak mengira aku penyebab berubahnya sikap kang Entis.
"Teh, mau bayar tidak hutang nya?! Malah melamun!"
Ucapan Lantang Euis membuyarkan lamunanku.
"Maaf ya Euis, teteh gak ada uang"
Euis menghentakan kakinya lagi dengan wajahnya yang di tekuk, dia berbalik dan menaiki motornya, dia mengendarai motornya dan pergi dari rumahku tanpa berpamitan, aku cuma beristigfar melihat kelakuan nya.
Segera aku pergi meneruskan niatku untuk mencari sarapan, niat jalan-jalan paginya aku tunda karna waktu sudah siang.
***
sesampainya di rumah, pintu rumah sudah terbuka, mungkin kang Entis sudah pulang, karna hanya dia yang punya kunci cadangan rumahku.
"Assalamu'alaikum"
Aku memang terbiasa mengucapkan salam jika masuk rumah, walaupun rumah dalam keadaan kosong.
__ADS_1
"Walaaiukumsalam."
Emak menjawab salamku, dia duduk di ruang tamu bersama kang Entis
"Eh ada emak," aku menyalami tangan emak dan menciumnya.
"Hhhmmmm" hanya itu jawaban emak.
"As, emak datang kesini mau nagih hutang!"
Kang Entis bicara padaku, memberi tahukan niat kedatangan emak kesini
"Hutang apa kang? Aku tidak ngerasa berhutang"
Jawab ku sesantai mungkin, sebenarnya aku tau hutang apa yang di maksud.
"Hutang akang kemarin sama emak, akang minjam uang sejuta, kemarin akang minta sama kamu, tapi kamu tidak kasih , ya terpaksa akang minjam sama emak."
"Ya terus, kenapa akang gak bayar?!" Ujarku sambil bersusah payah menahan emosi.
"Aku duit dari mana? Sehari-hari kamu kan yang kasih aku duit!" Jawab kang Entis polos seperti manusia yang tidak punya akal pikiran.
"Itu tau, akang gak kerja tapi kenapa berani minjam duit?!" Aku bicara sambil sinis aku muak sekali di hadapkan dengan keadaan seperti ini.
"Ya kamu kan kerja as, kewajiban kamu membayar hutang-hutang aku!" Entengnya, itu pelajaran dari mana coba dia bisa ngomong seperti itu, rasanya ingin aku getok dia pakai sapu tapi aku menahan diri karena aku masih menghargai mertuaku.
"Kata siapa?" Tanyaku sambil mendelik.
__ADS_1
"Ya kata aku lah, hutang aku ya jadi hutang kamu juga! Ngerti!" Jawab kang Entis menyebalkan.
"Tidak , aku tidak ngerti,! Dan tidakk mau ngerti!" Jawabku tegas.
Aku benar-benar gak mengerti jalan pikiran kang Entis, makin kesini makin sinting!
"As, benar kata Entis, namanya hutang suami ya hutang istri juga."
Emak mulai buka suara, dia masih terlihat tenang, tapi tetap saja dia akan mengintimidasi ku bersama kang Entis, aku yakin itu.
"Ya gak bisa gitu Mak, jika uang yang di pinjam kang Entis untuk kebutuhan rumah tangga, Asti mau bantu bayar, tapi ini uang yang di pinjam saja Asti gak tau di kemanakan!"
Aku mulai emosi, emak sama anak kok pikiran nya ngelantur.
"Tidak semua urusan suami itu perlu kamu ketahui as, mungkin suamimu beneran lagi butuh, terus dia pinjam sama emak, masih untung minjam nya sama Emak, walau pun itu uang Euis, tapi dia tidak minjam ke orang lain!, Jika minjam ke orang lain mau di kemanakan muka kita as.?!" Ucap emak panjang lebar.
"Ya sudah jika begitu, berarti kang Entis kan pakai uang Euis bukan uang orang lain, jadi sudah masalahnya selesai, dan tidak malu kan sama orang!" Jawab ku sesantai mungkin mengikuti Emak.
"Ya tidak bisa begitu as, si Euis tadi nangis bilang sama aku, jika kamu tidak mau bayar hutang ku, kasihan dia mau bayar motor as!" Kang Entis membentak ku.
"Kok aku yang di salahkan, jelas aku tidak mau bayar hutang, karena aku memang tidak merasa minjam, kamu yang minjam ya bayar lah sama kamu!" Ujarku membentak kang Entis.
"Asti di biarin makin ngelunjak ya, masa sama suami sendiri pakek bentak bentakan segala !" Emak mulai tersulit emosi
"Sudah lah, aku tidak ada waktu untuk berdebat, apalagi masalhnya tidak penting buatku, aku mau siap - siap pergi kerja dulu, aku pamit ke kamar ya Mak." Ucapku sambil berdiri hendak melangkah ke kamar.
" Eh dasar tidak tahu sopan santun, masa orang tua sedang bicara malah di tinggal pergi!" Ucap emak sinis.
__ADS_1
"Kalau yang di bahas utang kang Entis terus maaf aku tidak bisa bayar Mak, silahkan bicara langsung sama kang Entis!" Jawabku,
"Astii..!" Teriak kang Entis.