Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
kamu tidak bisa lepas dari aku


__ADS_3

Pagi ini cuaca sangat cerah membuat suasana begitu nyaman untuk bepergian, aku yang sudah bersiap hendak pergi kerja terkejut dengan kehadiran kang Entis di depan gerbang rumahku.


"Mau apa kamu kesini?" Tanyaku ketus.


Kang Entis tidak segera menjawab pertanyaannya, dia malah menyeringai menyebalkan.


"Akang kesini mau jemput istri akang, " jawabnya tanpa beban, sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi nya yang kuning, apa dia pikir aku mengajukan cerai itu hanya candaan ?!, Hingga dengan pedenya dia mau menjemput aku, atau jangan-jangan otak kang Entis sudah miring hingga jadi kurang sekilo.


"Akang sehat!" Tanyaku kesal, siapa tahu otak dia Kurang sehat.


"Alhamdulillah, akang sehat sayang, terima kasih sudah perhatian sama akang, walau Asti tidak ngurus akang, tapi akang sehat kok."


Jawab kang Entis menyebalkan, aku bertanya keadaan nya bukan berarti perhatian, tapi aku sedang meledeknya karena aku merasa dia seperti kurang waras!.


"Syukurlah lah kalau sehat, aku kira kamu sudah gila!" Ketusku.


"Kok ngomong gitu as?, Dosa loh ngomong kasar sama suami!" Ucapnya sedikit kaget.


"Sudahlah kang, aku mau pergi kerja, kamu jangan ngajak ribut aku pagi-pagi, sebaiknya kamu pulang, kita bertemu di pengadilan saja." Ucapku sinis sambil membuka gerbang karna aku akan keluar membawa motor.


"Akang tidak berniat ngajak ribut kamu as, akang ke sini cuma mau menyampaikan pesan dari buk Juwi, pemilik rumah kontrakan kita, dia berpesan supaya kamu membayar kontrakan rumah nya segera, karena sudah lewat empat hari kamu belum bayar kontrakan" dasar tidak tahu malu, dia datang kesini nyuruh aku membayar sewa kontrakan,


"Yang tinggal di situ kan kamu kang, kenapa jadi aku yang harus bayar kontrakan!" Semprot ku emosi.


"Kan biasanya juga kamu yang bayar as, kenapa jadi akang yang di suruh bayar" ucap kang Entis tidak suka dengan jawaban ku

__ADS_1


"Itu dulu, sewaktu aku masih tinggal disana, tapi aku sekarang sudah tidak tinggal disana, jadi silahkan selesaikan sendiri kontrakan itu, aku tidak mau ikut campur!" Ucapku sambil menaiki motor hendak pergi, tapi setang motorku di tahan nya,


"Aku tidak ada duit as, lebih baik kamu bayar dulu kontrakan itu , kamu masih menjadi istriku, jadi kamu juga masih harus tinggal dengan aku, jika kontrakan tidak di bayar kita mau tinggal di mana Asti!" Ucap kang Entis semakin membuat aku ingin memakinya.


"Kamu itu bisa mengerti bahasa manusia tidak sih kang?!, Aku sudah bilang tidak ingin kembali ke sana apalagi kembali menjadi istri kamu !, Jangan harap!" Bentak ku sambil mengepiskan tangan nya dari stang motorku, karena aku akan segera berangkat kerja.


"Kamu mau apa kesini?!" Tiba-tiba Umar keluar dari rumah, dia menghampiri kang Entis dengan sorot mata tajamnya.


"Aku mau jemput istriku!, Kenapa ?!" Ucap kang Entis malah menantang tatapan Umar dengan sorot mata yang tajam juga.


"Jangan mimpi kamu!, Lebih baik kamu pergi sekarang dari pada aku hajar kamu nanti!, Jangan ganggu kakak ku lagi!" Ucap Umar sambil meraih kerah baju kang Entis dan di tariknya lalu di hempaskan dengan kuat, membuat keseimbangan kang Entis hilang dan akhirnya terjatuh ke belakang dengan bokong lebih dulu terhempas ketanah, kang Entis sedikit mengernyit seperti menahan sakit, aku segera turun dari motor dan melerai mereka karena takut mereka baku hantam di sini.


"Kurang ajar kamu!" Maki kang Entis lalu berdiri dan dengan cepat dia hendak memukul Umar, tapi dengan mudah Umar mematahkan serangan kang Entis, dan malah kang Entis tersungkur lagi jatuh terkapar karena tendangan Umar telak di perutnya, kang Entis menggeliat sepeti menahan sakit, dia memaki Umar dengan sumpah serapahnya, aku berlari memegangi tangan Umar, aku takut dia kalap dan menghajar kang Entis sampai mati, aku tidak mau itu terjadi, karena bisa saja itu terjadi karena umar sudah lama sangat membenci kang Entis.


"Umar, Asti, ada apa ini!" Ucap bapak menghampiri ku dan Umar.


"Itu ada si Entis tiduran di tanah!, Sedang apa dia?" Tanya ibu polos, seperti nya bapak dan ibu tidak melihat peristiwa barusan.


"Siapa yang tidur disini!, Aku jatuh di hajar sama anak mu itu!, Didik dia yang benar pak, anak kurang ajar dia itu, berani sekali dia menghajar orang yang lebih tua dari dia!" Kang Entis masih kesal hingga dia juga bicara sambil marah-marah kepada orang tuaku.


"Oh di gebuk Umar ya?!, Bagus lah." Ucap ibu di luar dugaan, bapak menyenggol sikut ibu, tapi dia juga tersenyum.


"Aku tahu anak ku seperti apa, dia melakukan itu pasti ada sebab nya,! Jadi lebih baik sekarang kamu pulang saja dari pada kamu jena pukul dia terus, bisa babak belur kamu di sini, kamu tidak lupa kan jika anak lelaki ku ini jura karate!?" Ujar bapak sambil menyeringai, aku terkejut mendengar ucapan bapak, ini tidak seperti bapak ku, biasanya bapak tidak akan pernah mau menyinggung atau menyakiti hati orang, tapi sekarang bapak bisa melakukan itu, ini pasti bapak juga sangat membenci kang Entis,aku jadi merasa bersalah pada keluargaku, karena aku telah salah memilih suami, aku semakin mantap ingin segera berpisah dengan kang Entis.


"Anak sama bapak sama gilanya!?" Ucap kang Entis sambil berlalu dari hadapan kami.

__ADS_1


"Apa kamu bilang!?" Umar hendak mendatangi kang Entis lagi, tangan nya sudah terkepal siap menonjok wajah kang Entis, tapi aku dan ibu menghalanginya, aku memegangi tangan nya dengan erat, sementara ibu memeluk Umar dari belakang,


"Sudah nak, tadi kamu sudah menghajarnya, sekarang lebih baik biarkan saja dia pergi!" Ucap ibu mengusap punggung anak lelakinya untuk menenangkan nya.


"Padahal biarkan saja buk, tidak usah di halangi, ibu yakin pasti si Entis kapok tidak akan pernah datang lagi kesini!" Kekeh bapak, sambil menyeringai.


"Ih bapak kok Manas - manasin orang yang lagi emosi sih!" Ucapku.


"Kenapa emang nya teh, teteh masih kasihan sama lelaki model begitu?!" Ucap Umar meledek ku


"Ih amit - amit!" Ucapku sebal, lalu aku pamitan lagi untuk kedua kalinya, setelah tadi sebelum keluar rumah aku berpamitan kepada mereka, untuk berangkat kerja.


"Umar antar teteh kerja ya, " ucap Umar menawarkan diri mengantarkan aku ke kantor.


"Tidak usah mar, teteh bawa motor sendiri saja." Tolak ku, aku pun segera berangkat mengendarai motor dengan kecepatan sedang.


***


"(Kamu tidak akan bisa lepas dari aku!)"


Aku menerima pesan dari aplikasi hijau dari nomor tidak di kenal, aku yakin itu pasti dari kang Entis, masalahnya dia tidak bisa menghubungi aku memakai nomor dia lagi, karena aku sudah memblokir nomornya.


Aku diam kan saja tidak berniat membalasnya.


"(Kamu akan tetap menjadi istriku,)" pesan kedua pun datang, tanpa pikir panjang aku pun memblokir nomor itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2