
"Syukurin!, Itu azab buat akang yang sudah ninggalin aku di kuburan." Tuti bukan nya memberikan aku air minum malah marah-marah!
Lekas aku ambil minum yang memang sudah tersedia di meja makan kecil ini, aku meminum rakus air itu hingga aku merasa tenggorokan ku lega kembali.
"Kamu tuh datang-datang main pukul saja!, Untung saja aku tidak mati barusan!" Ucapku memarahinya.
"Abisnya akang tadi malah ninggalin aku tengah malam gini di kuburan, aku takut tau!" Ucap Tuti sambil menangis.
"Kok bau Pesing sih kamu!," Aku mencium bau Pesing yang sangat menyengat, lalu aku melihat celana yang di pakai Tuti basah, aku pun melotot, Tuti tersipu malu lantas berlari ke kamar mandi, dasar gendut!, Pantesan bau Pesing, dia ngompol ternyata!
"Ih jorok! Kamu ngompol ya?!" Teriak ku.
"Iya, abis nya akang ninggalin aku sih!" Teriak Tuti di kamar mandi, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil.
'rasakan kamu' ucapku dalam hati
"Kang tolong ambilin handuk dong!" Teriak si gendut, dia itu menyebalkan sekali, masa mandi tidak bawa handuk,
"Malas, kamu ambil saja sendiri!" Teriak ku sambil bersandar di kursi makan, aku capek sudah habis makan inginnya tidur saja, aku pun ke kamar mau merebahkan diri dulu.
Di saat aku merebahkan diri, Tuti masuk ke kamar tidak memakai sehelain kain pun, karena memang dia tidak membawa handuk, kontan aku melotot melihat kejadian ini, Tuti tersipu lalu menyambar handuk yang berada di belakang pintu kamar.
__ADS_1
Dengan spontan aku mendekati Tuti yang sedang tertunduk malu, aku lalu memeluk Tuti dan dia pun pun membalas pelukan ku, akhirnya malam ini kami menumpahkan keringat di atas peraduan yang dulu sering aku pakai bersama Asti, sekarang aku melakukan nya dengan Tuti.
***
Hari ini aku berencana untuk kembali menjemput Asti di tempat kerja nya, aku akan meminta Asti libur kerja hari ini, aku akan membawa dia ke suatu tempat untuk kita memadu kasih seperti dulu, di sana aku akan merayu istriku itu dengan lembut, aku tidak akan kasar lagi, demi menunjang niatku ini aku harus minta duit kepada Tuti, aku ingin mentraktir Asti makan-makan agar Asti senang, aku ajak makan di luar, aku ingin dia membatalkan perceraian ku dengan nya, aku akan merayu dia mencabut gugatan cerai di pengadilan agama.
Aku tidak rela jika Asti harus lepas dari tangan ku, aku sangat mencintainya, dan terutama aku tidak ingin hidup yang selama ini sudah nyaman dengan Asti harus berakhir di pengadilan, aku ingin seperti biasa lagi dengan Asti, mendapat jatah uang dan makan dengan menu yang enak-enak tapi yang paling aku suka hidup berumah tangga dengan Asti itu, dia tidak membuatku minder jika aku memperkenalkan Asti sebagai istriku, dia itu cantik!, Aku sangat mencintainya.
Bagaimana pun Asti akan terus aku perjuangkan, walau sampai tetes darah terakhir pun aku tetap akan memperjuangkan Asti, aku tidak rela jika Asti nantinya di miliki orang lain, Asti harus tetap menjadi milik ku selamanya!
"Kang mau kemana kok tumben rapih!" Tuti yang baru bangun dari tidurnya heran melihatku sudah berpakaian rapih.
"Mau ke tempat kerja Asti, aku mau merayu dia supaya kembali kesini!" Jawab ku jujur, tapi raut wajah Tuti tiba-tiba menjadi mendung.
"Aku sudah bilang sama kamu dari sebelum kita nikah, aku tidak akan menceraikan Asti, titik!" Ucapku tegas.
"Baru semalam akang baik padaku, mencumbu aku, tapi sekarang yang ada di pikiran akan malah si Asti!, Aku di anggap apa kang?!" Isak Tuti seperti sedang patah hati, tapi aku tidak akan mudah terpedaya dengan linangan air mata Tuti, karena sedikitpun aku tidak kasihan!
"Sudah lah, pagi-pagi tidak usah drama, lebih baik kamu sekarang mandi terus siapkan aku makan pagi,!" Ucapku memerintah dia untuk membuatkan sarapan.
"Mana duitnya kang buat masak?!" Tuti malah menengadahkan sebelah tangan untuk meminta uang dariku.
__ADS_1
"Jangan ngaco kamu Tut, si Asti saja kalau bikinin aku sarapan tidak pernah tuh minta duit dari aku, kamu baru juga beberapa hari jadi istriku sudah berani minta duit!" Ketusku kesal.
"Tapi Asti kan kerja kang! Aku semalam tidak kerja kang, duit dari mana kalau aku tidak kerja, sedangkan uang hasil kerja kemarin-kemarin nya sudah aku bayarkan kontrakan rumah ini!" Tiba-tiba Tuti bicara nyolot terhadap ku membuat emosi ini mendidih.
"Jangan pernah teriak di hadapanku kalau tidak ingin aku hajar kamu! Aku tidak mau tahu gimana caranya kamu nyari duit, sekarang cepat sediakan aku sarapan, percuma aku nikahi kamu jika sarapan saja kamu tidak bisa menyiapkan untuk aku!" Bentak ku dengan kesal kepada si gendut ini, enak saja dia mau lari dari tanggung jawab, sebagai istri kewajiban dia membuat kan sarapan untuk ku!
Tuti akhirnya bangun dari tempat tidur dengan wajah cemberut, lalu enak saja dia mencampakan selimut yang menutupi badan nya itu ke lantai, sementara dia tidak memakai sehelai benang pun, Tuti turun dari kasur dan menyambar handuk di paku belakang pintu dan berlalu keluar kamar untuk mandi.
Aku hanya melongo melihat tingkahnya, Asti tidak pernah melakukan hal itu, aku pun akhirnya keluar kamar untuk membuat kopi, dasar nasib, punya istri juga di rumah tapi kopi tetap bikin sendiri.
Aku duduk di teras depan untuk menunggu Tuti menyajikan sarapan, segelas kopi dan satu batang rokok membuat pagi ini cerah,
"Tut, cepat lah siapin aku sarpan nya,?!" Teriak ku sudah tidak sabar ingin sarapan, karena cacing dari perutku sudah mulai berdemo.
"Iya tunggu!, Aku pergi dulu beli nasi uduk!" Ketus Tuti keluar dari dalam rumah, dia mengenakan pakaian daster di atas lutut, rambutnya basah habis keramas, dia ngeloyor pergi begitu saja keluar rumah.
Aku juga tidak begitu perduli dia memakai pakaian seperti apa, walau pun sebenarnya tidak pantas Tuti memakai pakaian seksi seperti itu,
Tidak menunggu lama Tuti sudah kembali membeli nasi uduk, tapi wajah nya di tekuk seperti menyimpan kekesalan, baru di suruh begitu saja sudah marah, Asti yang cantik saja dulu tidak begitu, dia dudu rajin menyiapkan sarapan pagi untuk ku, ah kenapa aku terus kepikiran istri tua ku itu ya, aku sudah tidak sabar untuk membawa dua kembali ke rumah ini.
'Aku akan jemput kamu Asti' ucap batinku.
__ADS_1
"Ini mas sarapan nya!" Ketus Tuti memberikan satu kantong berisi satu bungkus nasi uduk,
"Kamu siapin dong di piring, masa aku makan pakai kertas begitu sih?!" Omelku kesal.