Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
emak melabrak


__ADS_3

"Maaf kan aku Asti, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin mempertahankan hak ku sebagai suami, kamu itu istriku dan selamanya akan menjadi istriku!"


Ucap kang Entis terlalu percaya diri.


" Jangan mimpi!" Ucapku sambil menghentakkan tangan dari pegangan kang Entis dengan kuat, dan akhirnya terlepas, aku segera menaiki motorku, dan pergi dari sana, kang Entis terus memanggil namaku supaya aku berhenti, tapi itu tidak mungkin aku lakukan.


***


Dua hari setelah kejadian itu kang Entis tidak sama sekali datang ke rumah orang tuaku, aku juga sudah tidak mengharapkan lagi, aku sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi.


"Asti, di luar ada mertua mu nak, " sore ini setelah pulang kerja aku memang sedang memasak di dapur bersama ibu, aku ingin membuat kudapan untuk cemilan nanti malam sambil ngobrol dengan keluargaku, tapi berhubung tadi ada yang mengetuk pintu, maka ibu yang ke depan untuk melihat siapa orang yang bertamu ke rumah ku ini.


"Mau apa dia buk?!" Tanyaku.


"Mana ibu tahu nak, ayo kita hadapi berdua, kalau dia macam-macam, nanti ibu pukul pakai ini" ujar ibu sambil menunjukan centong nasi kepadaku, aku pun tertawa melihatnya.


"Asti bikin minum dulu buat dia buk" ucapku, ibu pun mengangguk.


Setelah selesai membuat air minum untuk mertuaku, aku segera datang menghampirinya,


"Apa kabar mak,?" Ucapku sambil bersalaman dengan beliau.


"Baik!" Jawabnya singkat.

__ADS_1


"Tumben emak kesini,?" Tanyaku basa basi.


"Asti, seharusnya jika kamu bertengkar dengan suami itu, kamu tidak perlu kabur kesini, tiap sebentar kabur terus, ngadu sama keluarga mu!, Harusnya kamu itu selesaikan dengan baik, bukan nya malah surat ini yang datang ke rumah,!" Ucap ibu sambil melempar amplop yang berlogo pengadilan agama di meja ruang tamu,


Aku dan ibu saling pandang, shock dengan ucapan emak yang kurang sopan, karena baru kali ini Emak bertamu ke rumah ini.


"Kamu seharusnya pulang dan bicara baik-baik dengan Entis bukan nya malah melayangkan gugatan cerai!" hardik Emak kepadaku, Oh rupanya surat panggilan dari pengadilan sudah sampai di tangan kang Entis, dan surat itu sekarang berada di hadapanku, setelah di lempar Emak di meja, aku tersenyum senang.


"Aneh ini orang, sudah tahu anak nya yang salah, malah ngomelin anak orang!" Ibu sepertinya kesal dengan kelakuan enak, hingga ibu menghardik enak seperti itu.


"Kamu jangan ikut campur, ini masalah rumah tangga anak ku, kamu tidak tahu apa-apa soal ini!" Jawaban Enak pedas kepada ibu ku.


"Hei, yang ikut campur itu siapa!, Aku atau kamu?!" Bentak ibu lagi.


"Kalian ternyata sama saja, sebelas dua belas!, Ada orang bertamu malah di bentak-bentak, tidak punya Etika!" Tentu aku yang mendengar Emak bicara seperti itu langsung naik emisi ku, ingin sekali aku sumpal mulut dia itu memakai asbak yang ada di meja ini, tapi itu hanya keinginan saja, aslinya aku tidak berani karena bagaimana pun dia orang yang lebih tua dari aku.


"Siapa yang tidak punya etika itu?! Aku atau kamu!, Datang bertamu ke rumah orang marah-marah, bilang aku jangan ikut campur masalah anak, tapi kamu sendiri ikut campur sampai datang kemari memarahi anak ku,!, Pantes saja anak ku minta cerai dari suaminya , orang suami benalu macam si Entis itu memang seharusnya di buang bukan di pelihara!" Sewot ibu dengan penuh amarah.


"Sembarangan kamu ya bilang anak ku di pelihara!, Kamu kira anak ku hewan!, Kurang ajar jamu ya!" Ucap Emak yang tidak terima dengan ucapan ibu, Enak bangkit dari duduknya sambil menunjuk - nunjuk ibuku , ibu tidak kalah emisi, dia juga bangun dari duduk nya dan menyingsingkan lengan bajunya persis seperti preman tang mau berantem.


Aku segera bangun untuk melerai pertikaian mereka,


"Sudah lah buk, Mak, jangan bertengkar, malu bila tetangga dengar!" Ucapku sambil merentangkan tangan di antara mereka .

__ADS_1


"Ibu tidak terima dengan sikap dia tang seenaknya bertamu di rumah ini, tidak punya ada kamu!" Teriak ibu sambil menunjuk wajah Emak.


"Kamu yang mulai ngajak ribut! Aku kesini buat jemput si Asti untuk pulang ke rumah suaminya, kenapa kamu yang marah!" Jawab Emak sambil teriak.


Aku menekan pelipis ku sendiri karena pusing menghadapi mereka berdua yang sedang bersitegang, mempertahan kan argumen dirinya yang sama-sama merasa benar.


"Cukup Mak!, Asti tidak akan pulang, dan Asti tetap pada pendirian Asti jika Asti akan bercerai dengan kang Entis, jadi silahkan sebaiknya Emak pulang dan kita bertemu di pengadilan nanti!" Akhirnya aku juga ikut teriak karena kesal , Wajah Emak nampak merah menahan amarah, sepertinya Emak tidak suka mendengar ucapanku.


"Kamu tidak bisa seenaknya menggugat cerai di Entis nanti gimana nasib dia jika berpisah dengan kamu!." Ucap emak tegas.


"Maksud kamu apa bicara begitu,,?!, Pasti kamu bingung ya jika si benalu itu berpisah dengan anak ku, dia tidak bisa lagi hidup enak, bahkan mungkin bisa jadi kelaparan" ledek ibu kepada Emak.


"Enak saja kamu bilang!, Anak ku tidak akan kelaparan hanya karena di tinggal perempuan mandul kayak gini!, Anak ku masih punya orang tua yang bisa ngasih dia makan!, Lagi pula si Entis sebentar lagi juga dia akan jadi orang kaya, jadi kamu Asti! jangan nyesel kamu minta pisah sama Si Entis!" Ucap emak sarkas.


"Bagus dong, dia kaya biar tidak jadi beban orang terus!, Tapi saya sarankan sama kamu ya nenek peyot, kalau mimpi jangan ketinggian nanti begitu jatuh sakit loh!" Ujar ibu sambil tersenyum sinis.


"Kamu yang peyot, aku tidak mimpi jika si Entis sebentar lagi kaya, tanya saja sama anak mu, si Entis sudah cerita sana dia sebentar lagi dia dapat warisan jual tanah gusuran untuk membuat jalan tol, di Entis sudah berencana membeli rumah untuk dia!, Tapi rupanya dia memang tidak mau di ajak hidup senang, malah minta cerai!, Dasar istri tidak tahu terima kasih,!" Kata Emak sewot terus.


"Maaf ya mak, aku tidak ingin ikut - ikutan gila menikmati uang jin itu yang belum jelas benarnya, jika benar pun jangan harap aku mau tinggal di rumah yang di beli kang Entis lengkap dengan gundik nya, lebih baik sekarang Enak pulang saja, kira bertemu di pengadilan, saya pusing meladeni Amarah Emak yang tidak jelas ini!" Ucapku pekan tapi tegas, ibu cekikikan mendengar omonganku, tentunya tawa ibu itu meledek orang yang ada di hadapan nya, yaitu Emak!


"Dasar, anak dan ibu sama -sama tidak punya akhlak!, Tamu di usir terus!, Lihat saja nanti kamu as, kamu pasti memohon untuk kembali ke si Entis, jika si Entis sudah jaya!" Ucap Emak sambil menghentakkan kakinya dan pergi dari rumahku.


Aku pun akhirnya menghela nafas lega setelah dia pergi, ibu masih terdengar ngedumel ngomongin tingkah Emak.

__ADS_1


__ADS_2