Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
capek


__ADS_3

"Terus semuanya salah aku!" Jawabku sambil menatap tajam keduanya.


"Iya lah, masa salah Emak!" Jawab Emak sarkas.


maksud emak?!" Tanyaku sambil menahan emosi.


"Si Entis dari dulu selalu rajin bekerja, sampai-sampai dia punya usaha sendiri, sekarang lihat! Dia berubah jadi tukang mabok, semenjak nikah sama kamu!, Ini pasti gara-gara kamu!"


Terus terang, hatiku bergemuruh emosi mendengar ucapan emak, walau pun ini bukan yang pertama kali di ucapkan emak, tapi sakitnya masih saja menusuk hati ini.


"Mak, kang Entis tuh bukan anak kecil yang bisa di pengaruhi, tapi dia tuh udah tua! Udah bangkotan! Dia suka mabok karna memang iman nya tipis! Jangan suka menutupi kesalahan anak sendiri dengan melempar kesalahan ke orang lain Mak!"


Akhirnya unek-unek yang selama ini aku tahan keluar juga, aku sudah lelah di perlakukan seperti ini.


"Asti! Jaga ucapan mu ya! Jangan pernah bentak emak!"


Kang Entis membentak ku sambil matanya melotot, aku sedikitpun tidak takut.


"Kang sepertinya rumah tangga kita memang sudah tidak sejalan lagi, sebaiknya kamu cepat talak aku sekarang juga kang!"


Wajah kang Entis berubah kaget, dia menatapku tajam.


"Kamu jangan lari dari tanggung jawab as, kalo kamu minta cerai sama si Entis sekarang, lantas yang bayar hutang dia ke emak siapa!"


Bentakan emak membuatku makin sadar, aku di sini sama sekali tidak ada harganya, nasibku sangat menyedihkan sekali rasanya.


"Asti bukan bapaknya kang Entis Mak, Asti istrinya kang Entis, Asti tuh tanggung jawab kang Entis, bukan sebaliknya, kang Entis bukan tanggung jawab Asti!, Soal hutang dia itu bukan urusan ku!" Jawabku lantang sambil berdiri saking emosinya aku menunjuk nunjuk kang Entis.


Lalu aku pun melangkah pergi ke kamar


"Eh kamu! Makin lama makin kurang ajar ya! Aku belum selesai sudah di tinggal pergi! Astiii!!!..!

__ADS_1


Aku tidak perduli teriakan emak yang cempreng dan keras, aku tetap masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.


"Asti! Buka pintu!"


Kang Entis menggedor pintu kamarku, aku pasang headset lalu memutar musik dari hape ku, dengan begitu aku tidak bisa dengar umpatan mereka, walau ada sedikit samar terdengar tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukan nya, aku harus bersiap pergi kerja, walau bagaimana pun bekerja adalah hal penting bagiku, sebab aku harus bisa berdiri di atas kaki ku sendiri dalam menghadapi mereka, aku harus bisa mengumpulkan uang sebanyak banyak nya untuk bisa membuktikan pada mereka nanti , jika aku berpisah dengan kang Entis aku harus jadi orang sukses, aku tidak ingin terpuruk dan di pecat dari pekerjaan ku jika aku malas malasan kerja karena terlalu banyak masalah dalam rumah tangga ku.


Aku beranjak ke luar kamar setelah selesai memakai pakaian kerja, di sana hanya adalah kang Entis sendirian,


"As,aku antar ya kerjanya" ucap kang Entis menawarkan diri, tadi dia marah - marah, sekarang baik, pasti ada maunya.


"Tidak perlu!," Ucapku ketus.


"Aku mau pinjam motor kamu, jadi aku antar kamu kerja nanti kamu pulang naik ojek atau angkutan umum saja ya." Oh ternyata itu niatnya baik mau antarin aku kerja, itu bukan baik tapi memang ada maunya.


"Motor berguna nanti aku mau ada perlu, aku tidak bisa pinjamkan kamu motor!" Ucapku menolak memberi pinjaman motor.


"As, aku baru kali ini loh minjam motor kamu, masa kamu pelit sih!" Kang Entis sudah mulai lagi ngajak bertengkar, aku tidak menjawab karena harus segera pergi kerja , aku cuekin kang Entis dan langsung naik di atas motor hendak pergi kerja.


Aku langsung hidupkan mesin motor dan langsung aku gas, pergi menghindari kadang Entis, biarlah aku tidak pamitan sama dia toh dia juga memang lelaki yang tidak patut di hargai.


"Asti mana jatah uang buat makan siang ku!" Teriak kang Entis, tapi aku tidak perduli langsung tancap gas lebih kencang lagi.


***


Menjelang Maghrib aku sampai rumah , seharian tadi di kantor ada acara, jadi aku pulang terlambat, badan ini sangat lelah, pekerjaan di kantor sedikit menguras tenaga dan juga pikiran, aku ingin segera istirahat, pulang ke rumah, kang Entis sedang duduk sambil nonton tv, tumben dia nonton tv, kang Entis paling anti nonton acara tv, dia lebih suka nongkrong, ini tumben aku pulang kerja dia ada di rumah.


Aku mengucapkan salam dan langsung ngeloyor masuk kamar, tanpa menunggu jawaban salam dari kang Entis.


"Asti, kenapa pulang terlambat!" Tanya kang Entis.


"Lembur!" Jawab ku asal.

__ADS_1


"Kamu tidak pergi main kan?!, Aku nunggu kamu di rumah seharian tapi begitu datang langsung saja masuk kamar!" Ucapnya menuduhku seenaknya, lagian siapa suruh nunggu aku.


"Aku dari siang belum makan as!" Teriaknya.


Aku masih tidak menjawab teriakan nya di ruang tengah, aku sibuk mengganti pakaian di kamar.


"Asti buka pintunya,! Aku mau ngomong!" Teriak kang Entis.


"Ada apa?!" Ucapku ketus sambil keluar kamar setelah mengganti pakaian rumah.


"Tolong akang lah as, si Euis dari tadi marah - marah sama akang minta duitnya di kembalikan, kan cuma satu juta." Cuma satu juta dia bilang, ya ampun dia kira duit segitu bisa aku cari di jalanan, seenaknya minta padaku untuk membayar hutang nya,


"Kata Emak hutang kamu cuma lima ratus kenapa sekarang jadi satu juta!" Ucapku sambil menatap tajam,


"Iya tapi kan yang lima ratus lagi akang minjam nya sama kawan akang, jadi total nya satu juta sama duit yang dari si Euis.!" Ucap kang Entis dengan gestur yang seolah bingung untuk menjawab pertanyaan ku.


"Bang aku capek mau istirahat, aku juga mau mandi, terus makan habis pulang kerja, jadi aku tidak ingin mendengar keluhan mu yang itu- itu saja dari pagi! Hutang saja yang akang bahas!" Ucapku Emosi


"Iya maaf deh, kalau kamu lapar biar akan belikan makan ya" tumben nih orang mau beliin aku makan ucapku dalam hati.


"Hmmm.. " jawabku.


"Sini uang nya, biar akang belikan." Ucapnya sambil menengadahkan tangan.


"Aku tidak ada uang, biarlah aku tidak makan malam, besok pagi saja aku makan sambil sarapan."jawabku malas, padahal nanti jika dia pergi aku akan cari makan buat makan malam ku sendiri.


"Ya ampun, as cuma buat makan aja kamu tidak ada uang, terus kamu kerja tiap hari buat apa?! Jika tidak punya uang lebih baik kamu gak usah kerja aja.! Kata kang Entis menyebalkan.


"Kalau aku gak kerja siapa yang bayar kontrakan rumah ini, ? Siapa yang ngasih makan suami yang pengangguran?, Siapa yang bayar listrik dan juga ngasih rokok kamu!" Bentak ku sombong, bahwa selama ini aku sudah banyak menanggung hidupnya.


"Sombong sekali kamu!" Ucap suara seseorang dari luar.

__ADS_1


Aku menoleh dan ternyata Emak sudah berdiri di depan pintu masuk, aku memutar bola malas melihat dia datang lagi ke rumah ini, apa mereka tidak bosan dari kemarin kita bertengkar terus.


__ADS_2