
Bidan Eni memeriksa kondisi obi, karena Obi orang yang sangat parah bila di banding judi.
"Maaf akang-akang, sepertinya kang obi harus segera di bawa ke Rumah Sakit segera, karena saya tidak bisa menanganinya, kang obi sudah lemah sekali, ini sudah sangat parah, biar segera di tindak di sana, karena di Rumah Sakit perlengkapan alat nya lengkap tidak seperti disini, maaf saya tidak bisa menanganinya." Ucap bidan Eni menggeleng tidak bisa mengatasi Obi.
"Terus si judi gimana buk bidan?" Entis bertanya tentang ke adaan si judi,dia takut jika teman nya mati gara-gara keracunan, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, karena sudah membuat kawan nya tergelatak tidak berdaya, ini semua gara-gara dana untuk membeli minuman tidak cukup jadi nekad membeli losion anti nyamuk untuk tambahan, semua gara-gara istrinya yang nekad pergi dari rumah, jika saja Asti di rumah pasti dia tidak akan kesusahan uang, itulah pikiran Entis saat ini, dia hanya bisa menyalahkan Asti yang tidak tahu menahu soal kejadian ini, yang ada di pikiran Entis sekarang ingin membawa Asti kembali kepadanya dengan cara apapun, agar dirinya tidak kesusahan lagi soal uang jika Asti berada di dekatnya lagi.
"Kalau kang judi sepertinya dia masih sadar hanya muntah-muntah saja, tapi kalau saran saya lebih baik kang judi juga di bawa ke sana saja, karena dia mengeluh kesakitan di bagian dadanya biar di Rontgen " Ucap bidan Eni, membuyarkan lamunan Entis.
Akhirnya mau tidak mau mereka segera melajukan motor mereka menuju rumah sakit, jarak dari kampung menuju rumah sakit lumayan jauh, jika di tempuh oleh motor maka mereka akan memakan waktu sampai satu jam, hingga sampai Rumah Sakit.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit, obi sudah beberapakali kejang di atas motor hingga membuat Entis beberapa kali oleng membawa motornya, karena keseimbangan nya terganggu, dan Entis pun gugup, takut si obi mati di jalan.
Setelah sampai ke rumah sakit mereka segera membawa Obi dan Judi ke IGD.
***
"Buk, ini Umar telpon beberapa kali, tapi laporan nya baru muncul karena sinyal nya juga baru ada." Asti bicara dengan ibunya setelah dia mengecek hpnya, ada beberapa panggilan dari Umar, dan beberapa panggilan dari tetangga.
"Asti, coba kamu lihat di grup warga!" Pekik ibu mengagetkan Asti dan bapak.
"Ada apa buk! Kenapa teriak kayak gitu!" Bapak yang sedang rebahan setelah makan malam, di atas sofa vila yang di sewa asti seketika langsung bangun karena kaget mendengar pekikan ibu.
Ibu segera memberikan telpon genggamnya kepada Asti, tangan ibu gemetaran, ibu pun menangis, Asti dan bapak pun akhirnya membuka Vidio yang bertuliskan (penggerebekan pelecahan Umar kepada seorang tamu perempuan.)
__ADS_1
Di sana ada beberapa gambar Umar sewaktu di sidang warga, Asti syok melihatnya, tapi tangan nya segera mengklik Vidio itu, mereka melihat Vidio Umar saat di sidang sampai selesai, dan di Vidio itu jelas jika Umar tidak bersalah, ternyata judul Vidio dan isi Vidio bertolak belakang, itu bukan Umar yang melecehkan tapi Euis yang memfitnah Umar, bapak Umar sangat emosi melihat Vidio itu, dia mengepalkan tangan nya karena anak lelaki kesayangan nya kini sudah terkena fitnah kejam, dia pun emosi kepada si pembuat judul Vidio.
Asti dan ibu akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Vidio itu dengan tuntas, tapi hati mereka juga sakit karena Umar sudah di fitnah, tapi begitu warga tahu jika Umar tidak bersalah maka ibu pun menangis bahagia, walau ibu sempat shock tadi membaca judul Vidio itu, tapi hatinya yakin jika Umar tidak mungkin berbuat senista itu.
"Kita pulang sekarang buk, kasihan Umar di rumah sendiri!" Ucap bapak.
"Kita baru sampai pak, bapak juga pasti capek abis bawa mobil dari rumah kesini itu tidak dekat pak, belum macetnya, bapak pasti letih, sebaiknya besok pagi saja kita pulang pak!" Ucap Asti khawatir dengan kondisi fisik bapaknya.
"Tapi kasihan Umar teh!" Ibu menimpali ucapan Asti.
"Asti tahu buk, tapi tadi kan sudah jelas jika Umar tidak bersalah,!"
Ibu tidak menjawab ucapan Asti lagi, dia langsung menelpon anak lelakinya, tapi ternyata Umar tidak menjawab telpon dari ibunya, karena Umar tertidur pulas sekarang karena letih.
"Umar tidak angkat telpon ibu pak!" Ibu kelihatan masih khawatir.
Selama bapak menelpon dengan pak RT, raut wajah bapak berubah, kadang mereh padam karena emosi, terus tersenyum lega.
"Alhamdulillah kalau begitu te, aku ucapkan terima kasih ya sudah mau membantu Umar dalam masalah ini,!" Ucap bapak memanggil pak RT dengan sebutan te.
"..."
"Iya saya juga percaya kepada anak saya te, Umar tidak akan seperti itu, sekali lagi aku ucapkan terima kasih te, assalamualaikum" salam bapak mengakhiri obrolan nya dengan pak RT.
__ADS_1
"Umar sudah tidak apa-apa, nama baiknya juga sudah tidak tercemar lagi, karena si Euis nya sudah mengakui jika dia yang salah, benar kata teteh Asti sebaiknya bapak pulang besok pagi saja, teteh sebaiknya besok tidak usah ikut bapak, kamu di sini saja sama ibu, biar nanti setelah liburan kalian selesai , bapak jemput kalian di sini!" Ucap bapak.
"Ibu mau pulang saja pak!" Ucap ibu
"Asti juga mau pulang pak, Asti liburan di rumah saja, Asti juga khawatir takut sesuatu terjadi pada Umar lagi jika dia sendirian di rumah."
"Tapi teteh sebaiknya tinggal di sini saja, ibu akan temenin teh Asti di sini, ibu takut si Entis nanti ke rumah untuk ganggu kamu lagi!" Akhirnya ibu sadar jika Asti juga harus di jauhkan dulu dari Entis, karena ibu takut Entis berbuat macam-macam lagi.
"Nah itu bagus buk, biar bapak besok pulang sendiri saja, Umar tidak boleh sendirian di rumah, kalian tetap di sini, nanti jika kalian mau pulang, bapak sama Umar akan jemput kalian ke sini." Bapak mendukung ucapan ibu.
"Tidak buk, Asti tidak akan bisa membiarkan bapak pulang sendirian, Asti tidak akan tenang buk, sebaiknya kita pulang saja besok ya." Asti tetap ingin pulang, karena dia tidak ingin bapaknya pulang sendirian.
"Ya sudah besok pagi setelah solat subuh kita pulang saja buk." Akhirnya bapak mengalah, dia juga sebenarnya tidak akan tenang jika meninggalkan anak perempuan dan istrinya di tinggal di sini hanya berdua.
"Baik lah pak, untung saja koper belum kita bongkar ya as, jadi kita tidak perlu repot beres-beres lagi!" Ucap ibu sambil tersenyum
"Iya buk, kita di sini numpang nginap doang bukan liburan!" Jawab Asti sambil tergelak, bapak dan ibu ikut tertawa menanggapi ucapan Asti.
"Ya sudah sekarang bapak tidur ya,biar besok badan nya vit." Ibu menyuruh bapak tidur karena besok subuh mereka harus segera kembali lagi ke rumah.
"Asiiiiiap.." jawab bapak sambil ngeloyor masuk kamar.
Asti. Dan ibu cekikikan mendengar jawaban bapak, lantas mereka pun segera tidur di kamar satunya lagi,sengaja ibu memilih tidur sama Asti, karena tidak ingin mengganggu suaminya tidur.
__ADS_1
Pagi ini setelah solat subuh Asti dan keluarganya segera bertolak kembali pulang ke rumah, sengaja mereka pergi subuh dari vila karena ingin menghindari macet, jika siang sedikit saja sudah pasti jalan yang mereka lalui akan terjebak macet.
"Pak kita cari sarapan yuk" setelah tiga jam perjalanan dan mereka hampir sampai ke tempat tujuan, Asti mengajak kedua orang tuanya untuk mencari sarapan.