
"Emak ngusir saya?!" Anton menatap tajam netra Emak tanpa merasa segan sedikitpun
"Iya! Pergi kamu!" Teriak Emak emosi karena Anton berani menatap nya seperti itu.
"Tidak Mak! Jangan usir suami Euis!" Euis melarang emak mengusir suaminya.
"Lelaki macam ini masih kamu pertahan kan is! Di mana otak kamu itu!" Geram emak.
"Baik lah kalau Emak mengusir saya! Tapi ingat ya Mak, anak emak itu sedang mengandung anak saya! Jika saya pergi berarti anak Euis itu akan lahir tanpa seorang ayah! Jika anak itu sengsara karena tidak miliki ayah, berarti yang harus di salahkan itu adalah emak!" Ancam Anton sambil ekor matanya melirik Euis, dia secara tidak langsung menakuti Euis juga.
"Mak, Euis mohon jangan usir kang Anton, Euis tidak mau kang Anton pergi, Euis harap emak memaafkan kang Anton," Euis bersimpuh di hadapan ibunya untuk memohon agar Anton tidak di usir.
"Kamu sadar is! Apa yang kamu harapkan dari lelaki macam ini!? Sudah kasar! Pengangguran, kerjanya memeras kamu terus! Apa yang kamu harapkan dari dia is!" Emak tidak habis pikir dengan pikiran Euis hingga dia mempertahan kan lelaki model seperti itu.
"Euis sedang hamil Mak! Euis tidak mau anak Euis lahir tanpa seorang ayah! Dari kecil Euis tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah, Euis selalu iri kepada teman Euis karna mereka memiliki seorang ayah yang bisa mereka banggakan di hadapan semua teman, tapi aku hanya bisa diam dan menjadi pendengar setia ketika temanku bercerita tentang sosok ayah! Aku tidak ingin anak ku ikut merasakan apa yang aku rasakan dulu Mak! Jika Emak tetap mengusir dia, maka Euis juga akan ikut pergi dari sini bersama kang Anton!" Kini Euis mulai menekan dan juga mengancam emak,
__ADS_1
Emak sangat emosi mendengar ucapan anaknya ini, nafas emak memburu dengan cepat dan wajahnya pun terlihat memerah karena emosi mendengar ucapan Euis.
"Baiklah is, semua terserah padamu! Aku tidak akan mengusir suami benalu yang tidak tahu diri ini! Tapi aku tidak akan pernah lagi memberi secuil pun uang kepada kalian!" Emak langsung beranjak dari hadapan anak dan menantunya ini, di sudut matanya meluncur bening air mata kesedihan atas ucapan Euis, selama ini Euis tidak pernah mengeluh dan bercerita kesedihan dirinya tentang sosok sang ayah, tapi kini Euis mulai membuka derita hatinya secara terbuka kepadanya, membuat emak sedih teringat mendiang sang suami, tadinya emak ingin ke kamar mandi tapi karena kejadian ini rasa pengen buang air kecil pun langsung hilang, emak langsung kembali ke warungnya dengan perasaan sedih
"Puas kamu sudah membuat aku di usir ibumu!" Teriak Anton.
"Kang! Aku mohon jangan pergi ya, jangan tinggalkan aku!" Euis memohon kepada suaminya agar tidak di tinggalkan.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku ingin sekarang kamu sediakan aku uang satu juta! Aku mau berbisnis dengan temanku!" Ujar Anton merasa berada di atas angin dan tanpa ragu dia meminta uang satu juta dengan memaksa.
Euis Mendekati kamar emak dengan mengendap-ngendap, Euis membuka pintu kamar dengan perlahan agar tidak berbunyi, Euis pun langsung menyelinap masuk ke kamar setelah berhasil masuk ke kamar emak yang tidak dikunci, Euis pun mulai mencari uang simpanan emak, dia mengacak-ngacak lemari hingga akhirnya Euis menemukan sebuah amplop coklat yang cukup tebal tergelatak di bawah baju emak.
Euis langsung mengambil amplop itu dengan jantung yang berdebar, rasa takut menyelinap dalam dirinya, seumur hidupnya , Euis tidak pernah mencuri uang emak, justru biasanya dirinya yang selalu memberikan emak uang.
Euis membuka amplop coklat itu, lembaran uang merah langsung terlihat menumpuk rapih terikat kertas yang bertuliskan nominal uang sepuluh juta, Euis langsung bersorak girang karena berhasil menemukan uang emak, lantas Euis menyembunyikan amplop berisi uang itu di balik bajunya, dia tidak ingin aksinya di ketahui ibunya, Euis juga terpaksa mengambil uang itu semuanya guna berjaga-jaga terkena tuduhan emak, sebab jika uang itu di ambil satu juta, sudah pasti emak akan menyalahkan dirinya atau pun menuduh suaminya yang mengambil, tapi jika amplop ini di ambil semua Euis akan mengelak mengatakan jika emak pasti lupa menyimpan amplop ini jika dirinya di tanya oleh emak soal keberadaan amplop yang hilang di lemarinya ini.
__ADS_1
Euis pun langsung saja keluar kamar emak tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, dirinya langsung masuk kamar lagi dan menemui suaminya, Euis mengambil amplop dari balik pakaian nya di hadapan suaminya, Anton memperhatikan Euis dengan mata berbinar setelah dirinya melihat Euis mengeluarkan amplop dari balik pakaian istrinya.
Anton yakin jika dalam amplop itu adalah uang, dan ternyata tebakan Anton itu benar, sebab ketika Euis mengeluarkan isi amplop itu, langsung saja uang merah meluncur bebas di tangan Euis, Anton melotot ketika melihat isi amplop itu ternyata bukan satu juta, tapi sepuluh juta!
Euis langsung mengambil uang sebanyak satu juta untuk sang suami, tapi Anton segera saja merebut uang itu dari tangan Euis yang sedang menghitung uang untuk Anton
"Kang, jangan semuanya, ambil satu juta saja! Itu uang emak, nanti aku akan kembalikan!" Ucap Euis berusaha merebut kembali uang dari tangan Anton.
"Sudah kamu diam saja! Biar uang ini akang pegang, jangan di kembalikan lagi kepada emak, emak itu uang nya banyak is! Dia tidak akan rugi jika uang ini aku ambil!" Ucap Anton sambil menyembunyikan uang itu di balik punggungnya untuk menghindar dari gapaian tangan Euis yang ingin merebut kembali uang itu.
"Tidak kang! Aku tidak mau!" Ucap euis panik!
"Sudah diam! Uang ini akan aku buat modal Bisnisku, nanti jika bisnis ini lancar , nanti hasilnya juga kamu akan ikut menikmatinya." Anton sudah bisa membayang barang yang akan di belinya nanti dengan jumlah besar, semakin dia banyak membeli barang haram itu, maka akan semakin banyak keuntungan yang dia dapat, di otaknya sudah tergambar pundi-pundi rupiah yang akan di raupnya.
"Kang, Euis mohon jangan di ambil semua kang!" Euis mengiba sambil menangis, dirinya memikirkan perasaan emak jika dia tahu yang nya hilang, Euis akan merasa sangat berdosa jika membuat ibunya bersedih
__ADS_1
Anton tidak memperdulikan lagi rengekan istrinya, dua langsung saja pergi keluar tanpa berpamitan, Euis mengejar suaminya untuk meminta uang itu kembali, tapi Euis tidak berhasil mengejar suaminya ,karena Anton dengan cepat langsung melesat pergi membawa motor Euis.