
Kini Tuti tinggal di rumah Kontrakan yang biasa aku tinggali bersama Asti, karena dia pergi jadi Tuti lah yang menjadi penggantinya, Tuti juga membayar kontrakan itu selama satu bulan hasil dari dia bekerja di kafe musik.
Ketika aku bertanya soal uang warisan , dia bilang uang nya belum cair, entah kapan yang itu bisa aku terima, aku sudah tidak sabar ingin membeli rumah dan juga kendaraan, jika semua sudah aku beli aku yakin Asti akan kembali kepadaku walau tanpa harus ku paksa.
Setiap hari aku selalu memikirkan istriku itu ,hingga aku memutuskan untuk menjemput nya ke sana, aku yakin Asti akan luluh jika aku datang, tapi bukan nya Asti ikut dengan ku yang ada aku di hajar si Umar!, Sial@n!
Ada dendam di hati ini, aku berencana menjemput paksa Asti di kantornya , aku dan beberapa teman tongkrongan datang ke tempat kerja untuk membawa Asti ke rumahku, aku terpaksa membawa teman-teman ku untuk membantu membawa Asti jika berontak, aku juga menggunakan mobil salah satu teman nongkrong ku yang bernama Gandi, mobil itu juga bukan mobil pribadi gandi tapi mobil majikan nya, karena dia seorang supir pribadi seorang Tionghoa.
Tapi rencana ku juga gagal karena Asti di tolong oleh satpam di sana dan juga di tolong masa yang berada di sekitar sana, kami terpaksa kabur dari sana karena takut di keroyok, aku kalah jumlah dengan masa yang menolong Asti. aku benar-benar emosi, tidak bisa berhasil lagi membawa Asti kembali kepadaku.
Malam nya aku nekad datang kerumah Asti, kebetulan sekali di saat aku tiba di sana Asti keluar dengan beberapa orang yang tidak aku kenal, aku berteriak memanggil istriku, tapi setelah mereka semua melihatku, Asti di bawa masuk oleh ibu dan seorang perempuan cantik ke dalam rumah, aku di datangi oleh bapak dan Umar, dan ada satu lagi seorang pria gagah yang baru aku lihat, mereka mendekatiku di pintu pagar.
"Mau apa kamu!" Umar sepertinya memang membenciku, di tidak ada sopan santun nya terhadapku.
"Aku mau menjemput istriku!" Teriak ku sambil melotot.
"Kamu itu lelaki yang menyebalkan yang pernah aku kenal!, Kakak ku tidak akan pernah kembali lagi dengan lelaki tidak bertanggung jawab model kamu!" Bentak umar kurang @jar!
"Kalian tidak bisa menghalangi aku!, Aku yang berhak memiliki Asti, karena dia istriku!' teriak ku.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak di rumah ini!, Kalau tidak aku akan panggil polisi untuk membawa mu ke penjara karena sudah menggangu kenyamanan kami!" Tekan bapak nya istriku penuh penekanan, aku melihat mertua laki-laki ku ini dengan pandangan tajam, aku paling sebal jika harus melibatkan polisi di setiap aku bermasalah dengan mereka, walau hanya gertakan saja tapi sejujurnya nyaliku ciut jika berurusan dengan polisi, akhirnya aku mengalah pergi dari sana tanpa berpamitan, tapi lihat saja nanti, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah memperlakukan aku seperti ini.
Aku segera pulang dengan membawa motor teman ku, aku langsung ke tempat tongkrongan untuk menghabiskan waktu bersama mereka, mungkin dengan aku menambah minum lagi aku bisa melupakan masalahku dengan Asti.
Sejujurnya aku rindu dengan istriku itu, aku malas menyentuh Tuti karena dia bukan lah tipe ku, tapi demi uang aku paksakan satu atap dengan nya, walau aku lebih sering tidur di basecamp ini.
"Tis di luar ada bini Lo tuh!" Temanku si Jupri memberi tahu jika di luar basecamp ada istriku, spontan mataku membulat mendengar ada istriku, yang ada di kepalaku tentunya Asti , karena Asti adalah istriku, aku segera pergi keluar untuk menemui Asti, hatiku berbunga ternyata Asti mencariku sampai ke sini, suatu hal yang tidak pernah dia lakukan selama kami menikah.
Ketika aku berada di luar basecamp, aku hanya menemukan Tuti, jadi rupanya Tuti lah yang mencari aku ke sini!, Kawan ku semuanya memang tahu jika aku sudah menikah lagi, jadi aku tidak bisa menyalahkan Jupri jika dia bilang Tuti adalah istriku.!
"Kang!, Sudah dua hari akang tidak pulang!, Aku di rumah kesepian kang!" Ucap Tuti merajuk.
"Akang tuh kenapa sih kang, kita ini masih pengantin baru, seharus nya kita itu pergi honeymoon ,tapi ini mah boro-boro honeymoon, dari pertama nikah sampai sekarang sudah satu Minggu aku masih saja di suruh kerja sama akang!" Ucap Tini dengan raut sedih.
"Apaan sih kamu!, Datang kesini cuma ngomong tidak jelas honimon - honimun apaan aku tidak tahu!, Sana pulang!, Kalau aku mau juga tidur sama kamu nanti aku pulang!" Bentak ku kesal kepada Tuti, aku menyuruhnya pulang karena malu sama temanku, baru kali ini aku di cari istri dan di suruh pulang, dulu Asti tidak pernah melakukan ini walaupun aku sering tidak pulang ke rumah.
"Akang itu kenapa sih, jadi ketus sama aku!, Dulu sebelum menikah akang mau nemenin aku di kafe, bahkan akang tidur di kontrakan ku, tapi kenapa sekarang akang berubah!" Ucapnya masih tetap dengan wajah memelas.
"Aku nanti juga pulang, sana pergi!" Usirku.
__ADS_1
"Haha.. tis pulanglah, istri mu pasti sudah kebelet itu tis.. hahaha." Suara salah satu teman ku berteriak dari dalam basecamp sambil tertawa meledekku, dan di sambut gelak tawa temanku yang lain!, Sungguh baru kali ini aku di permalukan perempuan di depan teman-teman ku.
Aku pun melotot kepada Tuti agar segera meninggalkan tempat ini, tapi rupanya Tuti tidak mau pergi malah merajuk, sementara teman ku terus saja berteriak meledek ku, akhirnya aku menuruti Tuti ikut pulang, karena aku tidak tahan dengan rengekan Tuti dan gelak tawa temanku, sepanjang jalan aku memaki Tuti.
"Dasar istri gila kamu!, Ngapain kamu pakai mencari aku segala!" Geramku sambil menoyor kepalanya, selama aku menikah dengan Asti aku tidak pernah menoyor kepal Asti, berbeda dengan perempuan gendut ini, baru juga beberapa hari menjadi istriku aku sudah berani memaki dan menoyor kepalanya.
"Kok akang gitu sih sama aku?!, Aku juga butuh akang,! Tapi kenapa akang malah tega memarahi aku kang," ucap Tuti sambil menangis.
Sedikitpun aku tidak merasa kasihan kepadanya, yang ada justru kesal, akhirnya aku berjalan mendahului Tuti, kami memang berjalan kaki dari basecamp ke rumah, soalnya tidak begitu jauh jika memotong jalan lewat kuburan umum, tapi jika mengikuti jalan beraspal lumayan lah bikin kaki pegal sedikit, aku memotong jalan ke area pekuburan biar lekas sampai rumah.
"Kang tunggu, aku takut!" Tuti memanggilku pas dekat kuburan umum, aku pun akhirnya mempunyai ide untu mengerjai nya.
Aku berjalan semakin cepat dan hampir berlari, Tuti terus berteriak memanggilku sambil berlari, aku semakin mempercepat jalan ku hingga hampir berlari, aku ingin tertawa melihat dia ketakutan, malam-malam aku mengajak dia berolah raga di kuburan ini, semoga saja dia besok langsung bisa langsing seperti Asti. Haha! Aku tertawa jahat melihat dia menangis dan berlari kencang di belakang, jauh dari diriku, Rasakan kamu!, Karena ulah kamu tadi aku di buli teman-teman ku, aku yakin Tuti akan kapok tidak akan mau lagi mencariku di basecamp lagi!
Aku sampai rumah terlebih dahulu, dan Tuti masih tertinggal jauh, aku tidak perduli dengan keadaan nya, aku pun segera membuka pintu dengan kunci cadangan ku, lalu masuk untuk mencari makanan, tumben di meja makan ada ayam goreng, lebih baik aku sikat sekarang saja tidak perlu nunggu si gendut.
Di saat aku sedang menikmati makan malam ku dengan ayam, Tuti datang dengan nafas yang terengah - engah, dia langsung memukul pundak ku dengan lumayan keras, hingga aku langsung tersedak!
"Syukurin!, Itu azab akang yang sudah ninggalin aku di kuburan." Tuti bukan nya memberikan aku air minum malah meledek!
__ADS_1