
"Aku baik-baik saja mar, itu semua karena kamu," jawab ayu, walau bibirnya tersenyum tapi matanya berderai air mata karena tidak tega melihat kondisi Umar.
"Syukurlah yu, apakah ada barang berharga yang mereka rebut dari mu yu?" Tanya Umar, sebab tadi dia sempat melihat salah satu orang pengeroyokan merebut paksa tas kecil yang di Soren ayu.
"Itu hal kecil yang tidak perlu di pikirkan mar, tidak apa-apa, biarlah tas itu mereka ambil yang penting aku dan kamu bisa selamat," hibur ayu agar Umar tidak merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan barang ayu dari jarahan mereka, ayu juga tidak bercerita bahwa di dalam tas itu ada uang sebanyak tujuh juta, rencana nya uang itu untuk membeli barang yang dia inginkan, tapi itu tidak masalah buat ayu, uang segitu apalah artinya di banding nyawa nya dan juga Umar.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu ya yu" ucap Umar lagi.
"Justru aku berterima kasih kepada kamu mar, karena kamu aku tidak cidera sedikit pun, kamu mempertaruhkan nyawamu untuk ku, aku sangat berhutang Budi, soal tas yang di ambil mereka, kamu tidak perlu merasa bersalah, tas itu banyak di rumah, buat ku itu bukan masalah besar, yang penting sekarang kamu cepet sehat ya" jawab ayu sambil tersenyum, Umar pun cuma bisa tersenyum menjawab ucapan ayu, ada desiran halus di sudut hatinya ketika melihat senyum ayu, dan Umar pun sangat bahagia ketika melihat ayu tidak terluka.
"Buk, sebaiknya ibu pulang saja istirahat di rumah, biar kami yang menunggu Umar di sini" yoga sangat khawatir dengan kondisi ibu, sepertinya beliau lelah dan tidak baik jika ibu tidur di rumah sakit ini
"Ibu nunggu Umar saja di sini nak yoga," ucap ibu.
"Buk, benar apa yang di katakan bang yoga, sebaiknya ibu pulang saja, siapa tahu bapak nanti pulang ke rumah buk, jika bapak pulang, nanti bapak bingung di rumah tidak ada siapa-siapa" Asti pun merasa khawatir juga, sebab ibu nya tadi di rumah sebelum ada kejadian Umar, beliau mengeluh sakit kepala, dan pikir Asti sebaiknya ibu istirahat di rumah saja.
"Iya buk, ibu tidur di rumah saja ya, Umar baik-baik saja kok" Umar pun ikut bicara,
"Baiklah kalau begitu, biar ibu tidur di rumah, ibu juga khawatir jika bapak nanti pulang ke rumah tapi kita tidak ada," ibu pun akhirnya menyetujui jika dirinya harus pulang.
__ADS_1
"Biar ayu temani ibu di rumah, di sini kan sudah ada Abang dan Asti," ayu merasa khawatir jika ibu tidur di rumah sendirian, setidak nya jika ibu merasa cemas kepada bapak ada dirinya yang menghibur,
"Nah ide bagus itu yu, biar Abang antar kalian pulang ke rumah ibu, nanti ada anak buah Abang yang akan menjaga rumah ibu dari luar, biar Abang di sini tenang meninggalkan kalian." Ucap yoga, dan ayu mengangguk.
Setelah kepergian ibu, ayu dan yoga tinggallah Umar dan Asti di kamar ini.
"Teh, apa polisi sudah bisa menemukan orang yang sudah mencelakai ku ini teh?" Umar bertanya kepada kakak nya tentang perkembangan kasus dirinya yang sedang di tangani polisi.
"Belum mar, kita berdoa saja semoga para pelaku bis segera tertangkap."
"Iya teh, aku juga ingin tahu, apa tujuan mereka tiba-tiba mereka mencegat dan langsung menyerang ku, dan yang lebih Umar bingung, mereka tahu nama ku teh!" Umar mengingat kejadian itu, sewaktu dirinya tengah melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju ke pasar, tiba-tiba ada mobil berwarna hitam menghadang nya, dan ada dua buah motor yang ikut berhenti menghadang dirinya, salah satu dari mereka menyebut nama Umar,
Umar menceritakan semua kejadian yang dia ingat kepada kakaknya, tentu Asti langsung curiga kepada mantan suaminya karena Asti ingat dulu dia pun waktu mau di culik Entis, mereka menggunakan mobil berwarna hitam.
"Teteh rasa si Entis terlibat dalam masalah ini mar, teteh harus ke sana untuk meminta pertanggung jawaban nya,!" Asti benar-benar terbakar emosi, dirinya sangat yakin jika Entis terlibat dalam kasus ini, karena siapa lagi yang memiliki masalah dengan keluarganya selain dengan Entis mereka bermasalah.
"Umar pun berpikiran seperti itu teh, aku yakin si Entis memang Biang keladinya!"
Asti mengangguk, lalu dia menyambar tas yang ada di meja pasien, dan segera berpamitan pada Umar.
__ADS_1
"Mar teteh pergi sebentar! Teteh akan memberi pelajaran kepada si Entis!"
"Teh jangan macam-macam teh, diam di sini jangan kesana! Biar lah kita serahkan saja semua kepada pihak kepolisian!" Umar seketika panik ketika kakak nya berniat ingin menemui Entis, Umar tentu sangat khawatir.
"Teteh harus kesana mar, teteh bisa jaga diri! Kamu tenang saja! Teteh pergi sebentar ya.!" Asti pun segera pergi keluar dengan terburu-buru tanpa menghiraukan teriakan Umar,
Umar sangat bingung karena dia tidak bisa mengejar kakak nya, jangan kan menghalangi kakak nya, bergerak sedikit saja dia merasa kesakitan, Umar mencari handphone nya, tapi sayang handphon itu terletak di meja jauh dari jangkauan nya, dia akan menelpon yoga untuk menyusul kakak nya dan mencegah Asti untuk menemui Entis.
Akhirnya dengan susah payah Umar berhasil menekan tombol untuk memanggil suster, setelah seorang suster datang Umar meminta tolong suster itu mengambil handphone nya, dan menyuruh mencari nomor kontak Asti, begitu nomor Asti di tekan , terdengar suara handphone di dekat meja, rupanya ponsel Asti di tinggal di meja karena sedang di cas, lalu Umar menyuruh mencari kontak nomor yoga untuk menghubungi bos nya itu, suster itu dengan sabar membantu Umar,
"Bang, sekarang Abang di mana?" Begitu telpon di angkat oleh yoga, langsung saja Umar bertanya posisi yoga.
"Aku baru keluar dari rumah ibu, siap meluncur ke rumah sakit! Ada apa mar?" Jawab yoga di seberang sana.
Umar pun langsung saja meminta bantuan yoga untuk menyusul Asti, Umar menceritakan obrolan nya dengan kakaknya, dan kepergian Asti Untuk memberi pelajaran kepada Entis, padahal menurut Umar, itu akan membahayakan keselamatan Asti, sebab sekarang Entis sudah bukan suami Asti lagi, dan juga Umar khawatir Entis akan berbuat macam-macam kepada Kakak nya, mengingat Entis sangat menentang perpisahan dirinya dengan Asti, Umar takut Asti jadi luapan rasa dendam Entis
Tentu saja yoga mendengar itu jadi ikut khawatir dia memukul setir mobilnya karena kesal, kesal sama diri sendiri, kenapa dia tidak menyuruh seseorang untuk menjaga Asti di rumah sakit, yoga merasa Asti akan aman di rumah sakit, tapi rupanya dia salah.
Yoga langsung menanyakan di mana alamat rumah Entis, karena yoga memang belum pernah datang kesana, Umar pun akhirnya memberi tahu alamat Entis dengan detail.
__ADS_1