
Aku pun akhirnya menghela nafas lega setelah dia pergi, ibu masih terdengar ngedumel ngomongin tingkah Emak.
"As pokoknya ibu tidak rela jika kamu membatalkan perceraian kamu sama si benalu itu!" Ucap ibu kepadaku.
"Iya buk, tenang saja, Asti juga tidak mungkin lah mau kembali lagi sama dia!" Ucapku meyakinkan.
"Bagus!" Ucap ibu sambil mengacungkan dua ibu jarinya, aku tersenyum melihat tingkah ibu.
"Ada ya manusia model begitu!" Gerutu ibu sambil pergi ke dapur dan di ikuti oleh ku.
"Model apa ?" Ucapku pura - pura tidak tahu orang yang ibu maksud.
"Ya model si Entis dan Emak nya!, Pakek pura-pura tidak tahu kamu teh!" Semprot ibu padaku, aku terbahak melihat ekspresi ibu yang kesal, karena baru sekali ini aku kena semprot ibu, biasanya ibu tidak pernah marah padaku, mungkin karena bawaan ketemu Emak nya kang Entis jadi darah tinggi ibuku langsung naik.
__ADS_1
***
Malam ini setelah kami makan malam, aku merebahkan diri di kamar, aku ingin istirahat sambil berselancar di dunia Maya, dan baru juga sebentar aku merebahkan diri tiba - tiba hapeku berbunyi, dan di layar hapeku tertera nama suamiku, aku belum sempat mengganti namanya, aku jadi sebal sendiri ketika membaca nama di layar hapeku.
Aku malas mengangkat telpon itu, hingga aku biarkan saja hape ku menjerit jerit minta di angkat.
"Teh, itu hapenya bunyi terus kenapa tidak di angkat!?" Teriak Umar dari luar pintu kamar ku.
"Biar saja lah mar, ini telpon dari orang gila nyasar!" Jawabku juga dengan teriak.
Dasar Umar, paling bisa dia meledek kakak nya, atau mungkin dia merasa khawatir terhadap Kakak nya ini, yang tidak kunjung mengangkat telpon walau bunyi nya sudah memekakan telinga dari tadi, tapi benar juga ya kata Umar, kenapa aku tidak mode hening aja hp ini, dasar bodoh aku ini, Aku pun menepak kening ku sendiri karena mengingat kebodohan ku.
Kang Entis tidak berhenti begitu saja walaupun panggilan nya tidak aku angkat, dia terus menelpon ku, sampai aku tidak bisa menggunakan hape untuk berselancar di dunia Maya, akhirnya dengan terpaksa aku angkat juga karena kesal dia menghubungi terus tanpa henti, entah sudah berapa puluh panggilan yang aku tolak dari tadi.
__ADS_1
"Halo Asti!, Kamu kenapa menggugat cerai aku!, Kamu tuh benar - benar tidak tahu berterima kasih!, Aku sudah berusaha untuk mendekati Tuti agar kita bisa membeli rumah untuk kita, tapi kamu malah seenaknya menggugat cerai aku!, Kamu sudah menghancurkan rencana yang sudah aku rancang!" Semprot kang Entis begitu panggilan nya aku angkat.
"Kang, jika akang mau nikahin si Tuti ya silahkan aja kang, bahkan akang mau beli rumah juga itu bagus menurutku, silahkan rumah yang mau akang beli itu tempati saja dengan istri baru akang itu, aku kurang baik apa sama akang, hingga aku rela melepaskan suami demi pelakor, dan memberikan rumah yang baru rencana mau akang beli itu!" Ledek ku sambil tersenyum sinis.
"Iya tapi kita tidak perlu bercerai as, akang sudah susah payah merancang ini sejak lama, rumah akan di belikan oleh Tuti dengan warisan nya, sementara kebutuhan rumah tangga kamu yang mencari as, kita akan hidup bahagia ,kita akan bekerja sama dalam rumah tangga kita, tapi begitu rencana ini akan berhasil kamu malah menceraikan aku!," Kang Entis teriak di kuping ku penuh dengan emosi, sementara aku yang mendengar rencana nya sampai ternganga, ini makhluk Tuhan yang satu ini sebenarnya terbuat dari apa?!, Dia ingin hidupnya nyaman dan bahagia memiliki dua istri, yang satu membelikan rumah untuknya, dan yang satu lagi yaitu aku harus memenuhi segala kebutuhan di rumah itu!, Benar- benar menguras emosi sekali rencana nya itu!, Ya Tuhan, ingin sekali aku datang ke sana sambil membawa gada atau palu yang sangat besar untuk menggetok kepala kang Entis, biar dia sadar jika rencana nya itu sungguh membagongkan!
"Oh nikmat sekali kedengaran nya rencana kamu itu kang?!, Terus jika aku yang memenuhi kebutuhan rumah tangga, peran kamu dan Tuti di rumah apa?!" Ucapku menekan amarah, aku bertanya seperti itu hanya ingin tahu isi kepala kang Entis jika aku mau menerima tawaran nya apa yang akan dia perbuat nantinya.
"Tentu aku akan menjaga kalian berdua, istri - istri akang perlu sekali akang jaga dan akang sayangi, maka akang tidak akan mabok lagi, akang janji!, sementara Tuti akan mengurus rumah tangga kita, dia akan di rumah selama dua puluh empat jam untuk melayani akang dan juga kamu, sementara kamu akan bekerja mencari uang untuk kebutuhan kita, itu semua sudah akang rencanakan dengan apik sekali as, jadi akang mohon batalkan perceraian kita ini, akang yakin dengan rencana akang ini , Asti akan bahagia hidup bersama akang dan Tuti."
Panjang lebar kang Entis menjabarkan rencana nya dengan penuh semangat, tidak teriak seperti awal telpon tadi, tapi aku yang mendengarnya sangat panas sekali, entah apa yang pantas aku keluarkan dari mulut ini untuk memaki lelaki tidak tahu diri ini,!
Aku sudah tidak tahan lagi mendengar bulan nya yang sangat mengoyak hati dan juga martabatku sebagai perempuan, sekarang aku sangat begitu menyesal pernah mengabdikan diri kepadanya, aku baru sadar aku ini bodoh sebodoh bodohnya, karena terlambat menyadari jika suamiku itu brengs*k.
__ADS_1
"Terus lah bermimpi kang, tapi begitu kamu bangun nanti, kamu akan bertemu aku di pengadilan agama!, Aku tidak akan pernah mencabut gugatan cerai ku! Paham kamu?!" Ucapku tegas penuh tekanan dan emosi, aku pun langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari kang Entis, segera aku non aktifkan hape ku agar laki-laki tidak tahu diri itu tidak bisa menghubungi ku.
Niat hati ingin rebahan sambil menghilangkan lelah dengan berselancar di dunia Maya, pupus sudah karena hape sudah aku nonaktifkan,gegas aku keluar kamar untuk membasuh wajah agar panas di dalam hati ini segera dingin dengan basuhan air wudhu, aku belum melaksanakan salat isya, dan sekaligus ingin membaca Alquran, agar hati ini bisa tenang tidak terbawa emosi yang nantinya takut membuatku menjerit kehilangan kontrol saking emosinya.