
Natalie dan Cintya duduk bersebelahan, Milka yang baru turun langsung duduk di sebelah Darent. meja itu berbentuk persegi panjang, tapi dan ada enam kursi di sana.
Cukup besar untuk hanya dua orang yang tinggal di rumah itu.
"Katakan, diantara kalian berempat siapa pacar pria tampan ini?" Tanya Sarah menatap Milka dan yang lainnya bergantian.
"Tidak ada, kami semua hanya teman, ini Milka dan Niko ini teman Natalie, yang menyewa kamar di rumah Natalie, dan ini Darent temannya Milka." Kata Cintya menjelaskan.
"Ternyata seperti itu ya." Kata Tante Sarah sambil tersenyum hangat.
"Tapi kau sangat tampan." Ujar Tante Sarah melihat ke arah Niko yang tak perduli dengan pujian yang di berikan oleh Tante Sarah padanya.
"Kau juga sangat pendiam ternyata." Kata Tante Sarah lagi.
"Ku dengar kau bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata? Dan juga kau bisa merasakan jika ada sesuatu yang tak beres, benarkah, yang artinya kau ini memiliki sixsense, iyakan?" Niko menatap Darent.
"Hm, ya." Sahut Darent walaupun sempat ragu.
Milka menjadi heran, apakah Darent dan Niko pernah bicara, dan Darent mengaku sebagai orang yang memiliki sixsense? Tanya Milka dalam hati.
Tiba-tiba saja senyuman di wajah Tante Sarah berubah, dia menjadi sedikit kaku.
"Sixsense? apakah mau bisa merasakan jika sesuatu aneh di rumah seseorang? Ehh, maksud Tante jika ada yang aneh di rumah seseorang."
Milka merasa ada yang tidak beres dengan Tante Sarah, ketika dia mendengar bahwa Darent memiliki sixsense, ekspresinya jelas berubah.
"Ngomong-ngomong, kalian ke sini pasti karena ada sesuatu, iyakan? Apalagi kalian membawa teman yang bisa sixsense." Ucap Tante Sarah.
"Itu benar Tante Sarah, Tante ingat gadis yang bunuh diri dengan melompat di gedung SMA beberapa tahun lalu. di sini musim panas lalu. Kami akan menyelidiki tentang itu." Jelas Cintya.
"Kenapa kalian ingin menyelidikinya? Bukankah itu sudah lama berlalu?" Tanya Tante Sarah.
"Itu memang sudah lama berlalu Tante Sarah, tapi hantu gadis itu masih gentayangan dan mengganggu Natalie." Kata Cintya.
Selesai sarapan, Milka membantu membawa piring ke ke pencucian piring.
Tante Sarah melihat Milka lalu mengikuti Milka ke pencucian piring,
"Milka, namamu Milka kan?" Tanya Tante Sarah.
"Iya Tante." Sahut Milka.
"Sudah Berapa lama kamu sudah mengenal Niko?" Tanyanya lagi.
"Baru saja Tante, ketika dia pindah, menyewa kamar di tempat Natalie." Sahut Milka.
Siangnya, Milka dan Darent keluar dari kamar, Milka ingin bertanya pada Natalie kapan mereka akan ke gedung itu.
Di ruang tengah sudah ada Natalie dan Cintya, Milka ikut bergabung, sementara Niko, dia sepertinya berada di kamar.
"Kalian mau makan apa nanti?" Tanya Tante Sarah yang keluar dari dapur.
"Apa saja Tante." Sahut Cintya, sementara yang lain mengangguk setuju.
__ADS_1
"Baiklah." Tante Sarah tersenyum lalu naik ke atas.
Karena sudah merasa gerah karena belum mandi dalam semalam, Milka berdiri untuk pergi ke kamar mandi.
"Mau kemana Mil?" Tanya Natalie.
"Mau mandi, sudah gerah." Sahut Milka.
"Gantian ya, aku juga gerah." Kata Cintya, Milka mengangguk.
Selesai mandi Milka kembali berkumpul dengan yang lain, Cintya menggantikan Milka mandi.
"Niko belum keluar dari kamar?" Tanya Milka.
"Belum, mungkin dia tidur." Sahut Natalie.
Milka kesal, seharusnya Niko tahu diri jika menginap di rumah orang.
"Mau kemana Mil?" Tanya Natalie ketika melihat Milka berdiri.
"Mau membangunkan Niko." Sahut Milka.
Milka pergi ke kamar di mana Niko tidur.
"Tapi mil-"
"Sudah Darent, tidak apa-apa." Ucap Milka karena Milka yakin Darent khawatir padanya.
"Biarkan saja Mil, pria tampan memang seperti itu." Sahut Natalie.
"Niko bangun!" Panggil Milka kesal.
"Niko...!" Tidak ada jawaban.
Milka memutar gagang pintu, dan ternyata tak terkunci, Milka pun langsung masuk.
Milka melihat Niko tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Apa dia tidak kepanasan menutup diri seperti itu? Tanya Milka dalam hati.
Milka mendekat ke arah Niko yang masih juga bersembunyi di bawah selimutnya.
"Niko.." Panggil Milka sambil berjalan mendekat.
"Niko bangun." Milka mencolek tubuh Niko.
"Apa?" Niko langsung bangun.
"Arkkk," Tubuh Milka oleng dan jatuh ke atas Niko.
Mata Niko dan Milka bertemu, jantung Milka tiba-tuba berdetak kencang. Keduanya saling tatap, Milka merasa seperti mengenal mata itu. Tapi dia lupa, di mana dia pernah melihat mata itu.
Tapi, setelah sadar jika dia masih berada di atas Niko, Milka cepat-cepat bangun, takut jika Niko salah paham padanya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Niko.
"Tidak, aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Tanya Milka gugup karena jantungnya masih saja berdegup kencang.
"Wajahmu merah." Kata Niko.
"Mungkin karena di sini panas, bagaimana kau bisa tahan bersembunyi di bawah selimut seperti itu di tengah-tengah matahari yang terik begini?" Tanya Milka, sebenarnya dia mengalihkan pembicaraan mengenai pipinya yang memerah.
"Kenapa kau tidur terus? Apa kau tidak malu, menginap di rumah orang dan bermalas-malas begini?" Omel Milka.
"Memangnya apa yang bisa ku kerjakan? Kau ingin aku mengerjakan apa?" Tatap Niko.
Milka diam, apa yang di katakan Niko ada benarnya, memangnya apa yang bisa dia lakukan dan kerjakan.
"Setidaknya duduklah di luar dan mengobrol, bukan hanya diam dan tidur di kamar saja." Sahut Milka setelah tahu apa yang akan dia katakan.
"Baiklah, aku akan bangun, ayo kita keluar." Ajak Niko.
Keduanya pun berjalan keluar bersama, dan itu di lihat oleh Tante Sarah.
"Di dapur sudah ada makanan, sebaiknya kalian makan dulu." Ucap Tante Sarah.
"Iya Tante, ayo makan bersama." Ajak Milka.
"Kalian duluan saja." Sahut Tante Sarah.
Sebelum pergi Milka melihat Tante Sara mengedipkan matanya pada Niko. Tapi, Milka mencoba membuang pikiran buruk yang ada di otaknya. Mungkin saja saat itu Tante Sarah sedang kelilipan.
Dan, Niko, Pandangannya pada Tante Sarah sangat berbeda, Milka bisa tahu jika pandangan itu adalah pandangan yang tidak suka.
"Kapan kita akan berangkat ke gedung itu?" Tanya Milka.
"Aku tidak tau, sebaiknya sore atau malam ya?" Natalie balik bertanya karena merasa tidak yakin.
"Sebaiknya malam." Niko menyahut.
"Kenapa harus malam?" Tanya Cintya.
"Karena parah roh akan lebih gampang keluar saat malam, apalagi malam nanti bulan purnama." Jawab Niko membuat Milka semakin heran, sejak kapan Niko ikut dalam rencana mereka untuk menemukan roh yang menganggu Natalie.
"Kau akan ikut?" Tanya Milka.
"Ya, aku akan ikut, kalian semua itu perempuan yang lemah. Jadi aku harus ikut." Kata Niko.
"Lemah? Siapa yang kamu panggil lemah! Kau tidak ikut juga tidak apa-apa, di sini ada Darent. Dia-"
"Dia apa?" Tanya Niko.
"Dia bisa beladiri." Sahut Milka cepat. Hampir saja Milka keceplosan mengatakan, jika Darent adalah pengawal Underworld dan roh itu tidak ada apa-apanya di tangan Darent.
Niko langsung menatap Darent, dan Darent menunduk.
"Sebaiknya memang harus ada laki-laki yang ikut." Kata Darent masih menunduk.
__ADS_1
Milka pun tak punya pilihan, selain mengiyakan saja.
Milka bisa melihat senyum merasa menang di bibir Niko, membuat Milka semakin kesal padanya.