Suami Hantu

Suami Hantu
Pemotretan


__ADS_3

Milka dan Electra menjalani pemotretan mereka dengan baik. Milka yang awalnya canggung dan terlihat kaku, kini jauh lebih baik.


"Kau keren Putri." Ucap Clona pada Milka saat istirahat pemotretan.


" Terima kasih Clo." Sahut Milka.


"Ini Putri minum dulu." Grasil menyerahkan air minum kemasan pada Milka.


"Dia model besar dengan dua asisten." Ucap salah satu kru pemotretan pada Putri Electra.


"Ya, mereka berdua itu sangat setia dan baik padanya." Gumam Putri Electra tersenyum.


"Kamu juga seharusnya memiliki asisten seperti temanmu itu Raina." Kata fotografer pada Electra.


"Aku punya dua seperti yang di milikinya, tapi tak sesetia miliknya." Kata Putri Electra yang ucapannya tak di mengerti oleh Fotografer dan kru itu.


"Kamu sakit? Ucapanmu dari tadi gelantur." Tanya Kru itu.


"Aku enggak sakit Ted, berapa jam lagi pemotretan ini selesai?" Tanya Putri Electra pada kru.


"Rem... Raina nannya berapa jam lagi pemotretannya selesai?" Teriak kru yang bernama Teddy itu pada Remi yang fotografer.


"Sejam lagi paling.." Sahut Remi.


"Cepetan ya Rem, kami harus pulang cepat, kalo enggak akan ada yang murka ." Kata Putri Electra.


"Memangnya siapa yang murka Rain?" Tanya Teddy.


"Raja alam baka." Sahut Putri Electra menjawab dengan jujur.


"Makin hari kamu makin pintar ngelawak Rain." Tawa Teddy dan Remi mengira Electra bercanda. Dan menanggapinya keduanya Putri Electra pun hanya ikut tertawa.


"Hei, aku Evan." Seorang pria mendatangi Milka dan mengulurkan tangannya pada Milka.


"Milka." Ucap Milka menyebut namanya membalas uluran tangan pria itu karena tak ingin di bilang sombong.


"Kamu model baru di sini? Aku baru pertama liat kamu." Kata Evan.


"Aku bukan model aku hanya menemani-"


"Dia gantiin Tiffani yang sakit." Putri Electra yang datang memotong ucapan Milka.


"Dan dia adikku." Katanya lagi.


"Aku enggak tau kamu punya adik yang secantik dan semanis ini. Persis seperti kamu, cantik dan manis." Ujar Evan memuji dengan tatapan sulit di mengerti.

__ADS_1


"Ayo Mil, kita lanjut pemotretan, di sini ada buaya." Kata Putri Electra pada Milka yang melongo, karena ucapan Putri Electra yang mengatakan di situ ada buaya. Dan, mengacuhkan Evan.


"Putri Aerish aku lupa, jika di dunia manusia sebaiknya kamu memanggilku dengan nama asliku. Panggil aku Raina. Atau Rain saja." Beritahu Putri Electra pada Milka.


"Dan maafkan aku karna tadi lancang menyebut namamu tanda meminta persetujuanmu terlebih dahulu." Kata Putri Electra lagi merasa tak enak hati pada Milka.


"Baiklah aku akan memanggil nama aslimu, kau juga jangan merasa tak enak seperti itu saat memanggilku dengan nama asliku Putri." Ucap Milka pada Putri Electra.


"Dan, jaga jarakmu dengan Evan, dia bukan laki-laki yang baik." Kata Putri Electra mengingatkan Milka.


"Dia itu Playboy." Tambahnya lagi.


"Aku rasa aku juga tak punya waktu untuk dekat dengannya." Sahut Milka.


"Ya, kita tak akan punya waktu untuk dengan laki-laki mana pun." Ucap Putri Electra mengingat bahwa mereka adalah Selir Raja.


Seusai pemotretan mereka berempat pun kembali ke Underworld.


Milka kembali ke kediamannya dan membersihkan diri di Kolam Air Mata Mutiara miliknya, sedang Putri Electra kembali ke kediamannya setelah mengucapkan terima kasih pada Milka karena telah membantunya.


"Kapan kolam ini akan menghasilkan Mutiara." Gumam Milka.


"Apa bulan purnama masih lama?" Tanya Milka pada Clona dan Grasil.


"Menurut perhitungan bulan di tempat ini tak akan lama lagi Putri," Sahut Clona.


"Mungkin dua atau tiga tahun lagi Putri." Kata Grasil membuat Milka menjadi lesu mendengarnya, dua, tiga tahun itu bukanlah sementara. Itu masih sangat lama.


Setelah membersihkan badan Milka kembali ke ruangannya dengan tubuh yang segar bugar.


Makan malamnya telah tersedia. Milka akan makan malam, dan setelah selesai dia akan mengunjungi Raja di kediamannya.


****


"Yang Mulia Putri Aerish datang menghadap." Ucap pelayan Raja mengumumkan kedatangan Milka.


"Persilahkan dia masuk." Kata Raja yang memang sedari tadi telah menunggu Milka, karena itu dia menyuruh pelayan untuk memberitahukan kedatangan siapa pun. Dan, kecuali Milka dia tak ingin menemui siapa pun.


"Yang Mulia." Hadap Milka pada Raja.


"Putri Aerish kau telah datang." Ucap Raja yang memasang kekalemannya seperti tak sedang menunggu Milka.


"Kau menungguku?" Tanya Milka ingin tau apakah sedari tadi Raja menunggunya.


"Tidak, aku hanya sedang melakukan sesuatu." Kata Raja tak ingin jujur. Mendengar ucapan Raja membuat Milka sedikit kecewa. Ternyata Raja tak menunggunya.

__ADS_1


"Aku datang memberitahukan bahwa aku telah pulang." Kata Milka.


"Karena telah memberitahukanmu, maka aku pamit untuk kembali ke kediamanku Yang Mulia." Sambung Milka memberi hormat lalu memutar badan untuk segara pergi.


"Jangan pergi, temani aku." Raja menarik tangan Milka, menahan agar Milka tak meninggalkannya.


"Apa kau tau aku merindukanmu seharian ini." Ucap Raja.


"Benarkah? Tapi kelihatannya tak seperti itu. Buktinya kau tak menungguku." Ujar Milka masih dengan raut wajah kecewa karena perkataan Raja tadi.


"Aku menunggumu sedari tadi Putri Aerish, aku merindukanmu." Peluk Raja.


"Benarkah?" Milka tersenyum-senyum mendengarnya. Dan, membalas pelukan Raja.


Raja dan Milka terlihat begitu bahagia dengan hubungan yang baru di mulai itu.


"Yang Mulia.." Panggil Milka.


"Mmm.."


"Aku hanya memanggilmu saja." Kata Milka karena dia hanya ingin memanggil.


"Saat kita berdua kau boleh memanggilku hanya nama saja." Ujar Raja pada Milka. Milka yang mendengarnya melepas pelukannya lalu menatap Raja.


"Kau boleh memanggilku Raizel." Ucap Raja meyakinkan Milka bahwa Milka benar-benar boleh memanggil namanya saja tanpa embel-embel Yang Mulia Raja.


"Benarkah?" Tanya Milka tetap ingin memastikannya. Dan, Raja pun mengangguk sambil mengelus lembut pipi mulus Milka.


Milka yang sudah mendapat kepastian yang benar-benar pasti dari Raja merasa sangat senang.


Hati Milka berbunga-bunga layaknya taman bunga di buat oleh Raja. Milka merasakan cinta yang indah, sangat indah. Mungkin jika itu mimpi, dia tak ingin bangun dari mimpi itu agar terus merasakan kebahagiaan saat itu bersama Raja.


"Nyonya West datang menghadap." Pelayan yang berjaga mengumukan kedatangan Nyonya West.


Mendengar itu Milka maupun Raja dengan cepat mengambil posisi agar terlihat biasa saja. Mereka berdua tak ingin ketahuan sedang kasmaran.


Lalu Raja mempersilakan Nyonya West untuk masuk.


"Nyonya West," Sapa Milka dengan senyumnya. Nyonya West yang mendapat sapaan dari Milka memberikan hormat pada Raja dan juga Milka..


"Saya pamit Yang Mulia." Kata Milka undur diri walau sebenarnya dia tak rela. Raja hanya bisa mengangguk dengan tak rela.


Nyonya West benar-benar mengganggu kemesraan yang baru saja diantara mereka.


"Nyonya West kau.." Namun Raja tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Nyonya West.


"Kau sangat tak tau waktu." Ucap Raja akhirnya. Nyonya West hanya bisa menatap bingung pada Rajanya itu.


__ADS_2