
Pagi harinya, Milka segera meninggalkan penginapan. Dia sudah tak betah jika masih harus berlama-lama di penginapan itu.
Malika segera pergi melihat rumah yang akan dia tempati di kota itu.
Malika masuk dan melihat-lihat kamarnya, kamar itu cukup bersih, dan Milka juga merasa lumayan nyaman dengan tempat itu.
Milka mengeluarkan semua isi kopernya, menyusun di tempat yang seharusnya.
Tak lama kemudian teman serumah Malika datang menyapa.
Dia gadis yang cantik, dengan rambut panjang hitam terurai.
Dia Sedikit lebih tinggi dari Milka,tubuhnya langsing, tapi berpayudara besar.
Dadanya sangat berisi, pasti akan banyak pria yang mengejar-ngejarnya.
"Anak baru ya?" Tanyanya pada Milka.
"Iya, mulai hari ini tinggal di sini." Sahut Milka.
"Natalie." Dia menyebut namanya mengulurkan tangan.
"Milka." Balas Milka menyambut uluran tangan Natalie.
Milka mulai menjalani kehidupannya menjadi mahasiswi pertukaran.
Apalagi Natalie juga cukup baik padanya, meskipun setiap kali pulang, Natalie selalu pulang dalam keadaan mabuk.
Pada hari lima tinggal di tempat itu.
Natalie mengetuk pintu kamar Milka.
"Tidur?" Tanya Natalie.
"Nggak, kenapa?" Tanya Milka.
"Bentar lagi ada yang mau liat kamarnya." Natalie menunjuk kamar ketiga yang berjejer dengan kamarnya.
Natalie meminta agar kami menemuinya bersama.
Tak berapa lama setelah Milka dan Natalie bicara, bel pintu berbunyi.
Milka dan Natalie berjalan keluar untuk membuka pagar.
seorang lelaki tampan dengan tinggi sekitar 175cm berdiri di depan pagar rumah, kulitnya putih bersih.
"Halo, aku Niko, yang ingin liat kamar." Katanya.
"Halo, aku Natalie, ini Milka. Kita berdua tinggal di rumah ini." Sahut Natalie yang memperkenalkan dirinya dan juga Milka.
Natalie mengajak Niko masuk untuk melihat kamar yang akan di tempati.
Niko juga terlihat puas dengan kamarnya.
"Kapan kamu akan pindah kesini?" Tanya Natalie, sementara Milka hanya berdiri dengan diam.
"Hari ini juga aku akan pindah." Kata Niko.
__ADS_1
"Itu bagus." Sahut Natalie, sepertinya dia suka pada Niko.
Natalie menerima uang sewa yang di berikan Niko padanya. Ya, Natalie adalah pemilik rumah sewa itu.
Setelahnya Natalie pergi meninggalkan Milka dan Niko.
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" Tanya Niko pada Milka, mungkin mengusir kecanggungan yang terjadi.
"Baru lima hari." Sahut Malika sekenanya.
"Kamarnya kotor." Ujarnya membuat Milka menatap ke kamar itu.
Menurut Milka kamar itu cukup bersih, tapi mungkin standar kebersihan menurut masing-masing orang itu berbeda.
Sore hari, saat Milka berbaring di kamarnya memikirkan Raja yang tak kunjung datang menemuinya, Milka mendengar seseorang yang lagi membersihkan kamar.
Milka keluar untuk melihat. Di dalam kamar Niko ada seorang wanita paruh baya yang membersihkan kamarnya.
"Hai, Mil, suaranya berisik ya?" Tanya Niko ketika melihat Milka berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nggak juga kok." Sahut Milka.
"Itu ibu kamu ya?" Tanya Milka pada Niko.
"Oh, bukan, dia cuman datang untuk membersihkan kamar aja." Kata Niko.
Setelah selesai membersihkan kamar Niko, wanita paru baya itu pamit untuk pergi.
Sebelum masuk ke kamarnya Milka mendengar percakapan Niko dan wanita paru baya itu dengan tidak sengaja, wanita paru baya itu memanggil Niko dengan panggilan tuan muda.
Membuat Milka menebak, Niko pasti dari keluarga kaya yang memilih hidup mandiri tinggal di sebuah rumah sewa.
Natalie masuk dan langsung merosot di sofa, dia melepas stoking dan meletakkan kakinya di atas meja kopi.
Di saat yang sama, Niko juga membuka pintu dan keluar, dia mengerutkan keningnya saat melewati ruang tamu dan melihat Natalie, sepertinya Niko memandang rak suka pada Natalie.
Milka dengan cepat mambantu Natalie masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa?" Tanya Natalie.
"Mulai sekarang kamu harus berhenti pulang dengan keadaan mabuk." Kata Milka.
"Memangnya kenapa?" Tanya Natalie.
"Sepertinya penyewa baru. Nggak suka." Kata Milka.
"Benarkah?" Tanya Natalie terlihat panik.
Milka mengangguk.
"Baiklah, kalo dia nggak suka, aku akan lebih memperhatikan imageku mulai sekarang." Ucap Natalie, sepertinya dia benar tertarik pada Niko.
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Natalie.
"Siapa?" Tanya Milka tak mengerti siapa yang di maksud oleh Natalie.
"Niko." Kata Natalie.
__ADS_1
"Sepertinya belum, dia baru saja melewatimu tadi." Kata Milka.
"Aku akan memastikannya, apa di sudah tidur atau belum." Natalie segera pergi, dia berjalan ke arah kamar Niko.
Natalie terus mengedor-gedor pintu kamar Niko, meminta agar Niko keluar.
"Ada apa?" Tanya Niko setelah membuka pintu kamarnya. Dan, Niko tampak tak nyaman.
"Kau benar-benar tampan." Ujar Natalie menggoda Niko.
"Aku tau." Sahut Niko.
"Apa kau sudah punya pacar?" Tanya Natalie.
"Tidak." Jawab Niko.
"Bagaimana kalo kita berdua berpacaran, aku mau jadi pacarmu." Kata Natalie.
"Aku tidak mau." Sahut Niko.
"Kenapa? Aku ini cantik. Dadaku juga besar. Aku yakin, kau tidak akan rugi jika aku menjadi pacarmu." Kata Natalie terus berusaha agar Niko mau menjadikan dirinya sebagai pacar.
"Milka, bisa kau bawa dia pergi." Niko melirik ke arah Milka yang sedari tadi berdiri melihat.
Milka mendekat.
"Natalie sebaiknya kembali ke kamarmu. Ini sudah larut." Kata Milka mencoba membujuk agar Natalie pergi dari depan kamar Niko.
"Aku tidak mau, aku mau menemaninya tidur malam ini." Kata Natalie menolak untuk kembali ke kamarnya.
"Natalie, jika kau seperti ini, Niko pasti akan kabur dan tidak mau tinggal di sini." Kata Milka.
Milka bisa lihat ketidak nyamanan Niko dengan apa yang Natalie lakukan.
"Kau tidak mau kan, kalo Niko pergi, membatalkan untuk menyewa kamar di sini." Kata Milka, berharap Natalie terpancing dengan apa yang dia katakan.
Akhirnya Natalie menurut dan mau kembali ke kamarnya.
Milka membantu Natalie berjalan, karena langkah Natalie sempoyongan akibat mabuk.
Sesampainya di kamar Natalie, Milka melihat kamar itu agak berantakan, Milka bahkan bisa melihat pakaian bra dan ****** ***** di lantai.
Sejujurnya, Milka juga merasa jengkel dan risi dengan Natalie yang suka mabuk yang hampir setiap malam, jika pulang ke rumah, dia pasti mabuk.
Milka kembali ke kamarnya setelah mengantar dan membaringkan Natalie di kasur.
Milka melihat ke arah jam, sudah lewat jam dua belas, Milka naik ke kasurnya dan memanggil Darent keluar.
"Yang Mulia Permaisuri." Seperti biasa jika bertemu dengan Milka Darent pasti memberikan hormatnya.
Setiap malam, saat tengah malam, Milka pasti akan memanggil Darent untuk keluar dari liontinnnya, dan pagi harinya, Darent akan kembali masuk ke dalam Liontin.
"Darent, apa kau sudah mendengar kabar, apakah Yang Mulia Raja baik-baik saja?" Tanya Milka.
"Belum Yang Mulia permaisuri." Sahut Darent.
Milka hanya bisa menghela nafas berat karena rindu pada Raja.
__ADS_1
Maaf untuk para pembaca, jika ada kesamaan cerita dengan novel lain. Karena, author menjadikan novel lain sebagai refrensi.