
Milka kini berada di desa ibunya bertemu dengan kakek dan neneknya, iaitu paman dari ibunya. Sekembalinya ke halaman rumahnya, diluar pintu halaman masih ada asap dan debu yang mengepul, di udara tercium aroma sesuatu yang hangus terbakar dan juga kertas jimat, sepertinya disini sudah beres, tidak perlu terlalu heboh.
Milka melihat tubuh yang hampir habis terbakar didalam api tersebut, hatinya merasa sedikit sedih, Niko, terima kasih untuk kasihmu padanya, maaf, Milka tidak bisa melindungi jasadmu.
“Permaisuri jangan marah! Bawahanmu ini tidak melaksanakan tugas dengan baik……”
Malaikat maut hitam putih berlutut dengan salah satu tumit menyentuh tanah, wajahnya terlihat sangat ketanyatan.
Milka kemudian berjongkok melihat mereka dan mengatakan: “Untuk apa seperti ini? Kalian sudah sangat hebat, masalah ini bukan kesalahan kalian."
Malaikat maut putih menangis sedih mengatakan: “Tapi Niko telah mengetahuinya, beliau bahkan mengirimkan hakim air dan api ketempat ini, kita berdua mungkin tidak akan bisa melepaskan diri dari siksaan"
Awalnya Milka merasa kalau dua pencabut nyawa ini agak menanyatkan, setelah berinteraksi Milka merasa mereka lumayan baik, Milka pasti tidak akan membiarkan mereka dihukum karenanya.
"Sudahlah sudahlah, jika Niko kalian menyulitkan kalian, Milka pasti akan menghadang dan menghentikannya."
Malaikat maut hitam putih lantas bertukar pandang terharu dan hampir menangis: “Terima kasih Permaisuri!”
Raja tiba-tiba mendorongnya.
"Masih tidak segera kembali ketubuh mu, apa kau ingin mati?"
Milka segera kembali ke kamarnya, melihat ‘dirinya’ yang masih berbaring dengan tenang di atas ranjang, Milka kemudian naik keatas ranjang menuju ke tubuhnya.
Milka merasakan sekujur tubuhnya bergetar, ketika Milka kembali membuka matanya, rohnya sudah kembali kebadan nya. Saat ini, Niko mendorong pintu dan masuk, menunjuknya dan memarahinya.
"kau berani sekali! Berani memisahkan roh dari tubuhmu, jika bukan Darent, kau tidak akan bisa kembali lagi!"
Milka tidak berdaya, memang Milka sendiri yang cari mati, tidak nya sangka Milka malah jatuh kedalam jebakan.
Niko mengeluh pada kekurangannya dan mengatakan. "Seberapa besar Niko harus mengkhawatirkan mu?!"
__ADS_1
Milka tidak tahu entah mengapa Niko selalu merasa Milka adalah pembuat onar, semua orang selalu harus mengkhawatirkan nya. Jika sejak awal Milka bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, Milka tidak menikah dengan Niko, apakah Milka bisa sampai seperti ini? Sekarang bukan hanya Milka, seluruh desa juga ikut sulit, Milka sekarang hanya ingin memahami apa alasannya gadis dari keluarga ibu tirinya harus menikahi makhluk gaib, sekarang Milka curiga kalau Niko dan juga tidak tahu alasan sesungguhnya, mereka tidak memberitahunya karena mereka tidak tahu.
Siapa yang peduli dengan peraturan mereka, Milka tidak ingin berada di sana seumur hidup dan selalu diincar para hantu, Milka juga tidak ingin terlalu cepat mati kemudian menemani wanita-wanita itu melayani Niko di Underworld, asalkan Milka bisa mengetahui alasannya, Milka pasti bisa memutuskan hubungannya dari Niko, dimasa mendatang Milka akan bebas melanyahkan apapun, siapa yang bisa menghalanginya?
Tidak ada satupun orang normal yang ingin memiliki hubungan dengan hantu, Milka merindukan hari-hari yang tenang dulu, meskipun Milka banyak mendengar tentang hantu dan dewa, tapi Milka tidak pernah melihatnya, tapi sekarang Milka sudah terperangkap sangat dalam didasar, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya Milka hanya bisa melakukan semuanya sendiri.
Setelah tengah malam suasana sudah lebih tenang, malaikat maut hitam putih berjaga-jaga diluar pintu, Milka pun tidur dengan tenang. Entah kapan, Milka kemudian terbangun dari mimpinya, diluar sana sudah terang, Milka lantas menghapus keringat dingin di dahinya, seumur hidup hal yang paling tidak kusukai adalah mimpi buruk, bukan tidak suka, melainkan benci.
Meskipun ada hal tidak masuk akal didalam mimpi, tapi bisa benar-benar membuatnya ketakutan, semalam didalam mimpinya, Milka sudah mati, Milka bermimpi bertemu dengan kelompok hantu yang sudah membusuk mencarinya meminta hidupnya.
Milka berjalan sampai ke halaman, Niko sedang membersihkan halaman, altar dan peti yang dipersiapkan di aula untuk Niko sudah disingkirkan, di sana hanya terdapat foto peninggalan Niko, didalam foto itu, dia tetap terlihat ramah, hanya saja warnanya hitam putih, jadi kelihatan pucat.
"Yo, masih pagi sudah bangun? Milka sempat mengira kalau kau akan tidur sampai siang."
Darent berjalan keluar sambil merenggangkan tubuhnya, Milka kemudian berbalik melihatnya dan mengatakan. "Sekarang sudah tidak ada masalah, kau sudah bisa pergi?"
Ketika berjalan melewatinya, pria itu sengaja menabraknya.
Milka kemudian membalas mengatakan.
"Utang dosa dibayar anak cucu? Jika ini masalah ekonomi Milka bisa menerimanya, masalah dosa seperti ini Milka tidak bisa terima. Apa kau tahu teori ini tidak masuk akal? Mengapa kau bisa memiliki pemikiran seperti ini? Milka jelas-jelas tidak melakukan kesalahan apapun, malah harus menggantikan orang-orang yang melakukan kesalahan itu menerima hukuman, meskipun mereka adalah leluhur kita mengapa memangnya? Keturunannya ini juga bukan hidup untuk membantunya membayar utang dosanya."
Darent menghela nafas mengatakan.
"Apa kau pikir tidak ada seorang pun di desa ini yang memiliki dosa? Siapa yang tahu kalian setiap hari melewati jalan yang di bawahnya terkubur seseorang, setiap kalian melangkahinya, dosa kalian semakin besar. Orang yang sudah mati tidak akan peduli dirimu yang tidak tahu keberadaannya dibawah sana kemudian menyatakan kalau kau tidak berdosa, siapa yang rela setelah mati setiap harinya masih harus dilangkahi orang-orang?"
Milka kemudian melihat kakiku, merasa kalau ini agak menyedihkan.
"kau jangan menakut-nakuti orang dengan cara seperti itu bisa tidak? Lagian itu hanya ‘Siapa tahu’, bukan berarti itu adalah hal yang sesungguhnya."
Setelah Niko mendengar perkataan Darent, dia lantas membuang sapu ditangannya dan bertanya.
__ADS_1
"Kakak kecil, apa yang kau katakan?"
Darent lantas mengangkat pundaknya mengatakan.
"Niko, seperti yang Milka katakana barusan, coba kau pikirkan sendiri dengan baik, sudah banyak hal yang terjadi di desa ini."
Wajah Niko terlihat khawatir, Milka tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia tiba-tiba memukul pahanya: "Buruk sekali!"
Milka bertanya.
"Ada apa? Apa yang teringat olehmu?"
Niko tidak menjawabku, setelah itu dia kemudian membawa tas kain yang berisi cangkul dan juga palu dan beranjak pergi. Milka kemudian mengikutinya, Darent juga mengikuti dibelakang. Malaikat maut putih terbang kesampingku dan mengatakan.
"Permaisuri, lebih baik kau tidak ikut campur dalam hal ini."
Milka lantas mengernyitkan dahinya padanya dan bertanya.
XKalian juga sudah mengetahuinya dari awal?"
Malaikat maut putih dengan hati-hati mengatakan.
"Hanya tahu, sedikit-sedikit, dan lagi, rahasia langit juga tidak boleh dibocorkan, Darent yang telah membocorkan hal tersebut juga harus berdoa. Hal ini harus disadari sendiri oleh orang-orang desa, menyesal, dia orang luar berani banyak bicara, tidak takut mati."
Milka kemudian berbalik melihat Darent, dia berjalan sambil mengulum rumput dengan santai, seolah-olah tidak mendengar percakapannya dengan malaikat maut hitam putih.
Milka tidak peduli jika dia tidak mendengarnya, Milka akan melihat-lihat terlebih dahulu setelah itu baru memikirkannya.
Niko tiba di sebuah jalan dimana jalan tersebut selalu dilalui oleh orang-orang desa setiap harinya dan berhenti ditempat itu, dia terlebih dahulu menancapkan dupa di atas tanah, membakar uang sembahyang, setelah membaca begitu banyak mantra dia baru mulai membongkar tanah.
Melihatnya menyekop tanah liat dan membuka jalan itu, hatinya juga agak khawatir, kira-kira Milka sudah bisa menebak apa yang ada dibawah sana.
__ADS_1