
"Putri apa yang kau pikirkan?" Tanya Clona pada Milka yang tengah duduk menatap kasurnya.
"Pikir apa? Tidak ada. Memangnya apa yang ingin aku pikiran?" Sahut Milka menyembunyikan isi pikirannya.
"Benarkah? Tapi kau tampak melamun." Kata Clona.
"Tidak, aku tidak melamun." Milka mengelak. Dan, Clona tak lagi berkata-kata, dia tak ingin membuat hati Milka menjadi buruk.
Sebenarnya pikiran Milka memang melayang, dimana kejadian semalam terus saja berputar-putar di kepalanya. Tentang Raja yang mengatakan bahwa menyukainya. Dan, ciuman, atau mungkin hanya kecupan. Tapi apa bedanya?
Milka mengeleng-gelengkan kepala mengusir pikiran itu di benaknya. Dan apa yang Milka lakukan itu tak luput dari pandangan Clona, Grasil dan juga para pelayan yang ada di sana, mereka pun hanya mampu menatap heran pada Milka tanpa bersuara.
"Putri, semua sudah selesai." Ucap Pelayan yang tak di hiraukan oleh Milka.
"Putri..." Kali ini Clona yang memanggil. Namun sama pikiran Milka tak fokus pada itu.
"Putri Aerish.." Giliran Grasil pula yang memanggil.
"Putri...." Serentak Clona dan Grasil berteriak. Dan, Milka pun menoleh linglung tak mengerti kenapa kedua dayangnya itu harus berteriak memanggilnya, toh dia tak tuli.
"Ada apa?" Tanya Milka bagai tak berdosa.
"Pelayan telah siap meriasmu, sekarang sebaiknya kita segera pergi untuk menemui Raja." Mendengar Clona menyebut Raja jantung Milka kembali berdetak tak beraturan.
Dengan jantung yang masih berdetak kencang Milka berjalan ke kediaman Raja di temani Clona dan Grasil dan sesampainya di kediaman Raja ternyata ada Permaisuri di ruangan itu. Milka lalu memberi hormat kepada keduanya.
"Putri Aerish apa kau datang untuk melihat Raja juga?" Tanya Permaisuri meskipun dia tau untuk itulah Milka mendatangi Raja.
"Iya Yang Mulia Permaisuri." Sahut Milka sopan.
"Baiklah, silahkan Putri Aerish. Aku akan pergi." Pamit Permaisuri lalu dengan tiba-tiba dia mengecup pipi Raja begitu saja tanpa malu. Seakan mempertegas bahwa Raja adalah Miliknya. Dan, entah kenapa hati Milka terasa seperti di cubit. Rasanya sedikit sakit.
"Putri Aerish, jika kau punya waktu luang datanglah ke kediamanku untuk minum bersama." Undang Permaisuri.
"Baik Yang Mulia Permaisuri." Sahut Milka seraya memberi hormat, lalu setelah Permaisuri memberi hormatnya pada Raja dia pun pergi di temani oleh Nyonya East.
__ADS_1
"Duduklah." Kata Raja setelah tak lagi ada Permaisuri. Milka pun menurut dan duduk.
"Bagaimana dengan dirimu Yang Mulia? Apa kau sudah merasa baik sekarang?" Tanya Milka menyembunyikan perasaannya. Entah itu perasaan berdebar-debar, dan juga perasaan cemburunya.
"Jauh lebih baik, berkatmu." Sahut Raja. Milka yang mendengar ucapan Raja langsung menundukkan pandangannya karena merasa malu mengingat kejadian malam itu.
"Apa yang kau pikirkan Putri Aerish?" Tanya Raja pada Milka yang hanya diam. Milka heran entah kenapa hari ini pertanyaan bahwa apa yang ia pikirkan selalu di lontarkan padanya.
"Tidak ada!" Nada suaranya tanpa sadar sedikit keras.
"Tidak ada, atau kau sedang memikirkan sesuatu tentang malam tadi?" Ujar Raja membuat Milka membelalakkan matanya.
"Semalam? Memangnya apa yang terjadi?" Milka mencoba mengelak agar Raja tak membahas tentang itu padanya.
"Apa aku harus mengatakan apa yang terjadi malam tadi padamu?" Ucap Raja tersenyum menggoda.
"Memangnya apa yang terjadi! Jika kau merasa ada yang terjadi itu pasti kau tengah bermimpi." Kata Milka.
"Apa aku harus mengulanginya agar aku tak mengatakan itu adalah mimpi?" Raja mendekatkan tubuhnya ke arah Milka.
"Apa mencium istri sendiri itu termasuk cabul?" Ucap Raja yang juga ikut berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Milka.
"Apa aku harus mengulanginya dan mengatakan aku menyukaimu?" Raja merangkul pinggang Milka. Membuat wajah Milka memerah.
"Jika kau ingin mencium. Cium saja permaisuri." Ujar Milka.
"Ha ha ha, apa kau cemburu? Karena Permaisuri menciumiku?" Raja sepertinya mengerti jika Milka merasa cemburu.
"Tidak! Aku tak cemburu! Untuk apa selir sepertiku cemburu." Elak Milka tak ingin ketahuan.
"Benarkah?" Tanya Raja ingin memastikan. Milka hanya menjawab dengan anggukan saja. Lalu mencoba melepaskan diri dari Raja. Sebenarnya Milka masih tak yakin dengan perasaannya sendiri. Dan, apa mungkin dia bisa menyukai Raja secepat itu? Atau mungkin dia hanya baru menyadari tentang perasaannya pada Raja. Milka sendiri tak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Dan, juga masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa dia memiliki perasaan khusus pada Raja.
****
Setelah dari kediaman Raja Milka akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Putri Electra di kediamannya. Mungkin dia memiliki sesuatu yang bisa mengalihkan Milka dari memikirkan Raja.
__ADS_1
"Putri Aerish.." Sambut Putri Electra yang senang melihat kedatangan Milka.
"Aku senang kau datang." Katanya.
"Terima kasih Putri." Ucap Milka. Lalu keduanya pun duduk untuk berbincang-bincang.
"Apa kau dari kediaman Raja?" Tanya Putri Electra.
"Iya." Sahut Milka pendek.
Apa dia sudah lebih baik?" Tanya Electra lagi.
"Ya, dia sudah lebih baik." Sahut Milka.
"Kenapa kau tak melihatnya sendiri?" Tanya Milka.
"Dia tak membutuhkan aku, lagi pula malas berbasa-basi untuk menanyakan dirinya saat dia sendiri tak membutuhkan diriku." Ucap Putri Electra. Milka mengernyit tak mengerti dengan ucapan Putri Electra.
"Ah, kau pasti tak mengerti maksud ucapanku." Katanya pada Milka.
"Sama seperti dirimu, pernikahanku dengan Yang Mulia Raja adalah karena terpaksa, akibat tradisi keluargaku. Dan aku adalah wanita persembahan untuk Raja." Jelas Putri Electra.
"Namun harus kuakui aku juga mendapat keuntungan besar atas pernikahan itu." Sambungnya.
"Keuntungan?" Tanya Milka.
"Ya, keuntungan, menikahi Raja si penguasa Underwold bukanlah sesuatu yang buruk. Berkatnya karir modeling ku berjalan lancar, dan karna menikah dengan Raja aku bisa menjual emas yang di hasilkan oleh kolam Air Mata milikku. Walaupun tak bisa ku pungkiri aku menyukai Raja." Ucap Putri Electra.
"Namun jelas Raja tak memiliki perasaan apa pun padaku meskipun aku adalah Selirnya." Tambahnya lagi.
"Dari mana Putri bisa mengambil kesimpulan bahwa Raja tak menyukaimu?" Tanya Milka.
"Semua jelas dari perlakuan dan sikapnya padaku. Dan, mungkin juga sama seperti pada selir yang lain." Jawab Electra. Milka semakin tak mengerti, jika memang tak menyukai kesemua wanita itu, kenapa dia menjadinya selir.
"Lalu kenapa Raja menikahi wanita-wanita yang menjadi Selirnya?" Tanya Milka ingin tau.
__ADS_1
"Mungkin juga Raja sama seperti kita. Terpaksa." Sahut Electra. Membuat Milka ingin tergelak, mana mungkin seorang penguasa alam baka terpaksa menikahi gadis-gadis yang kini menjadi selirnya. Bukankah dia memiliki kekuasaan diatas siapa pun, di dunia manusia maupun di dunia gaib. Raja pasti menyukai gadis-gadis itu. Karena jika memiliki banyak selir maka dia akan semakin bersenang-senang. Dasar Raja Cabul. Ucap Milka dalam hati. Dan, tentu itu terdengar oleh Raja.