
"Yang Mulia aku ingin bertemu apa kau berada di kediamanmu?" Tanya Milka lewat kontak batin dengan Raja.
"Ya, aku berada di ruanganku. Ada apa?" Jawab Raja.
"Aku akan ke kediamanmu, tunggu aku dan jangan pergi dengan tiba-tiba, karena ini sangat penting bagiku." Ucap Milka, lalu dengan cepat berdiri.
"Putri kau ingin kemana?" Tanya Clona dan Grasil.
"Aku ingin ke kediaman Yang Mulia. Kalian ingin ikut?" Tanya Milka pada kedua dayangnya itu.
"Tentu saja kami ikut Putri." Sahut keduanya, lalu bergegas mengikuti Milka yang sudah melangkah terlebih dahulu.
"Yang Mulia.." Panggil Milka dengan teriak saat sudah berada di ruangan Raja.
"Aku tidak tuli. Kau bisa memanggilku dengan perlahan." Protes Raja. Dan, Milka hanya tersenyum menanggapinya.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Raja.
"Ah, kau Raja yang pintar. Tanpa memberitahumu, kau sudah bisa menebak jika aku butuh sesuatu." Kata Milka masih dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"Apa kau menjilatku sekarang Putri Aerish."
"Tidak, aku hanya takjub karna kau adalah Raja yang begitu bijaksana." Puji Milka.
"Sepertinya kau memang sangat membutuhkan bantuanku." Ucap Raja mengerti bahkan Milka memujanya karena membutuhkan sesuatu.
"Katakan apa yang kau butuhkah." Kata Raja. Menyuruh Milka mengatakan bantuan apa yang dia perlukan.
"Berjanji dulu kalau kau akan memenuhi permintaanku ini." Tuntut Milka agar Raja mengucapkan janji. Karena dia tak ingin jika sudah mengatakannya maka Raja tak ingin memenuhi permintaan itu.
"Baiklah, aku berjanji." Ucap Raja.
"Tidak, aku tak ingin kau mengatakannya seperti itu, kau terlihat terpaksa dan tak bisa di percaya." Kata Milka tak terima dengan janji yang di ucapkan Raja barusan.
"Lalu kau ingin aku seperti apa? Kau ingin aku mengatakannya seperti apa?" Tanya Raja.
"Perbaiki ekspresimu itu Yang Mulia, jika kau mengucapkan janji dengan wajah datar seperti itu tak akan ada yang percaya dengan janjimu." Ujar Milka menuntut agar Raja membuat wajahnya lebih bersungguh-sungguh lagi.
__ADS_1
Raja yang mendengar apa yang Milka katakan hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengikuti keinginan Milka.
"Aku akan membantumu Putri Aerish, aku berjanji. Apa pun itu akan aku lakukan." Ucap Raja kini dengan ekspressi lebih meyakinkan. Dan, Milka pun menjadi senang di buatnya.
"Yang Mulia, otakku ini akan meledak karna terus memikirkan pembunuh itu. Bisakah kau katakan padaku siapa pembunuh itu. Agar otakku kembali normal dan tidurku bisa lebih nyenyak." Pinta Milka ingin Raja mengatakan langsung siapa pembunuh tiga mayat yang di temukan di sekolahnya itu.
Karena beberapa hari ini dia sudah sangat pusing mencari si pembunuh namun tak juga dia, Dennis dan Glydis temukan siapa sebenarnya pembunuh itu.
"Karna kau telah berjanji maka sekarang ayo katakan padaku siapa pembunuh itu." Rengek Milka menggoyang-goyangkan lengan Raja, persis seperti anak kecil yang meminta es krim kepada ibunya.
"Sebenarnya aku tak boleh ikut campur urusan manusia. Namun karena kau yang memintanya maka akan aku beritahu siapa sebenarnya si pembunuh." Kata Raja dengan raut wajah serius.
"Jika seperti itu ayo katakan sekarang." Milka sudah tak sabaran ingin mengetahuinya.
****
Milka begitu semangat pagi itu berangkat sekolah dengan riang bahagia, karena Raja sudah mengungkap siapa pembunuh itu.
Dan dia sudah tak sabar ingin memberitahukan itu pada Dennis dan Glydis, dan juga tak sabar untuk mengungkap semuanya.
Dennis dan Glydis yang mendengar menghentikan langkah dan menoleh untuk melihat Milka.
"Hai Mil." Sapa Glydis yang terlihat seperti biasa, selalu ceria.
"Lah, kamu kenapa Den? Kok kusut dan enggak bertenaga gitu mukanya?" Tanya Milka saat melihat Dennis yang tanpa semangat.
"Semalam enggak tidur aku." Sahut Dennis pelan.
"Kok bisa enggak tidur? Main game ya kamu?" Kata Milka.
"Dia begadang pikirin pembunuh itu Mil." Glydis yang menjawab.
"Iya Mil, pusing seratus keliling aku. Puyeng pala babe." Kata Dennis dengan mimik wajah melawak.
"Aku punya sesuatu yang bakalan buat pusing seratus keliling kamu itu hilang dengan cepat, secepat si cepat." Ucap Milka melawak membalas Dennis.
"Apaan?" Tanya Dennis.
__ADS_1
"Kamu punya obat yang ampuh ya Mil? Aku juga minta dong, buat nanti kalo ujian. Aku kan suka pusing kalo mendekati ujian." Timpal Glydis polos mengira itu adalah obat betulan yang berbentuk pil atau kapsul.
"Ini tuh enggak bisa di pake kalo ujian Dis," Sahut Milka.
"Obat kamu mah enggak bagus berarti." Kata Glydis dengan wajah mengemaskan.
"Udah deh kalo enggak bisa buat ujian, tapi buruan kamu kasi ke Dennis. Kesihan tuh wajahnya, ganteng tapi keriput akibat pikiran." Ujar Glydis meminta agar Milka segera memberikan obat itu pada Dennis untuk di minum.
"Aku tau siapa si pembunuh itu." Kata Milka yang membuat Dennis dan Glydis terkejut.
"Yang benar kamu Mil?" Tanya Dennis tak percaya dengan apa yang barusan Milka ucapkan bahwa dia mengetahui siapa si pembunuh.
"Kamu tau dari siapa Mil? Kamu mimpi lagi ya? Jangan-jangan kamu cenayang ya Mil." Tutur Glydis tanpa jadah.
"Aku tau dari mana itu enggak penting, yang penting kita udah tau si pembunuh." Ujar Milka. Dan, meskipun Milka tak mengatakan dari siapa ia mengetahui siapa si pembunuh, tampaknya Dennis sudah bisa menabaknya. Pasti Milka mengetahuinya dari orang yang berada di Underworld.
"Memangnya siapa Mil?" Tanya Dennis sudah tak sabar ingin tau juga. Lalu Milka pun berbisik menyebutkan nama si pembunuh.
"Arrggh!! Yang benar kamu Mil." Serentak Glydis dan Dennis terkejut saat mengetahui si pembunuh.
"Tapi kita harus mengatur strategi untuk mengungkapnya. Karna enggak mungkin kita langsung bilang ke orang-orang. Entar kita di kira menjebak dan sengaja mencemarkan nama baik orang itu." Kata Milka.
"Ya, memang harus kayak gitu Mil, kalo enggak malah kita bakalan kena sial dan berurusan sama polisi karna di laporin." Ucap Dennis. Dan Glydis seperti biasa hanya mengangguk setuju dengan apa yang kedua sahabatnya itu katakan.
"Kalo gitu kita masuk kelas dulu, kita sama-sama pikirin cara buat mengungkap si pembunuh itu." Kata Dennis pelan takut terdengar oleh orang lain.
"Iya deh, kita sama-sama pikir caranya, nanti jam istirahat kita bahas ini lagi." Ujar Milka setuju dengan Dennis, dan lagi Glydis hanya menganggukkan kepala tanda dia juga setuju dengan keduanya.
Milka, Glydis dan Dennis pun berjalan masuk kedalam kelas untuk memulai hari itu dengan pikiran yang terus berputar-putar mencari cara pengungkapan.
"Genk udil udah datang toh." Melody menyapa dengan seperti biasa.
"Eh si ember uda ada di kelasnya." Sapa Milka balik dengan persis seperti yang Melody lakukan.
"Ember? Kamu yang ember!" Ucapnya lalu masuk kembali kedalam kelas. Entahlah mungkin dia hanya ingin mencari muka tadi.
"Idiih, dia yang mancing eh malah dia yang terpancing." Kata Milka tak habis pikir dengan kelakuan Melody.
__ADS_1