
Milka kembali ke kamar, di dalam Raja duduk di atas kasur sambil bermain-main dengan ponsel Milka.
Milka naik ke tempat tidur dan menoleh melihat apa yang dia mainkan oleh Raja di ponselnya. setelah itu dia hampir membuat Milka tertawa terbahak-bahak, dia sedang memotret, tapi dia sepertinya tidak tahu bagaimana cara menekannya.
Dia hanya bisa melihat bayangan dirinya sendiri di layar ponsel, Milka tersenyum melihat Raja bertingkah seperti itu.
"Apakah ini cermin?" Tanya Raja menoleh pada Milka.
"Itu bukan cermin." Sahut Milka menggelengkan kepala.
"Ini itu namanya kamera." Kata Milka meraih ponsel dari tangan Raja.
"Ayo kita berselfie." Milka memeluk Raja lalu menekan tombol kamera untuk memotret.
Setelah memotret Milka memperlihatkannya pada Raja.
"Aku ada di dalam?" Herannya, Raja mengambil ponsel itu dari tangan Milka, dan menatap foto dirinya bersama Milka.
"Kenapa kita ada di dalam ini dan tidak bergerak?" Tanya Raja persis seperti pertanyaan anak kecil kepada orang dewasa.
"Karena itu hanya foto kita, jangan tanya aku lagi karena aku tidak tau menjelaskannya." Kata Milka
"Apa Yang Mulia akan kembali menyamar sebagai Niko lagi?"
"Ya, itu harus aku lakukan untuk melindungi mu Permaisuri." Kata Raja
Raja harus menyamar menjadi manusia untuk melindungi Milka dan juga anak yang di kandung Milka, karena semakin banyak roh jahat yang akan mengincar nyawa Milka dan juga anak di dalam perutnya itu.
"Aku akan terus mindungi mu." Kata Raja memeluk Milka.
"Aku tau itu. Yang Mulia tidak mungkin membiarkan aku dan anak kita mati di tangan roh jahat. Aku percaya padamu Yang Mulia." Ucap Milka menatap lembut wajah Raja.
Milka jadi ingat bagaimana dulu Raja menyelamatkan nyawanya. Dulu, Raja mengorbankan semuanya demi drinya.
Bahkan, Raja sampai mendapat hukuman karena memberikan hidup untuk hidup untuknya. Mengingat hal itu membuat Milka sedih sekaligus senang.
Mereka berdua akan berciuman namun tiba-tiba terdengar ******* nyaring dari sebelah. Milka tau jika Faby sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi Natalie, tapi yang malang adalah Milka, karena kamarnya tepat diantara keduanya.
__ADS_1
"Ayo kita lakukan seperti yang di kamar sebelah itu lakukan." Kata Raja berbisik pada Milka.
Milka akan menolak, karena dia sudah hilang nafsu mendengar ******* Faby itu, tapi sebagai istri, Milka seharusnya tak menolak keinginan suaminya. Jadi, Milka pun memasrahkan diri melayani Raja. Untungnya Raja menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan suara Faby yang menyakitkan telinga Milka.
Matahari sudah bersinar saat Milka bangun dengan Raja di sampingnya.
Milka tak tahu, apakah benar tidak apa-apa jika Raja terus berada di dunia manusia, dan bagaimana dengan Underworld? Milka jadi memikirkan tentang itu.
Setelah menatap sebentar wajah Raja, Milka pun bangun untuk mandi.
Setelah mandi Milka keluar dan melihat jika Raja sudah tak ada id atas kasurnya, antara dua, jika bukan kembali ke Underworld, maka Raja sedang berada di kamarnya dan kembali menjadi Niko.
Setelah berpakaian lengkap, Milka pun keluar kamar, di ruang tengah sudah ada Faby yang sedang duduk di sana sambil menonton televisi.
"Pagi." Sapanya saat melihat Milka.
"Iya pagi juga." Balas Milka lalu duduk di sofa.
Tak lama kemudian Natalie juga bangun, Natalie langsung ke dapur dan Milka mengikutinya.
"Mil, kau tau rasanya aku akan gila tidak lama lagi! Faby, dia lebih mengerikan di banding hantu Dilla yang menerorku!" Ujarnya dengan emosi.
"Memangnya ada apa?" Tanya Milka, apakah itu tentang semalam saat Faby sengaja mendesah dengan nyaring.
"Lihat ini." Natalie mengangkat sebuah benda ke depan wajahku, benda dari kulkas, dan itu adalah k*ndom.
"Apa dia pikir lemari es ini untuk menyimpan benda seperti ini!" Natalie langsung membuang benda itu di tempat sampah.
Milka mengerutkan alisnya, tak mengerti, untuk apa dan apa fungsinya k*ondom di simpan di lemari es?.
"Kenapa kau membuangnya? Itu bukan milikmu! Jadi jangan sembarang buang milik orang! Tidak sopan tau!" Ujar Faby marah.
"Apa katamu? Apa kau pikir aku membeli kulkas ini untuk menyimpan barang seperti ini hah!" Natalie tak kalah marah.
Milka bisa melihat kobaran api di mata keduanya, seperti hewan pemangsa yang saling bertemu.
Milka menghela nafas berat, Milka bisa merasakan akan jika pertengkaran itu akan terus terjadi selama Faby ada di rumah itu, rumah pasti tidak akan tenang selama itu.
__ADS_1
Natalie menutup pintu lemari es dengan marah dan kembali ke kamarnya, sepertinya tak akan ada sarapan dari Natalie pagi itu.
"Faby, bisakah kau tidak cari masalah dengan Natalie lagi?" Milka menatap Faby, Milka merasa lelah dengan pertengkaran Faby dan Natalie.
"Cari masalah? Aku rasa, aku tidak pernah cari masalah dengannya, dia saja yang terlalu sensitive." Sahutnya dengan wajah tak bersalah, membuat Milka juga naik darah.
Sepertinya apa yang di katakan oleh Natalie, jika Faby lebih mengerikan dari hantu memang benar.
"Itu, aku juga merasa terganggu dengan suara-auara yang kau buat saat malam dengan pacarmu. Bisakah tidak bersuara jika melakukannya, karena aku sangat terganggu." Kata Milka terus terang.
"Baiklah, aku akan mengecilkan suaraku jika melakukannya lagi, bagaimanapun, aku tidak punya masalah denganmu, aku hanya bermasalah dengan wanita satu itu." Ujarnya.
"Baik, terima kasih." Ucap Milka lalu kembali ke kamarnya.
Sebenarnya, Natalie dan Faby itu memiliki kepribadian yang sama, sama-sama tidak bisa di kerasi dan juga sama-sama akan mendengarkan jika seseorang bersikap lembut padanya. Tapi, karena keduanya memiliki keperibadian yang sama, itulah mungkin yang membuat keduanya tidak bisa akur.
Tak lama setelah Milka kembali ke kamar, teriakan terdengar dari kamar dari kamar Faby.
Milka pun bergegas keluar untuk memeriksa, saat Milka akan pergi ke kamar Faby, Natalie keluar dan menghentikan Milka.
"Mau kemana? Tidak usah pedulikan dia, mungkin dia sedang enak-enak dengan pacarnya sehingga menjerit seperti itu." Kata Natalie.
"Tapi Nat, itu bukan suara seseorang yang lagi enak-enak, tapi suara orang yang lagi ketakutan. Kita harus memeriksanya, bagaimana jika sesuatu yang beruk terjadi." Kata Milka langsung menarik tangan Natalie ikut dengannya ke kamar Faby.
Milka dan Natalie masuk ke kamar Fany, sesampainya di dalam, Milka melihat wajah Faby sudah terlihat sangat pucat.
"Ada apa? Kau kenapa?" Tanya Milka pada Faby yang gemetaran dengan wajah pucatnya.
"I-itu di-sana." Fany menunjuk ke arah kolong tempat tidurnya.
Milka dan Natalie serentak melihat ke arah kolong tempat tidur. Milka dan Natalie tertegun saat melihat kaki mencuat dari kolong tempat tidurnya.
Milka mengumpulkan keberaniannya untuk memeriksanya kaki siapa itu
"Ayo sama-sama." Kata Natalie tak melepaskan tangan Milka. Keduanya pun berjalan mendekat ke arah kaki yang mencuat dari kolong tempat tidur Faby.
LBertapa kagetnya Milka dan Natalie saat lihat kondisi yang empunya kaki, karena seluruh badannya kering keronta, hingga tulang-tulangnya terlihat jelas.
__ADS_1