
"Ada apa Putri?" Tanya Clona saat melihat wajah Milka yang kurang ceria menurutnya malam itu.
"Aku tak apa-apa Clo." Jawab Milka.
"Sedari sore tadi kau sedikit terlihat murung Putri." Kini Grasil yang bersuara. Ya, sepulang sekolah Milka merasa lelah akibat Melody.
"Apa sesuatu mengganggumu Putri?" Tanya Clona masih ingin memastikan penyebab Milka terlihat tak begitu bersemangat.
"Ya, Aku punya mengganggu setiap di sekolah, Melody. Dia terus saja menganggukku." Milka menghela nafas berat, dia merasa Melody tak akan pernah akan berhenti mengganggunya. Karena mengganggu hidupnya adalah kesenangan Melody.
"Dia mengganggumu lagi ya?" Tanya Clona, dia juga merasa kasihan pada Milka karena selalu di runding oleh Melody.
"Aku rasa dia tak akan pernah berhenti. Dia tak akan pernah puas mengganggu hidupku." Ucap Milka, karena itu adalah kenyataannya. Melody tak akan pernah puas selagi Milka masih bernafas.
"Apa kau ingin aku memberinya pelajaran sedikit. Mungkin pelajaran untuk mulai menghargaimu." Tanya Grasil serius. Jika Milka mengizinkan, dia akan membuat Melody tak akan tidur nyenyak di malam hari sampai dia meminta maaf dan berhenti mengganggu Milka.
"Tak perlu, biarlah dia menyadarinya sendiri, itu pun kalau dia bisa sadar." Kata Milka merebahkan diri diatas kasurnya.
"Tapi jika di biarkan dia akan terus mengganggumu Putri." Kata Grasil, Grasil sedikit heran, entah kenapa Milka masih saja memberi kebaikan hatinya pada Melody. Padahal Melody sudah begitu jahat padanya.
"Aku hanya perlu bertahan dengannya. Dan, aku rasa aku masih sanggup untuk itu." Jawab Milka.
"Apa Yang Mulia ada di kediamannya?" Tanya Milka pada Grasil dan Clona. Clona dan Grasil saling pandang karena mereka berdua pun tak tahu pasti apakah Raja ada di kediamannya atau pun tidak.
"Kami tak tau Putri." Jawab keduanya. Milka menepuk jidatnya, merasa seperti orang bodoh. Bukankah dia bisa kontak batin dengan Raja. Kenapa tak dia sendiri saja yang langsung bertanya pada Raja.
"Yang Mulia apa kau berada di kediamanmu?" Tanya Milka dalam hati.
"Aku berada di ruang kerjaku Putri Aerish." Sahut Raja langsung tanpa jedah yang lama. Mungkin karena dia juga merindukan Milka. Namun karena pekerjaan yang begitu banyak dia tak bisa menemui Milka.
__ADS_1
"Kau sibuk?" Tanya Milka lagi.
"Sepertinya malam ini aku tak bisa menemuimu, maafkan aku." Ucap Raja lembut, sekaligus merasa bersalah karena tak bisa menemani Milka malam ini.
"Tak apa-apa, lanjutkan saja pekerjaanmu Yang Mulia. Aku akan segera tidur." Kata Milka tak keberatan, karena dia tau jika Raja sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang penguasa. Apalagi penguasa alam baka yang penuh dengan sesuatu yang kejam. Mungkin.
"Akhir-akhir ini aku tak pernah melihat Putri Electra, apa kalian pernah melihatnya. Mungkin saja kalian bertemu dia saat aku sedang bersekolah." Tanya Milka pada Clona dan Grasil.
"Tampaknya dia juga sedang sibuk Putri. Dia jarang sekali berada di Istana." Sahut Grasil.
"Ku dengar dia melakukan fasion sow Putri." Beritahu Clona. Karena beberapa hari yang lalu dia sempat bertemu dengan Putri Electra.
"Fashion show Clo. Aku harap dalam waktu terdekat ini aku bertemu dengannya." Milka sedikit merasa rindu pada Electra. Dan, dia berharap pertemanan mereka tidak akan hancur hanya karena masalah yang Evan timbulkan.
Milka menjadi ingat tentang Evan, sampai sekarang Milka tak pernah mendengar kabar perihal Evan. Polisi pun tak pernah mengabarinya, atau memintanya untuk menjadi saksi setelah kabar penangkapan Evan.
Terakhir, Raja mengatakan bahwa Evan telah tertangkap dan sedang di tangani oleh pihak berwajib, setelah itu tak ada lagi kabarnya, Raja pun tak pernah lagi membahas soal Evan.
Pagi harinya, semua siswa dan siswi berkumpul di lapangan. Mereka akan melakukan kegiatan bakti, melakukan pembersihan di area luar sekolah. Banyak siswa dan siswi yang merengut karena hal itu mendadak, dan mereka tak punya persiapan apa pun. Namun ya, apa boleh buat. Hal itu harus di lakukan, jika tidak nilai mereka akan di kurangi. Kepala sekolah yang baru memang benar-benar keras.
"Iihh kotor banget, jijik tau." Terdengar Melody dan teman-temannya tak henti-hentinya berceloteh saat mereka akan memungut sampah-sampah.
"Alay banget sih mereka." Glydis jengah melihat tingkah Melody and the geng yang seperti tak pernah memegang sesuatu yang kotor.
"Kan orang kaya mereka, mana pernah pegang yang kayak gini ini." Ucap Dennis mengangkat sebuah plastik yang di penuhi tanah.
"Udah, entar mereka dengar jadi rusuh. Malas ladeninya." Ucap Milka. Biarkan saja mereka.
"Aduuh liat deh para udil-udil itu. Nyantai banget mungut sampah-sampah kotor itu." Ujar Melody terik dari ujung sana. Ucapan yang di tujukan untuk Milka, Glydis dan juga Dennis pastinya.
__ADS_1
"Iya, kita kan bukan orang Kaya Mel, kenapa kamu mau kita pungut juga?" Milka bersuara. Dia tidak akan diam lagi jika di tindas dengan kata-kata oleh Melody.
"Maksud kamu apa?" Tanya Teman Melody yang tak mengerti.
"Kalian kan sampah! Ups sorry aku keceplosan." Kata Milka tak lagi menahan kata-katanya.
"Kurang ajar banget kamu ya Mil!" Melody tak terima di katai sampah oleh Milka.
"Kalian bukan sampah ya?" Milka semakin memancing. Kali ini dia yang ingin memimpin aduh mulut itu.
"Mereka itu bukan sampah Mil. Mereka itu parasit." Glydis ikut-ikutan memancing.
"Aduuh, bilang aja deh kalo kalian itu iri. Makanya ngomong kayak gitu." Melody membalas.
"Iri sama parasit ngapain iih." Jawab Glydis.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya guru yang datang mendekat.
"Enggak ada apa-apa pak." Jawab Milka. Lalu setelah mendapat jawaban dari Milka, guru itu pun pergi.
Setelah empat jam membersihkan sekitar, akhirnya mereka beristirahat untuk makan. Namun sayangnya Milka, Glydis dan Dennis tak memiliki makanan. Sedangkan Melody, baru saja Sari turun dari mobilnya yang di kendarai oleh sopir. Sari turun dengan di bukakan pintu oleh sopirnya. Maklum orang kaya.
"Mama bawain kamu sama teman-teman kamu makanan." Sopir menyerahkan kantong berisi makanan cepat saji pada Melody dan teman-temannya.
"Aduhh, mama the best deh." Ucap Melody kegirangan.
"Iya dong mama kan enggak mau anak kesayangan mama ini sampai telat makan." Kata Sari dengan volume suara yang di besarkan, sengaja agar Milka mendengarnya.
"Makasih mama. Untung ada mama, jadi kita enggak perlu repot lagi beli makanan. Enggak kayak yang di sana tuh. Kasihan." Ujar Melody melirik Milka.
__ADS_1
"Aku beli makan dulu deh, kalian tunggu di sini." Dennis akan berdiri namun sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya.
Seseorang berkacamata hitam keluar dari mobil mewah tersebut membuat mata para siswi tertuju ke arahnya. Dan, ketampanan pria itu menghipnotis mereka hingga tak bisa berkedip.