
Hari ini Putri Selene akan di adili di pengadilan Helles, semua telah berkumpul. Milka, Clona dan Grasil.
Putri Selene yang di bawa oleh pengawal menatap penuh kebencian ke arah Milka. Raut wajahnya tak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
"Dena Niara.." Nama asli Putri Selene yang di sebut oleh Rafhael.
" kau akan tetap bereinkarnasi tapi sebagai seorang wanita miskin yang akan hidup sengsara, setengah dari hidupmu kau akan mendapatkan kebencian dari orang yang kau cintai. Kau harus menanggung kesalahan yang telah kau perbuat." Rafhael menjatuhkan titah Raja pada Putri Selene.
"Tidak! Yang Mulia jangan membuatku bereinkarnasi dengan hidup yang buruk seperti itu! Aku mohon!" Teriaknya meronta-ronta. Namun Raja terlihat tak peduli dan mengabaikan permintaan Putri Selene.
"Ini semua karnamu. Kau wanita ******!!!" Teriak Putri Selene menatap wajah Milka dengan kemarahan yang besar.
Putri Selene yang lepas dari pegangan para pengawal langsung berlari ke arah Milka dan ingin mencekik Milka. Namun dengan kekuatan yang di miliki oleh Raja, dengan hanya mengerakkan tangannya dari atas sana membuat Putri Selene terpental jauh.
"Ternyata apa yang terjadi tak membuatmu jera dan bertobat. Apa aku harus menambah hukumanmu!!!" Raja sepertinya begitu marah dengan apa yang Putri Selene lakukan. Di hadapannya mencoba untuk mencelakai Milka.
"Pengawal bawa dia, berikan dia rasa sakit sebelum dia bereinkarnasi." Perintah Raja.
"Tidak!!! Aku mohon Yang Mulia ampuni aku!!!" Teriak Putri Selene yang di seret oleh penjaga keluar dari pengadilan Helles.
Milka yang terkejut benar-benar tak menyangka Putri Selene akan senekat itu.
****
Hari ini setelah sepekan tak bersekolah Milka akhirnya kembali ke sekolah untuk belajar.
"Milka..." Teriak Glydis yang melihat Milka memasuki sekolah mereka.
"Udah sembuh kamu?" Tanya Glydis.
"Udah dong." Sahut Milka ceria.
"Kok belakangan ini kamu sering sakit?" Tanya Glydis karena akhir-akhir ini Milka sering tak bersekolah dengan alasan ia tengah sakit.
"Namanya juga penyakit Dis, mana tau aku dia bakalan hingga di aku." Ucap Milka. Dan, apa yang Milka ucapkan adalah benar, karena kita tak pernah tau kapan penyakit itu akan datang. Pikir Glydis.
"Emang kamu sakit apa Mil?" Glydis ingin tau Milka terkena penyakit apa.
"Akh, itu, apa. Sakit flu ketiak." Ucap Milka mengarang, toh, Apa pun yang ia sebut, pasti Glydis akan percaya. Glydis kan sedikit tulalit.
__ADS_1
"Eh sini kamu! “Melody yang melihat Milka langsung datang dan menarik Milka.
"Dari mana kamu? Kenapa kamu bisa hilang gitu aja dari rumah? Jelas-jelas kamu masuk ke kamar dan hilang?" Pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan Melody pada Milka.
"Mau tau atau mau tau aja?" Tanya Milka bermain-main.
"Aku nannya yang serius!" Suara Melody tersengar keras.
"Kepoh! Noh, tanya sama sepatu." Milka mengangkat kakinya menunjuk ke arah sepatu baru yang pagi tadi di berikan Electra untuknya. Sepatu bermerek dan keluaran terbaru yang hanya ada tiga di Indonesia.
Dan harganya diatas tiga digit. Dan, bisa di tebak Milka sengaja melakukan itu agar Melody menjadi iri, karena itu adalah merek yang di gila-gilai. Dan, pernah ia menangis-nangis untuk di belikan merek itu dulu. Sari yang memanjakan Melody dengan wajah memelas meminta pada Harman untuk membelikan Melody, dan Harman pun menurut membelikan sepatu yang seharga sepuluh juta itu tanpa menolak.
"Kamu dapat dari mana sepatu itu?" Tanya Melody yang mengejar Milka karena merasa penasaran dengan sepatu yang Milka pakai.
"Kasihan, mau ya. Tapi pasti enggak mampu kan belinya" Ledak Milka. Itu adalah salah satu pembalasan atas perbuatan Melody dan juga Sari padanya.
"Itu pasti KW, dasar, enggak malu kamu pake KW." Umpat Melody.
"Idiiihh, iri bilang bos." Ucap Milka lalu pergi meninggalkan Melody yang geram.
"Itu benaran sepatu asli Mil?" Tanya Glydis yang juga penasaran karena tadi mendengar pembicaraan Milka dan Melody.
Saat berada di dalam kelas seorang siswa masuk dan duduk di sebelah Milka, tinggi dan dia terlihat begitu tampan.
"Kamu Milka kan?" Tanyanya pada Milka.
"Iya," Sahut Milka pendek, karena dia sedikit gugup.
"Aku Dennis. Siswa pindahan." Dia mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Milka.
"Milka." Sahut Milka menyambut uluran tangan Dennis. Milka tak menyangka sepekan tak bersekolah ternyata setelah masuk sekolah ada siswa tampan yang duduk di sebelahnya. Apalagi dia terlihat begitu ramah.
"Kalian mau ke kantin? Bareng yuk." Ajak Dennis saat jam istirahat.
Milka dan Glydis pun menerima tawaran Dennis untuk sama-sama ke kantin.
"Kamu sakit apa Mil?" Tanya Dennis saat mereka tengah menikmati jam istirahat duduk di kantin sekolah.
"Sakit?" Ulang Milka.
__ADS_1
"Iya, sakitkan makanya baru masuk sekolah?" Kata Dennis, Milka jadi ingat dia tak bersekolah dengan alasan sakit. Entah suruhan Raja yang mana yang datang dan mengatakan itu pada kepala sekolah.
"Iya, aku sakit kemarin makanya enggak sekolah." Lagi-lagi Milka berbohong.
"Kamu memangnya sakit apa Mil?" Tanya Dennis lagi.
"Dia sakit flu ketiak." Glydis yang menjawab membuat Milka hampir saja menyemburkan minumannya ke wajah Dennis.
"Flu ketiak? Memang ada ya flu seperti itu?" Tanya Dennis bingung mendengar nama penyakit yang di sebutkan Glydis.
"Mending cepat makan, bentar lagi jam masuk." Ujar Milka mengalihkan pembicaraan. Dennis melirik jam pada tangannya.
Ternyata memang jam istirahat akan habis tak lama lagi. Dia pun dengan buru-buru menghabiskan makanannya. Flu ketiak pun terlupakan oleh Dennis dan Glydis. Milka mengelus dada lega. Hampir saja kebohongannya ketahuan. Dasar Glydis.
"Oops sorry." Melody yang lewat dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju Milka.
"Kamu sengaja ya?" Glydis berdiri dengan marah melihat Milka di perlakukan seperti itu.
"Aduhh, ajudannya marah deh." Melody memasang wajah mengesalkan.
"Kamu-"
"Udah Dis, sampah enggak usah di ladeni nanti kamu ikut kotor." Kata Milka menenangkan Glydis.
"Apa kamu bilang!" Mendengar Milka menyebutnya sampah membuat Melody menjadi marah.
"Aduh kedengaran ya?" Kini giliran Milka yang bermain.
"Ternyata sampah punya telinga juga ya. Mana pendengarannya bagus lagi." Sambung Milka yang semakin membuat Melody berang.
"Jaga ya tuh mulut." Marah Melody.
"Udah, tapi karna sampahnya terlalu busuk makanya enggak bisa di diamkan." Ucap Milka.
"Bentar lagi masuk, ayo buruan ke kelas, dari pada di sini bau." Dennis ikut-ikutan.
"Iya deh ayo Mil. Sampahnya bau banget." Tambah Glydis.
"Kalian juga cium ya baunya. Ayo deh, daripada lama-lama di sini, nanti ketularan bau lagi." Ujar Milka, lalu ketiganya pun meninggalkan Melody yang menahan marah.
__ADS_1
Ia tak lagi bisa apa-apa karena di ujung sana ada wali kelasnya yang datang mendekat. Jika melanjutkan maka dia akan mendapat hukuman. Dia pun memilih untuk menahan diri, dan pasti nanti akan Membalas Milka dan teman-temannya itu yang sudah merendahkan dia.