
Putri Yang Mulia Raja ingin menemuimu di kediamannya." Kata pelayan menyampaikan apa yang di beritahukan pengawal padanya.
"Yang Mulia ingin menemuiku?" Ulang Milka.
"Iya Putri." Sahut Pelayan.
"Baiklah. Aku akan beristirahat dulu, setelahnya aku akan ke kediaman Yang Mulia." Ujar Milka, lalu pelayan pun pergi meninggalkan Milka di ruangannya sendiri.
"Yang Mulia.. apa kau menyurukku ke kediamanmu?" Tanya Milka lewat hati. Namun tak ada jawaban, Milka tak mendengar sahutan dari Raja.
"Yang Mulia..." Panggil Milka lagi. Dan, masih tak ada jawaban dari Raja.
Akhirnya Milka memutuskan untuk segera mendatangi Raja di kediamannya sendiri.
"Putri kau ingin kemana?" Tanya Clona yang saat itu akan kembali ke kediaman Milka setelah membantu Nyonya West mengurus sesuatu.
"Aku ingin ke kediaman Raja." Sahut Milka.
"Aku akan menemanimu." Kata Clona.
"Tidak perlu Clo, sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan ke sana sendiri." Ucap Milka,
"Tapi Putri-"
"Menurut saja. Meskipun kau itu makhluk gaib, tapi kau juga butuh istirahat. Aku tak mau kau sakit seperti Yang Mulia Raja." Ucap Milka, dan akhirnya Clona pun hanya bisa menurut.
Milka yang telah sampai di kediaman Raja langsung masuk untuk menemui Raja.
"Yang Mulia apa kau memintaku untuk menemuimu?" Tanya Milka saat sudah berada di hadapan Raja.
"Ya," Jawab Raja pendek.
"Kenapa kau ingin menemuiku? Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Milka.
"Kenapa pertanyaanmu itu seperti seorang yang dengan terpaksa menemuiku?" Raja balik tanya.
"Apa kau tak suka menemuiku Putri Aerish?" Tanya Raja lagi.
"Tidak, bukan seperti itu Yang Mulia." Sahut Milka.
"Tapi apa kau tak mendengar suara hatiku, tadi aku memanggilmu. Tapi kau tak menjawabnya." Kata Milka bertanya pada Raja.
"Aku dengar." Kata Raja.
"Lalu kenapa kau diam?" Tanya Milka heran karena Raja mengabaikan saat dirinya mengajak bicara Raja lewat hati.
__ADS_1
"Karna aku ingin bicara langsung denganmu." Ujar Raja.
"Apa yang ingin Yang Mulia bicarakan?" Tanya Milka ingin tau apa yang ingin di sampaikan oleh Raja padanya.
"Tidak." Kata Raja langsung mengambil posisi duduk dan menyeruput pelan minumannya.
"Katamu ada yang ingin kau bicarakan." Nada Milka mulai berubah.
"Benarkah? Apakah aku mengatakan itu?" Ucap Raja santai tampak tak peduli.
"Yang Mulia apa kau ingin memancing di air yang keruh?" Milka sepertinya akan meledak.
"Tidak, aku tak suka memancing." Jawab Raja seolah sengaja.
"Yang Mulia...!!!" Teriak Milka.
"Duduklah, temani aku minum." Ucap Raja lalu menuang teh hijau ke cangkir mini yang ada.
"Nyonya West akhir-akhir ini begitu sibuk mengurus sesuatu. Dan, tak ada yang menemaniku." Ucap Raja menjelaskan bahwa dia hanya merasa sedikit sepi karena tak ada Nyonya West yang menemaninya.
"Memangnya apa yang di lakukan oleh Nyonya West? Kedua dayangku juga sibuk membantu." Kata Milka, karena memang beberapa hari ini Clona dan Grasil jarang bersamanya karena mereka berdua membantu Nyonya West melakukan sesuatu.
"Apa kau selalu ingin tau apa yang di lakukan oleh orang Putri Aerish?" Tanya Raja karena Milka selalu saja ingin mengetahu apa yang orang lain lakukan.
"Bagaimana pun dirimu aku tetap menyukaimu." Ucap Raja, tampaknya Milka salah sasaran, karena ujung-ujungnya dia yang jadi malu sendiri dengan apa yang di ucapkan Raja.
****
Pagi harinya Milka berangkat ke sekolah, hari pertama di hari Senin. Setelah kejadian mengerikan tentang pembunuhan yang terjadi di sekolah.
"Hei Mil. Dari tadi?" Tanya Dennis.
"Baru kok Den." Jawab Milka.
"Ngomong-ngomong. Kamu tiap sekolah teleportasi ya Mil." Tanya Dennis yang memang penasaran.
"Iya." Balas Milka pelan.
"Itu keren." Kata Dennis takjub.
"Hai kalian berdua." Sapa Glydis yang juga tiba di sekolah pagi itu dengan wajah cerianya seperti yang biasanya. Ketiganya pun lalu berjalan memasuki sekolah.
"Aduuhh si trio kucel udah datang." Ujar Melody saat ketiganya melewatinya pagi itu.
"Aduuhh pagi-pagi ada aja yang sirik ya." Ucap Glydis.
__ADS_1
"Udah Dis enggak usah di gubris. Gonggongan anjing kan emang gitu Dis." Ujar Milka membuat Melody tersulit tak terima dirinya di sama kan dengan binatang kaki empat itu.
"Jaga tuh mulut!" Kata Melody menunjuk bibir Milka dengan telunjuknya.
"Kok kamu ngerasa? Emangnya kamu anjing?" Milka semakin ingin membuat Melody meledak.
"Dasar kau!" Marah pada Milka. Namun karena tak ingin terlalu meladen Melody akhirnya Milka tak memperpanjang perdebatan itu dan memilih untuk masuk ke kelasnya.
Dan di dalam kelas para siswa dan sibuk membahas tentang pembunuhan yang terjadi di sekolah, mereka mengatakan bahwa yang meninggal terbunuh itu adalah guru dari sekolah lain. Dan bahwa pembunuhnya belum juga tertangkap. Milka dan Dennis mendengarnya dengan saksama.
"Tentang kasus ini, bagaimana menurut kamu Den?" Tanya Milka pada Dennis.
"Enggak tau Mil, tapi firasatku mengatakan itu akan segera terungkap." Ucap Dennis.
"Arkkkk!!!!" Suara teriakan terdengar. Dan semua bergegas ke arah teriakan itu. Dan bertapa kagetnya mereka, pagi itu kembali di gemparkan dengan satu lagi mayat, namun kali ini korban adalah seorang wanita. Milka benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Ada apa sebenarnya?" Gumam Milka.
"Ayo pergi dari sini, aku takut." Kata Glydis yang sudah akan menangis. Lalu Dennis dan Milka pun membawanya keluar untuk menenangkan diri.
"Aku merasa bahwa pembunuh itu sengaja." Ucap Dennis.
"Maksud kamu Den?" Tanya Milka yang tak mengerti.
"Pembunuh itu, dia enggak bunuh mereka di sekolah ini." Ujar Dennis.
"Maksud kamu, mayat laki-laki dan mayat wanita tadi itu di bunuh di tempat lain?"
"Iya Mil, dan setelah mati. Baru di bawa ke sekolah kita." Tiba-tiba saja Milka jadi merinding mendengar ucapan Dennis.
"Tapi kenapa? Kenapa setelah dia membunuh mayat itu di bawa ke sekolah?"
"Itu yang akan aku cari tau." Ucap Dennis penuh keyakinan bahwa dia harus menganggap kasus misterius itu.
"Ikut," Sahut Milka tak ingin ketinggalan.
"Kalian apaan sih. Mending enggak usah. Biarin polisi yang menangani." Kata Glydis tak ingin ikut campur.
"Kamu tenang aja Dis, kita enggak minta kamu ikut." Ucap Dennis. Namun karena Milka ikut-ikutan jadinya Glydis pun tak ingin membiarkan Milka sendiri. Dan, dengan terpaksa dia memaksakan diri untuk ikut mencari tau kebenaran di balik pembunuhan itu.
"Kapan kita mulai?" Tanya Milka.
"Sore nanti, sepulang sekolah." Sahut Dennis.
"Kalo gitu aku kabari Clona sama Grasil di Underworld dulu ya." Bisik Milka tak ingin Glydis mendengarnya. Dan, Dennis pun mengangguk mengiyakan. Sebaiknya memang seperti itu, Milka harus mengabari Underworld. Jika terjadi sesuatu maka dia tak akan terlalu di salahkan.
__ADS_1