
"Yang Mulia.. apa yang terjadi pada Evan?" Tanya Milka saat berada di kediaman Raja. Dia sangat penasaran dengan apa yang di dapatkan Evan atas kelakuan buruknya itu.
"Dia mendapatkan sesuatu yang memang seharusnya dia dapatkan, dan aku berani bertaruh, jika saat ini dia pasti sedang bersenang-senang dengan itu." Kata Raja. Dan di tempat lain, ya, Evan memang sedang menikmati apa yang dia dapat. Menikmati rasa sakit akibat penyiksaan yang membuat dia sangat ingin mati, namun kematian itu tak juga kunjung dia dapatkan.
"Apa itu Yang Mulia?" Tanya Milka begitu penasaran.
"Sebaiknya kita tak membahas ini." Ujar Raja langsung memeluk Milka dari belakang..
"Aku ingin menikmati waktuku bersamamu tanpa membahas orang lain." Ucap Raja dengan pandangan nakalnya.
"Yang Mulia kau cabul." Kata Milka mencubit dada Raja.
****
"Gila tuh orang, sarap emang. Rasanya mau ku kunya-kunya deh." Ucap Glydis marah mendengar Milka menceritakan apa yang di lakukan Evan kepadanya.
Hari ini di sekolah Milka menceritakan semua yang terjadi padanya kepada Glydis dan juga Dennis.
"Dari awal sudah ke baca sih dari mukanya, kalo dia itu bukan cowok baik-baik. Untung aja aju enggak ada, kalo ada udah ku patahkan lehernya." Kata Dennis geram. Dari awal dia memang tak berapa suka pada Evan. Menurut pandangannya Evan itu hidung belang. Dan, ternyata justru lebih parah dari itu.
"Jadi apa yang Raja laku in ke dia?" Tanya Dennis ingin tau apa yang Raja lakukan pada Evan karena telah berlaku kurang ajar pada Milka.
__ADS_1
"Katanya sih sesuatu yang memang pantas dia dapatkan, tapi enggak tau deh apa. Raja enggak mau bilang." Jawab Milka.
"Itu pasti sesuatu yang menyakitkan, yang akan membuat si Evan itu mau mati, tapi enggak mati-mati." Tebak Dennis. Dan, ya, tebakan Dennis itu benar tanpa meleset, karena memang itulah yang di dapatkan Evan.
"Kira-kira apa ya?" Tanya Glydis tampak berpikir.
"Udah enggak udah di pikirin. Kamu juga enggak akan bisa membayangkan itu." Kata Dennis pada Glydis yang terlihat berpikir keras.
"Aku kan penasaran Den." Ucap Glydis memonyongkan bibirnya.
"Aduhhh... Trio udil lagi kumpul." Tiba-tiba Melody datang bersama The gangnya. Seperti biasa pasti ingin cari gara-gara.
"Aduhhhh... Sekumpulan wanita bermulut ember pada datang." Ledek Dennis, seperti yang di lakukan Melody.
"Kenapa? Mau coba? Ayo, jadi kamu bisa tau aku laki-laki tulen atau banci." Sahut Dennis mengedipkan sebelah matanya pada teman Melody itu.
"Jijik tau enggak!!! Puiih!" Ucapnya, lalu sekan meludah.
"Jijik-jijik, entar kalo udah rasa mala kecantol minta terus." Ucap Dennis lagi tak mau mengalah.
"Dasar udil!" Kata teman Melody tak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Dennis, karena tampaknya dia akan kalah bicara dan kehabisan kata-kata jika terus meladeni Dennis.
__ADS_1
"Udah Den, enggak usah di ladeni." Ucap Milka tak ingin Melyani Melody dan teman-temannya yang hanya akan bikin darah tinggi.
Saat Milka berdiri dan akan pergi bersama Dennis dan Glydis meninggalkan kantin, tiba-tiba ucapan Melody membuat langkahnya terhenti.
"Eh, kalian tau enggak kalo Milka itu anak terbuang. Kalian tau kan kalo ayahnya itu nikah sama ibu aku, tapi tau enggak kalian? Kalo ayahnya itu lebih sayang sama aku daripada dia." Ujar Melody dengan lantangnya.
"Kok bisa gitu sih Mel? Kok bisa ayahnya lebih sayang sama kamu daripada anaknya sendiri?" Tanya teman Melody sengaja ingin memancing agar Milka memanas.
"Ya, karna aku tuh anaknya baik, penurut dan sopan sama orang tua, jelaslah ayahnya lebih sayang aku yang anak tiri, ketimbang anak kandungnya yang bandel, suka bikin ulah dan pembohong." Jawab Melody merekah cerita.
"Lah, kok bisa Mel, sih Milka kan di sekolah kelihatan kayak anak baik-baik yang penurut banget." Ucap Teman Melody yang berambut pendek.
"Itu kan kelihatannya aja. Kalian mana tau aslinya kayak apa." Sahut Melody.
Milka berjalan mendekat ke arah Melody. Dan saat hanya jarak beberapa jengkal saja lagi, Milka berucap. "Kamu membicarakan diri sendiri ya Mel?" Ya, orang-orang jadi tau deh kamu kayak apa."
Aduhh.. Mil, enggak usah pura-pura gitu deh, sok gelak lagi." Kata Melody mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Mel, mendingan sekarang kamu jaga mulut kamu deh, kayaknya kesabaran aku tinggal dikit aja lagi, takutnya kalo udah habis, kamu enggak akan bisa sesumbar lagi." Ujar Milka.
"Aku enggak takut." Ucap Melody menantang Milka. Tak peduli dengan apa yang Milka ucapkan.
__ADS_1
"Terserah kamu aja sih." Kata Milka lalu balik badan dan pergi. Ya, kesabarannya kali ini habis. Jika lain kali Melody masih mengusiknya maka dia akan membalas sampai Melody jerah. Jika perlu dia akan membuat Melody bertobat.