Suami Hantu

Suami Hantu
Kemarahan Raja


__ADS_3

Hari ini kembali Milka melakukan pemotretan, dia mengira pemotretan itu hanya akan berjalan satu kali saja, dan setelahnya tak akan ada lagi.


Tapi ternyata dia salah, setelah pemotretan pertama, ada pemotretan kedua. Dan, hari ini adalah pemotretan ketiga.


"Hummm..." Milka menghela nafas panjang. Karena pemotretan itu sangat melelahkan. Jika ada yang mengatakan bahwa pemotretan itu singkat dan hebat, itu salah. Tapi mungkin untuk sebagian orang mungkin bagus. Tidak untuk Milka. Putri Electra sangat hebat, karena dia bisa melakukannya tanpa beban. Mungkin karena Pitri Electra menyukai profesinya itu.


"Ada apa? Kamu baik-baik aja Mil?" Tanya Putri Electra.


"Ya, aku baik-baik aja kok. Cuman agak lelah aja." Ucap Milka.


"Maaf ya Mil, aku juga enggak nyangkah kalo pemotretannya akan selama ini" Putri Electra terlihat menyesal.


"Enggak apa-apa kok, kamu enggak usah merasa enggak enakkan gitu. Meskipun lelah ya, setidaknya aku punya pengalaman baru." Ucap Milka agar Putri Electra tak merasa bersalah.


"Rain ayo, saatnya pemotretan." Salah satu kru meminta Putri Electra bersiap untuk pemotretan selanjutnya.


"Aku pergi dulu ya Mil, kamu tunggu di sini, tinggal ini aja kok. Udah itu kita pulang." Kata Putri Electra yang harus pergi meninggalkan Milka menuju ruangan lain untuk melakukan pemotretan sendiri. Dan, Milka pun mengangguk. Dia akan menunggu dengan bosan, karena pemotretannya telah selesai, dan hanya tinggal Putri Electra saja.


"Hei Mil, sendirian ya?" Evan yang datang menyapa Milka. Sendiri? Milka melihat sekelilingnya dan benar dia hanya tinggal sendiri tanpa siapa pun. Tak ada satu pun kru yang berada di sana. Dan, Milka baru menyadarinya.


"Kayaknya sih iya." Ucap Milka. Andai saja tadi saat Clona dan Grasil ingin ikut dia mengiyakannya. Ini adalah kesalahannya karena melarang Clona dan Grasil ikut.


"Tapi itu bagus Mil." Kata Evan membuat Milka tak mengerti dengan maksud yang terkandung di dalam ucapan Evan itu..


"Maksudnya? Apanya yang bagus?" Tanya Milka ingin memastikan maksud dari ucapan Evan barusan.


"Kamu dan aku, hanya berdua. Itu bagus Mil, artinya aku punya waktu buat berduaan sama kamu." Evan mendekat ke arah Milka. Dan, tiba-tiba Evan menempatkan tangannya di atas paha Milka.


"Jangan kurang ajar ya Kamu!!!" Milka berdiri dengan marah dengan perbuatan Evan yang kurang ajar itu.

__ADS_1


"Ayolah Mil, aku tau kamu ada rasa sama aku." Evan berucap dengan percaya diri sambil kembali mendekati Milka.


"Kayaknya kamu salah paham, aku enggak suka sama kamu." Ucap Milka jujur, karena dia memang tak memiliki perasaan apa pun pada Evan. Melirik Evan saja tidak. Rasanya Evan yang berlebihan beranggapan jika Milka menyukainya.


"Enggak usah sembunyikan perasaan kamu Mil, aku tau kamu menyukaiku." Evan tetap beranggapan salah.


"Kamu salah, aku enggak suka sama kamu sebagai laki-laki. Maaf, kamu salah anggap." Milka masih menolak dengan kata-kata baik dengan penuh sopan, meskipun tadi Evan berkelakuan tak sopan padanya.


"Kamu pasti malu-malu, ayolah Mil, hanya kita berdua di sini. Enggak ada siapa-siapa yang akan tau Mil." Evan mulai lagi, dia memegang tangan Milka. Milka yang kaget langsung menarik tangannya tak suka dengan kelakuan Evan yang begitu lancang padanya.


"Jaga kelakuan anda ya!!! Saya itu enggak punya perasaan apa-apa sama anda. Dan! Tolong anda berkelakuan sopan sama saya!!!" Ucap Milka dengan marah mengentakkan tangan Evan.


"Dasar ******! Sok jual mahal kamu!" Evan juga terlihat marah mencengkeram kasat tangan Milka.


Milka berontak mencoba melepaskan tangannya yang terasa sakit akibat genggaman Evan.


"Kurang ajar!!!" Milka menampar kuat wajah Evan dengan penuh emosi.


"Dasar ******! Sok menolak! Nanti juga kamu pasrah kalo sudah dapat!." Ujar Evan kurang ajar. Evan semakin menyudutkan Milka, membawa Milka ke arah tembok dan terus mencoba untuk mencumbu Milka.


Milka dengan kuat mempertahankan diri, dan menendang perut Evan hingga Evan jatuh dan merasa sakit.


"Jangan macam-macam kamu!!!" Milka semakin marah. Evan yang tak terima dengan cepat bangun dan kembali memaksakan kehendaknya pada Milka. Tenaga Milka hampir habis, dan tubuhnya melemah, sedari tadi dia melakukan perlawanan. Dan, itu membuat tenaganya terkuras, apalagi tubuh Evan besar dan kuat. Sulit untuk Milka bisa menang, menahan agar Evan tak mencumbunya.


Dan, saat Milka sudah tak lagi bisa bertahan, menahan agar Evan tak bisa menyentuhnya, Milka tak lagi bisa, tenaganya telah habis. Dan, saat itu Milka menutup mata dan menangis berharap keajaiban datang untuk menolongnya dari laki-laki biadab seperti Evan.


Brukkk!!!


Tubuh Evan terpental jauh terbentur tembok studio. Tubuhnya seakan remuk karenanya. Evan hanya bisa meringis kesakitan.

__ADS_1


"Berani sekali kau bersikap kurang ajar! Dan mencoba menyentuh wanitaku!!!" Suara Raja bergema membuat tubuh merinding ketakutan, dan, itu yang Evan rasakan saat itu.


"Si...siapa kau!!!" Tanya Evan gemetar karena aura Raja yang begitu kuat berjalan ke arahnya.


"Sebelum kau tau siapa aku. Kau tak akan lagi bisa bernafas, untuk menghirup kehidupan." Ucap Raja terus berjalan ke arah Evan yang susah begitu ketakutan.


Hanya dengan mengangkat tangannya ke udara, Evan sudah melayang mendekati Raja.


"Kau tak akan aku ampuni!!!" Seru Raja mencekik leher Evan sehingga membuatnya sulit bernafas. Udara tak lagi bisa dia rasakan. Dan, mungkin itu akhir dari hidupnya.


"Yang Mulia! Jangan mengotori tanganmu membunuh orang kotor seperti dia." Teriak Milka, tak ingin jika Raja membunuh Evan, dia tak ingin Raja menjadi seorang pembunuh.


"Dia pantas mendapatkan kematian atas perbuatannya padamu Putri." Ucap Raja pada Milka masih tak menghentikan aksinya mencekik Evan.


"Tapi aku tak ingin kau melakukan itu Yang Mulia. Biarkan dia mendapat balasan atas apa yang di lakukannya di dalam penjara. Biarkan pihak berwajib yang melakukannya." Kata Milka.


"Aku mohon.." pinta Milka, dia benar-benar tak ingin Raja sampai mengotori tangannya dengan membunuh orang seperti Evan.


Dan, akhirnya Raja melepaskan Evan, namun bukan dengan pelan, tapi Raja melepaskan Evan dengan cara melempar Evan kembali ke tembok dengan kuat. Sampai-sampai Evan mengeluarkan dari dari mulutnya. Tapi setidaknya dia harus bersyukur karena masih bernafas dan tak jadi mati. Sepertinya dia masih bisa menghirup udara.


Raja berjalan mendekati Milka, lalu mengusap pelan pipi Milka, akhirnya tangis Milka pecah, dan Raja menarik Milka kedalam pelukannya untuk menenangkan Milka,


"Terima kasih karna kau telah datang menyelamatkanku Yang Mulia. Jika tak ada kau, aku-" Ucapan Milka terhenti karena isak tangisnya.


"Aku akan selalu melindungimu. Dan, akan datang untuk menyelamatkanmu dimana pun itu." Ujar Raja menepuk pelan Milka untuk menenangkannya..


Sementara Evan di sana tak bisa lagi mengangkat tubuhnya untuk bangun. Seluruh tubuhnya terasa remuk, tubuhnya terasa sakit, di tambah dia sudah merasa sangat ketakutan. Karena melihat jika Raja membuatnya melayang. Yang artinya, dia bukan manusia biasa.


Namun itu bukan akhir karena Raja belum selesai dengan Evan.

__ADS_1


__ADS_2