Suami Hantu

Suami Hantu
Tawaran dan imbalannya part 4


__ADS_3

"Tidak perlu mengatakan cinta lagi padaku, dulu, bukankah kau putus denganku dan masuk dalam pelukannya karena dia yang lebih dulu memegang kekuasaan dalam perusahaan? Kau tidak pernah menyangka aku yang hanyalah putra bungsu tak penting dalam Keluarga bisa membalikkan keadaan di suatu hari bukan? Aku bahkan tidak menyangka kau bahkan bersekongkol dengan Ronald yang keji itu untuk mencelakai ku, kalian bahkan memberiku lampu yang sudah mantrai? Tidak apa kalau kalian ingin mencelakaiku, kakek pun sudah meninggal, tapi tidak bisakah membiarkannya mati dengan tenang? Aku dulu benar-benar telah buta, ternyata kau adalah wanita yang seperti ini, tidak punya hati, kau adalah wanita yang akan menempel terhadap siapapun yang kaya dan berkuasa! Sekarang kau sudah menikah, maka jalanilah kehidupanmu baik-baik, jangan memanfaatkanku lagi dengan mengandalkan perasaanku terhadapmu, toleransiku terhadapmu sudah mencapai batas. Apalagi sekarang aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, seberapa besar usahamu dalam berlagak menyedihkan, hanya akan membuatku jijik terhadapmu! Aku juga bersyukur tidak menikah denganmu!" Ujar


Mark dengan emosi.


Semua itu di dengarkan oleh Milka, sebenarnya, Milka tidak berniat untuk menguping pembicaraan kedua orang itu, tapi karena sudah terlanjut, ya apa boleh buat, ibaratkan menyelam sambil minum air, kan tidak etis jika tidak mendengarkan semuanya sampai selesai.


"Mark, ini bukanlah seperti yang kamu pikirkan, sungguh aku tidak seperti yang kau pikirkan dan kau tuduhkan. lampu itu kuberikan padamu atas perintah Ronald, awalnya aku bahkan tidak tau jika lampu itu sudah di mantrai. Dan, setelah mengetahuinya, aku ingin segera memberitahukannya padamu, tapi Ronald mengancam ku, jika aku mengatakannya padamu, maka dia akan membunuhku. Bahkan dulu, aku menikah dengannya karena aku hamil Mark, aku hamil karena di perkosa olehnya." Ucap istri Ronald dengan air matanya.


Milka harap, Mark tidak tertipu dengan air mata nenek lampir itu. Itu mengingatkan Milka pada Putri Salene dulu yang begitu pandai bersandiwara. Dan, untungnya, Raja tidak termakan dengan sandiwara Putri Salene yang pintar sekali akting.


Setelah puas mendengar pembicaraan Mark dan nenek sihir itu, Milka lalu pergi, kembali mencari Niko.


"Niko?" Panggil Milka kerena dia tak dapat menemukan Niko.


Milka sudah teriak memanggil Niko tapi tak ada sahutan dari Niko.


"Kau mencari seseorang nona?" Tanya pembantu rumah yang ada di sebuah kamar.


"Aku mencari pacarku, yang tadi datang bersamaku, ku kira dia ada di sini." Sabut Milka dengan senyum malu-malu karena sudah teriak-teriak memanggil Niko.


"Maaf Nona, aku tidak melihatnya, aku baru saja masuk ke kamar ini, karena membersihkan kamar ini untuk nona dan pacar nona." Kata pembantu itu.


"Kalau begitu aku akan mencarinya di tempat lain, maaf karena sudah merepotkan mu." Ucap Milka sebelum kembali pergi untuk mencari Niko. Milka bahkan mengoceh, karena rumah itu sangat besar hingga membuat dia kesulitan menemukan suaminya.


Saat Milka kembali mencari Niko, Milka mendengar suara teriakan seseorang seperti sedang kesakitan.

__ADS_1


"Arkhh!" Milka mengikuti arah datangnya suara itu.


Sesampainya di luar ternyata yang berteriak itu adalah seorang pria yang tak Milka kenal, tiba-tiba Milka menyadari ada benda berwarna biru dan hitam di lengan pria itu, terlihat seperti urat-urat kecil yang bercabang-cabang.


Milka hendak mendekat melihatnya karena penasaran, tapi pria itu membentaknya dan marah.


"Jangan mendekat ke arah jika kau tak ingin celaka.!" Katanya pada Milka.


Milka terkejut karena mendapat bentakan dari pria itu, padahal dia hanya ingin membantu, karena pria itu terlihat begitu kesakitan.


"Kenapa kau membentakku! Padahalkan aku hanya ingin membantumu" Ucap Milka kesal.


"Maaf, tapi tolong jangan dekati aku dan jangan menyentuhku." Ucap pria dengan nada pelan dan halus setelah menyadari kesalahannya karena bernada tinggi dengan orang yang tak mengenalnya.


Yang membuat Milka tercengang adalah, entah kenapa tubuh pria telah dipenuhi dengan garis-garis biru dan hitam, padahal baru beberapa menit lalu hanya tangannya yang seperti itu.


Saat merasakan sakit pria itu terjatuh dan dengan cepat Milka menahan pria itu.Setelah Milka sadari garis-garis yang tadinya menjalar di tubuh pria itu, kini juga ada di tubuhnya, bahkan lebih cepat menjalarnya, Milka merasakan seperti ada suatu benda yang terus bergerak di tubuhnya.


perasaan itu sangat tidak nyaman dia rasakan, apalagi terkadang jantungnya pun berdegup kencang tak karuan, dan terkadang dia merasakan yang menusuk tubuhnya. Milka merasakan sakit di seluruh tubuhnya hingga membuat dia tak tahan lagi.


"Dasar! kenapa kau malah membantuku, kau ini begitu bodoh?" Omelnya pada Milka.


"Kenapa kau malah mengataiku bodoh? Aku hanya ingin membantumu, tidak bisakah kau hanya mengatakan terima kasih saja!" Ucap Milka kesal pada pria itu yang sudah berani mengatainya bodoh.


"Maafkan aku." Ucap pria itu merasa bersalah, dia memang keterlaluan karena menyebut gadis yang baru saja di kebalnya dengan bodoh.

__ADS_1


Milka melihat tangan dan kakinya, Milka sudah hampir menangis, tapi pria itu kalah mentertawakannya.


"Kenapa kau malah tertawa? Katakan, jelaskan padaku, benda apa ini?" Tanya Milka ingin tahu benda apa yang menyebar di tubuhnya itu.


"Yang ada di tubuh mu dan tubuhku ini adalah aura negatif dari sebuah lampu gantung dan tubuh tubuh mayat kakek yang ada di peti mati bawah, aku telah menghisap aura negatif itu ke dalam tubuhku, karena kalau tidak melakukan itu, mayat kakek itu pasti akan melompat keluar membuat onar." Jelasnya.


"Mungkin ini terdengar tak masuk akal, tapi itulah yang sebenarnya terjadi." Sambung mengira jika Milka tam tahu apa-apa tentang hal gaib.


Benda dari lampu gantung? Kenapa benda dari lampu gantung bisa seperti ini? Dan, dimana Raja? Tanya Milka dalam hati.


"Sekarang kita harus bagaimana? Bagaimana cara menghilangkan ini?" Tanya Milka yang merasa semakin kesakitan karena benda yang ada di tubuhnya itu.


"Ada suatu cara, tapi aku tidak berani menggunakannya, takut kau akan menghajarku habis-habisan karena mengira aku orang yang mesum." Katanya pada Milka.


"Kalau memang ada cara, pakailah, benda ini terasa seperti akan merenggut nyawaku." Kata Milka agar pria itu cepat mengunakan cara yang dia maksud untuk menghilangkan benda itu dari tubuhnya.


Milka merasa dadanya begitu panas, dan jantungnya semakin tak karuan. Rasa sakit yang dia rasakan semakin bertambah.


"Kau benar-benar yakin? Taoi nanti jangan marah dan menyalahkan diriku, karena ini kau yang memintanya bukan aku yang menawarkannya padamu." Kata pria itu sambil menahan sakit yang di rasakannya.


"Baik, aku tidak akan menyalahkan mu atau berpikiran negatif tentangmu, cepat lakukan." Suruh Milka.


Saat Milka dan pria itu saling berhadap-hadapan, Milka masih belum tahu apa yang akan di lakukan pria itu untuk mengobati dirinya.


"Kemarilah, mendekat padaku." Katanya pelan, terlihat jika dia semakin susah untuk bicara. Dan, Milka kini merasa tenggorokannya mulai kering dan sakit.

__ADS_1


"Katakan padaku apa yang harus kulakukan." Tanya Milka setelah mendekat ke arah pria itu.


"Kenapa kau punya liontin seperti itu?" Tanya menunjuk liontin Milka degan bibirnya. Sepertinya dia tahu tentang liontin seperti yang di pakai oleh Milka.


__ADS_2