
Tubuh mayat itu tidak berbau busuk, artinya, matinya belum lama. Dan, di lihat dari rambut mayat itu, bisa di pastikan yang mati adalah pacar Faby.
Entah kapan kematiannya, karena Milka ingat dengan sangat jelas bahwa setelah semalam dia dan Raja masih mendengar dengan jelas suara ******* Faby dan pacarnya.
"Kenapa ada mayat di bawah tempat tidurku? Pasti ada yang ingin menjebak ku." Kata Faby dengan tubuh gemetar.
Entah Faby terlalu bodoh atau apa, dia bahkan tidak bisa mengenali pacarnya sendiri yang sudah menjadi mayat itu, pria yang masih bersamanya tadi malam, pria yang masih bercinta dengannya tadi malam.
Faby bahkan mengira jika ada yang ingin menjebak dirinya.
"Apa kau tidak bisa melihatnya? Lihat baik-baik, mayat ini jelas-jelas pacarmu."
"Mustahil! Tidak mungkin pacarku! Mayat itu bukan pavarku! Semalam sudah pulangi!" Kata Faby tak percaya apa yang di katakan oleh Milka.
"Kita tunggu sampai polisi datang, kau akan tahu ketika polisi memverifikasi identitasnya." Kata Milka
Tak lama kemudian polisi pun datang, polisi mengatakan jika semuanya, Milka, Niko, Natalie dan Faby harus ikut ke kantor polisi untuk di interogasi, karena mereka di jadikan saksi.
Mereka juga tidak bisa kembali ke rumah itu untuk sementara karena tempat itu harus di tutup sementara.
Karena sebelum meninggal pacar Faby itu terus bersama Faby malam tadi, jadi Faby adalah tersangka utamanya. Polisi memiliki kecurigaan besar terhadap Faby, tapi untuk sekarang Faby masih di jadikan saksi.
Milka, Natalie dan Niko tidak bisa kembali dalam tiga hari ke rumah itu, Polisi mengatakan bahwa tempat itu harus di tutup agar penyidik dapat melakukan penyelidikan.
Oleh karena itu, Natalie pergi untuk menginap bersama Cintya di rumah Cintya, Natalie dan Milka hanya pulang ke rumah untuk mengambil pakaian saja, dan itu pun di bawa pengawasan polisi.
Sementara Milka dan Raja, mereka berdua menginap di hotel sampai mereka di izinkan untuk pulang ke rumah. Dan, juga mereka harus terus melapor pada polisi saat mereka kan bepergian kemana pun.
__ADS_1
"Setelah semua ini selesai aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Dan aku minta uangmu kembali." Kata Faby saat di kantor polisi.
"Apa? Apa kau tidak malu mengatakan itu? Kau penyebab pacarmu itu meninggal!" Ujar Natalie marah.
"Apa!" Faby ikut marah.
"Sudah! apa kalian akan seperti ini terus?!" Ucap Milka menatap keduanya bergantian, jengkel, di dalam keadaan seperti itu pun keduanya masih juga bertengkar.
Saat sedang duduk menunggu dalam ketenangan di kantor polisi sore itu, seorang pria berjanggut, berusia sekitar tiga puluhan, dia menunjukkan kartu pekerjaannya pada Ke tiganya.
"Namaku Remy, aku seorang detektif." Ucapnya memperkenalkan diri pada Milka, Natalie dan Faby.
"Apa pendapat kalian tentang masalah ini, Kudengar Fany adalah orang pertama yang mengetahuinya, dan kalian berdua orang kedua yang masuk ke kamar itu. Apa kalian tahu yang meninggal itu adalah pacar Faby, selain itu apakah kalian pernah bertemu satu sama lain kemarin?" Tanya Remy si detektif.
"Aku tahu, meskipun almarhum sudah seperti itu, tapi dari model rambutnya dia adalah pacar Faby, aku juga tidak kenal dekat dengan pacarnya, hanya saja aku bertemu dengannya beberapa kali saat pacarnya datang menemuinya.” Jelas Milka.
"Kebanyakan orang, mereka akan takut ketika mereka melihat orang mati, tetapi kamu sebaliknya kamu malah mendekat ke arah mayat." Tatap Remy dengan curiga pada Milka, karena heran. Kenapa Milka sepertinya biasa saja saat melihat mayat itu.
Dan, orang selanjutnya yang di interogasi oleh Remy adalah Natalie.
"Ku dengar kau sempat cekcok dengan pacarnya." Dia menunjuk Faby.
"Ku rasa aku bukan orang yang tepat untuk di curigai, aku memang cekcok, tapi bukan dengannya melainkan dia." Natalie menunjuk Faby untuk meluruskan, jika dia cekcok pada Faby, bukan pacar Faby.
"Lagi pula aku bertengkar dengan wanita itu, karena setiap malam dia melakukan hal itu. Saat dia melakukan itu dia selalu membuatnya dengan suara yang keras hingga menganggu tidur kami, bahkan ku rasa dia sengaja mengeraskan suaranya, setiap malam dia mengajak pacarnya ke kamarnya, dan setiap malam juga dia melakukan itu dengan pacarnya." Jelas Natalie.
Natalie juga menjelaskan, jika itu adalah salah satu penyebab dia bertengkar setiap hari dengan Faby, bahkan Faby menyimpan K*ndom di kulkas.
__ADS_1
Natalie menjelaskan semua itu pada detektif, dia benar-benar tak ingin di jadikan tersangka yang telah membunuh pacar Fany, karena itu sungguh tidak masuk akal.
"Ya, semalam dia juga sempat melakukan itu, setelah pukul satu atau dua, mereka berhenti, karena aku sudah tidak mendengarnya lagi." Kata Milka.
"Sepertinya dia meninggal pukul dua atau tiga subuh tadi." Suara Niko membuat semua menoleh.
"Siapa kau?" Tanya detektif.
"Dia pria yang juga menyewa kamar di rumahku." Kata Natalie.
"emang benar, orang itu meninggal sekitar pukul dua atau tiga, seperti yang kau katakan. alasan kematiannya, kukatakan juga sepertinya kalian tidak akan paham, kecuali si pembunuh ada diantara kalian berempat. Intinya, sel dan organnya dengan cepat rusak, menyusut, jika ada yang kalian ketahui, kuharap kalian bisa mengatakan semuanya secara jujur." Kata detektif.
Milka tahu pasti detektif itu curiga juga pada Niko.
Sepertinya mereka berempat sudah di curigai oleh detektif itu, meskipun kematian pacar Faby tak bisa di jelaskan dengan logika.
Tali yang pasti Milka tahu, jika kematian pacar Faby ada kaitannya dengan roh jahat. Dan, Raja pasti mengetahui sesuatu, tapi tak ingin berbuat apa-apa, karena dia sedang dalam penyamaran.
Milka merasa dia harus bertanya pada Raja apa yang terjadi sebenarnya.
"Ini semua terjadi karena perempuan gatal itu!" Natalie melirik tajam pada Faby.
"Apa! Apa katamu!" Faby marah dengan sebutan yang di berikan Natalie padanya.
"Perempuan gatal! Jika bukan karena kau melakukan hal itu setiap malam dengan pacarmu, mungkin ini tidak akan terjadi. Mungkin saja dia seperti itu karena kalian melakukan hal itu setiap malam!" Ucap Natalie dengan marah menatap Faby.
"Apa yang kau katakan barusan! Mungkin saja kau yang membunuh pacarku karena kau merasa iri tak punya pasangan! Iyakan! Akui saja!" Tuduh Faby.
__ADS_1
"Iri! Untuk apa aku iri dengan ****** seperti mu hah!" Natalie sudah tak bisa menahan emosinya.
Dan, terjadilah bakujambak antara keduanya, untungnya itu kantor polisi, jadi mudah itu melerai mereka.