
"Benarkah?" Pekik Glydis saat Milka memberitahunya bahwa Milka mendapat petunjuk bahwa pembunuh itu akan muncul saat jam Sembilan nanti.
"Itu artinya saat itu kita harus mengawasi siapa pun pada jam itu." Ucap Dennis.
"Kita bertiga harus siaga." Milka menambahkan.
"Tapi ngomong-ngomong kamu tau dari mana Mil petunjuk itu?" Tanya Glydis ingin tau Milka mendapatkan petunjuk dari siapa.
"Lewat mimpi Dis, semalam." Jawab Milka asal dan untungnya Glydis percaya begitu saja.
Saat pelajaran di mulai mereka bertiga pun belajar dengan serius namun saat jam sudah mendekati angka sembilan ketiganya semakin waspada akan kemunculan si pembunuh itu.
Seorang guru masuk dan menyapa semua siswa dan siswi, mengatakan untuk hari itu dia yang akan mengajar di kelas itu karena guru yang mengajar di jam itu tak datang. Dan, itu tepat jam sembilan pagi..
Milka, Glydis dan Dennis memandang satu sama lain, dalam hati mereka bertanya apakah mungkin guru itu yang si pembunuh.
"Permisi bu." Dua orang siswi masuk.
"Ya," Sahut Bu Tanti guru yang tadi.
"Kita dari toilet bu." Kata Siswi itu lagi.
"Ya, masuk." Ucap bu Tanti mempersilahkan kedua siswi yang tadi ke toilet untuk kembali duduk di kursinya.
Milka, Glydis dan Dennis masih mengarahkan pandangannya ke guru itu tanpa berkedip. Namun sampai selesai pelajaran tak ada yang mencurigakan dari guru itu.
Dan mereka pun mulai ragu apakah ibu guru itu pembunuh, atau dugaan mereka salah!..
"Mumet nih pala." Ucap Dennis terlihat acak-acak kan karena memikirkan pembunuhan yang terjadi dan siapa pembunuh sebenarnya.
"Makan dulu yuk, siapa tau kalo perut terisi pikiran bakalan jernih buat pikir." Ajak Milka.
"Ayo, aku juga udah lapar banget." Kata Glydis mengusap perut kecilnya.
"Yuk." Ucap Dennis, lalu mereka pun berjalan ke arah kantin untuk mengisi perut yang lapar.
Setelah makanan yang di pesan datang ketiganya pun langsung melahap makanan mereka. Akibat memaki otak terlalu keras untuk memikirkan sesuatu yang sulit perut pun ikut kena dampaknya. Maksudnya cepat lapar.
Dalam hati Milka menjadi geram dengan petunjuk yang Raja berikan, petunjuk itu bukan memudahkan mereka tapi malah membuat tambah rumit.
__ADS_1
Di tengah kekalutannya karena petunjuk Raja sesuatu kembali terjadi. Pengumuman bahwa pembunuhan terjadi lagi baru saja di umumkan oleh kepala sekalah dan melarang siapa pun untuk meninggalkan sekolah.
Milka, Glydis dan Dennis dengan cepat berlari ke tempat kejadian, di mana seorang guru di sekolah itu yang kali ini menjadi korbannya. Iaitu pak Badrul, yang tadi bu Tanti gantikan karena ke tidak hadirannya.
Misteri yang belum terpecahkan itu kembali memakan korban. Dan korbannya guru kelas Milka.
"Sebenarnya apa si yang terjadi ini?" Dennis terlihat frustrasi.
"Kok makin hari nih sekolah makin ngeri ya, jadi takut sekolah aku." Glydis terlihat ketakutan.
Tak lama kemudian polisi datang, tampaknya para polisi juga di buat pusing oleh si pembunuh, karena sampai saat itu mereka tak menemukan jejak yang mengarah pada si pembunuh.
Tak ada tanda-tandanya di mayat, atau di benda-benda yang polisi temukan. Semuanya bersih seperti tak pernah terjadi. Seakan-akan pembunuhan itu di lakukan oleh yang mati itu sendiri.
Korban pertama pria, korban kedua wanita dan kini korban ketiganya adalah pria. Sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa semua mayat itu di bawa ke sekolah..
"Pak Badrul juga di bunuh di tempat lain dan setelahnya di bawa ke sekolah." Ujar Dennis. Sedari tadi dia tampak berpikir dengan keras. Menyusun setiap puzzle agar menyatu dengan sempurna.
Namun tampaknya dia kesulitan karena kepingan-kepingan puzzle itu tak utuh. Masih ada yang hilang dan mereka harus menemukan kepingan yang hilang itu agar bisa di susun dan si satukan dengan benar
"Mayat pertama di temukan di lorong kelas." Dennis mencoba menemukan tanda tanya itu.
"Dan mayat ke tiga di toilet sekolah." Ucapnya dengan raut wajah serius. Namun sekeras apa pun dia mencari celah untuk menemukan benang merah tak juga dia temukan.
"Arkkkk!!!" Dennis mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Dan, Milka masih mengingat-ingat siapa saja yang ada atau mencolok saat jam sembilan tadi, namun terlalu banyak orang saat itu hingga dia tak dapat untuk menarik kesimpulan siapa yang patut di curigai.
Bu Tanti yang muncul, bahkan penjaga kantin juga lewat saat jam sembilan tadi. Satpam sekolah pun saat itu juga lewat di depan kelas. Dan dua siswi yang pamit ke toilet dan kembali saat jam sembilan.
Rasanya kepala Milka akan meledak akibat berpikir dengan berlebihan.
"Mil, cium deh. Wangi kan?" Glydis menyodorkan tangan yang sudah ia semprotkan parfum.
"Wangi Dis." Ucap Milka.
"Kayak wangi-" Milka mengingat sesuatu. Wangi itu terasa familier. Tapi di mana dia mencium wangi yang seperti itu sebelumnya?
Milka terus mengingat-ingat, apa Underworld? Atau dan Milka mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Den, coba cium deh." Milka menarik tangan Glydis dan menyuruh Dennis menghirup wanginya. Dennis menurut dan mendapati wangi itu tercium sebelumnya.
"Kamu dapat dari mana parfum kayak gini?" Tanya Dennis pada Glydis.
"Ini?" Glydis menunjukkan parfum berbotol kecil itu pada Milka dan Dennis.
"Mama yang beliin, lagi viral tapi limited cuman ada 20 aja." Ucap Glydis.
"Tadi kamu pake enggak waktu di kelas?" Tanya Milka.
"Engga, aku enggak pake. Ini baru aku keluarin dari karena pengen tunjukkin ke kamu wanginya." Ujar Glydis.
"Berarti pembunuh itu juga pake parfum kayak gini." Kata Dennis, wangi parfum itu tercium pada mayat, bukan hanya satu tapi ketiga mayat itu.
"Kok bisa gitu? Siapa tau aja mereka juga pake parfum kayak gini." Ucap Glydis, yang mungkin saja para mayat itu pas hidup membeli parfum itu.
"Untuk memastikan kita harus mengetahui list nama-nama pembeli." Ucap Dennis.
"Tapi ity enggak gampang kayaknya." Kata Milka tak yakin apakah mereka bisa mendapatkan nama-nama si pembeli parfum, karena pastinya penjual akan merahasiakannya.
Milka, Glydis dan Dennis kembali bernafas berat, rasanya memang tak akan mudah untuk memecahkan kasus pembunuhan misterius itu.
Ternyata mengungkap kasus itu tidaklah mudah, Dan, untuk menemukan pembunuh itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Karena jika salah, akan fatal jadinya. Ternyata untuk jadi seorang detektif sangat sulit. Pikir Milka.
Dan, tiba-tiba Milka mengingat sesuatu. Electra? Ya, Electra pasti bisa membantunya untuk mendapatkan list nama para pembeli parfum itu.
"Aku tau siapa yang bisa bantu kita." Beritahu Milka.
"Siapa?" Tanya Dennis dan Glydis bersamaan.
"Electra." Kata Milka.
"Electra? Siapa dia?" Tanya Glydis. Tak mengenal nama yang di sebut Milka. Begitu pun juga dengan Dennis.
"Istri dari sepupuku." Ucap Milka.
"Dia model, aku yakin jika meminta bantuannya dia pasti mau bantu kita." Kata Milka lagi.
Dan dengan segera Dennis mengerti siapa yang di maksud istri dari sepupunya itu. Yang kemungkinan adalah istri Raja, pikir Dennis.
__ADS_1