
Milka tertidur di dengan berbantal paha Raja. Sesekali perutnya juga berbunyi menandakan jika dia merasa lapar.
Sementara Ozald dan Dena, keduanya duduk berpegangan tangan.
"Maafkan aku, karena diriku, kau jadi terkurung seperti ini." Kata Ozald pada Dena.
Ozald merasa bersalah melihat Dena seperti itu, dan jika dia bukan penjaga jembatan kehidupan seperti yamg dia dengar, mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi.
"Ini bukan kesalahanmu, jadi jangan menyalahkan dirimu seperti itu." Ucap Dena.
Karena, menurut Dena Ozald tidak bersalah, yang bersalah itu adalah dukun busuk yang menginginkan kehidupan abadi dan kekayaan yang berlimpah.
"Tapi jika aku tidak berguna, mungkin kita tidak akan ada di sini." Kata Ozald.
"Apa benar aku ini penjaga jembatan kehidupan?" Tanya Ozald pada Niko yang mengusap-usap lembut rambut Milka.
"Ya, kau adalah penjaga jembatan kehidupan, di mana para reinkarnasi akan melewatimu, kau memiliki kekuatan untuk memberikan kehidupan yang baik pada yang akan terlahir." Jelas Raja.
"Tapi, apakah benar jika manusia memakan daging ku, mereka akan hidup abadi?" Tanya Ozald, dia juga penasaran akan hal itu.
"Itu benar, jika manusia memakan daging mu, maka, manusia itu akan abadi. Dan, dia juga akan mendapatkan kekayaan." Sahut Raja.
"Dari mana kau tau tentang semua itu?" Tanya Ozald.
"Karena aku seorang paranormal." Jawab Raja yang tak mengaku jika dia sebenarnya adalah penguasa Underworld. Di
Ozald mengernyitkan dahinya dan berpikir keras, tidak tahu apa yang dipikirkannya, dia memiliki kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang penjaga, jika dia terus bersama dengan Dena dan hidup di dunia manusia, entah apa lagi yang akan terjadi. Mungkin saja jumlah orang-orang yang berambisi seperti dukun busuk itu ada banya, Ozald berpikir, jika seperti itu, dia hanya akan membuat Dena berada dalam bahaya, dia tak ingin terus membuat Dena dalam bahaya. Karena, dia tidak sanggup melihat Dena menderita karena dirinya.
"Mereka datang." Ucap Raja masih duduk bersila.
Tak lama kemudian Rafhael Glydis, mata Milka langsumg terbuka.
__ADS_1
"Yang Mulia." Mereka memberi hormat pada Raja dan Milka.
"Cepat lepaskan kami dari dari kurungan ini." Perintah Raja.
Rafhael lalu mengunakan kekuatannya untuk membuka kurungan itu. Dan, itu berhasil.
"Siapa kalian?!" Bawahan dukun datang pada saat Rafhael berhasil membuka kurungan itu.
"Pencabut nyawamu." Sahut Glydis marah, karena berani sekali para manusia kurang ajar itu mengurung Permaisuri yang begitu baik padanya.
Pertarungan pun terjadi, dan seperti dugaan, para pria tinggi besar itu kalah telak. Bahkan, sebelum menyentuh Rafhael dan Glydis mereka sudah terpental.
Saat akan pergi meninggalkan tempat itu, dukun busuk itu kembali dan melihat semua yang terjadi. Dan, itu membuatnya menjadi marah.
"Kurang ajar kalian semua! Berani sekali kalian ingin merusak rencana ku!" Ujarnya dengan begitu marah.
Dia mulai membaca mantra-mantra aneh yang tak di mengerti apa arti dari mantra itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menggangguku, dan menghancurkan rencana ku!" Teriak duku busuk itu.
Semakin lama, semakin banyak roh jahat yang berdatangan.
"Cepat, kau bawa mereka pergi dari tempat ini." Perintah Raja pada Ozald agar Ozald segera membawa pergi Milka dan Dena.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Milka pada Raja yang masih berwujud Niko.
"Pergi saja, kau tidak bisa berada di sini, bahaya. Aku tidak ingin para roh jahat mengetahui identitas mu dan juga anak kita." Kata Raja menyuruh Milka cepat pergi meninggalkan tempat itu bersama Ozald dan Dena.
Mau tak mau, Milka harus menurut, dia juga tak ingin membiarkan anaknya dalan bahaya.
Ozald membawa pergi Milka dan Dena, sedang Rafhael dan Glydis menghalangi para roh yang ingin mengejar Ozald yang membawa pergi Milka dan Dena.
__ADS_1
Pertarungan semakin sengit, karena roh jahat tak henti-hentinya berdatangan.
Dukun busuk itu juga terlihat seperti sudah kerasukan roh jahat.
Ozald susah membawa pergi Milka dan Dena menjauh dari rumah itu. Mereka bertiga tiba di pinggiran sungai.
"Sepertinya kita aman di sini." Kata Ozald.
Dena yang begitu bersyukur langsung memeluk Ozald dengan menangis tersedu-sedu.
Dia bersyukur karena Ozald selamat bersama dengannya.
"Kalian berdua pergilah dari tempat ini." Kata Ozald.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Dena.
"Aku harus kembali ke sana, aku harus membantu mereka."
"Tidak! Kau tidak boleh kembali ke tempat itu." Dena tak ingin melepaskan tangan Ozald.
"Aku harus kembali untuk membantu mereka." Ucap Ozald, akhirnya Dena perlahan-lahan melepaskan tangan Ozald.
Dia mengizinkan Ozald untuk pergi, karena Dena tak ingin menjadi orang yang egois dengan menaham Ozald bersamanya, dan melupakan nuraninya.
"Pergilah, tapi kau harus berjanji untuk kembali."
"Aku akan kembali dengan selamat, jangan khawatir." Ozald memeluk Dena, setelahnya dia kembali ke rumah itu, dimana yang lain sedang bertarung dengan para roh.
"Jangan khawatir, dia pasti akan kembali dengan selamat." Ucap Milka pada Dena.
"Aku berharap demikian." Kata Dena penuh harap.
__ADS_1
"Selama ini, setelah kematian kedua orang tuaku, aku hanya memiliki nenek dan kakek, dan tak lama kemudian, aku juga kehilangan kakek dan nenek, aku merasa sangat kesepian. Pada malam itu, aku menangis merindukan keluargaku. Aku juga merasa sangat tidak adil, karena semua orang yang ku sayangi dan menyayangiku pergi. Dan, saat itulah, bola kristal yang kutemukan di sungai bercahaya, setelah cahayanya redup, seorang anak laki-laki berdiri di sana. Saat melihatnya aku merasa sangat ketakutan, tapi saat dia melihatku, dia tersenyum dengan manis dan langsung memelukku. Saat itulah, aku berpikir jika Tuhan mengirimnya untukku dan aku harus menjaganya." Dena menceritakan semua tentang pertemuannya dan juga apa yang dia rasakan pada Milka.
“apalagi saat aku melihat dia tertidur. Dia adalah anak kecil yang suka tidur meringkup, melihatnya yang begitu polos dan senyumnya, semua itu mengatasi rasa takutku, aku merasa keberadaannya membuathidupku bisa dikatakan lebih baik. Ketika ada yang mengusikku, dia bisa membantuku mengusir orang-orang itu, sebenarnya aku sudah menyadari dari awal akan tiba hari dimana dia akan meninggalkanku, kekuatan yang dimilikinya benar-benar sangat besar, aku rasa kalau dia bukanlah makhuk yang berasal dari dunia ini. Kepergiannya, adalah sesuatu yang akan terjadi cepat tau lambat. Tetapi ketika kalian datang, aku pun menjadi gugup, aku takut dia meninggalkanku, dan semuanya terjadi lebih cepat dari dugaan ku, jika tidak terjadi hal ini, dia tidak sampai diculik, mungkin aku juga tidak bisa membiarkannya pergi." Tatapan Dena sangat sendu saat dia bercerita, Milka bisa merasakan kepedihan Dena saat dia membayangkan jika Ozald akan pergi meninggalkannya.