Suami Hantu

Suami Hantu
Kebuntuhan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Putri Electra mendatangi Milka di kediamannya membawakan catatan list nama-nama yang membeli parfum limited itu.


"Kau mendapatkannya.." Pekik Milka senang saat Putri Electra mengulurkan catatan nama itu padanya.


"Ya, aku mendapatkannya, semoga itu bisa membantumu Putri Aerish." Ucap Putri Electra.


"Terima kasih, aku benar-benar beruntung karna kau." Ucap Milka.


"Aku senang bisa membantumu Putri Aerish." Kata Putri Electra.


Lalu Milka pamit untuk segera ke sekolah. Dalam hati Milka sudah tak sabar ingin memperlihatkan list nama itu pada Dennis dan Glydis.


Sesampainya di depan sekolah Milka menunggu kedatangan Glydis dan juga Dennis dan tak lama kemudian yang di tunggu pun tiba.


Tungguin kita ya?" Tanya Glydis saat sudah berada di hadapan Milka.


"Iyalah tungguin kalian, masa aku tungguin Melody." Sahut Milka.


"Ye, siapa tau aja kamu kangen sama Melody." Gelak Glydis.


"Mending kangen kalian deh, daripada kangen tuh ember pecah." Kata Milka.


"Ember pecah ha ha ha, tumpah dong." Sahut Glydis dengan gelak tawanya.


"Ketawanya biasa aja dong, enggak usah lebay gitu." Sambar Melody yang lewat tak menyadari bahwa dirinyalah yang jadi bahan tertawa oleh Glydis.


"Mulut-mulutku, kok sewot." Ucap Glydis menjulurkan lidah ke arah Melody.


"Dasar udil." Olok Melody lalu meninggalkan Milka, Glydis dan juga Dennis.


"Iih, ember pecah..." Teriak Glydis.


"Heran deh kamu bisa betah serumah sama orang kayak gitu Mil." Kata Glydis masih mengira jika Milka tinggal di rumah orang tuanya.


"Ya, mau enggak mau deh Dis," Sahut Milka tak ingin jujur jika dirinya telah lama meninggalkan rumah ayahnya. Dan, Dennis yang mengetahui yang sebenarnya hanya diam menutupi.


"Oya, kalian tau apa yang aku dapat pagi ini?.." Milka akan memperlihatkan catatan list nama-nama pembeli parfum limited.


"Memangnya apaan Mil? Dapat berlian ya? Atau uang sekarung?" Tebak Glydis asal.


"Ini tuh lebih berharga dari yang kamu sebut itu." Kata Milka.

__ADS_1


"Kalo gitu kamu diangkat jadi Ratu oleh Raja?" Ceplos Dennis.


"Ssssh.. sembarangan. Ya, enggaklah." Sahut Milka, dan untungnya Glydis tak konek dengan apa yang di katakan oleh Dennis.


"Jreng jreng jreng..." Milka mengeluarkan catatan list nama yang di berikan oleh Putri Electra.


"Apaan nih." Glydis mengambil catatan itu dari tangan Milka.


"Itu catatan list nama si pembeli parfum." Beritahu Milka.


"Kamu dapat." Dennis langgung menyambar catatan itu dari tangan Glydis.


"Iih, Dennis.." Protes Glydis karena Dennis tak memberinya kesempatan untuk melihat nama-nama yang tertera di catatan itu, padahal dia baru saja akan membacanya.


"BTW, kamu dapat dari mana Mil tuh catatan." Tanya Glydis ingin tau.


"Dari istri sepupuku. Dia itu model yang terkenal. Makanya gampang buat dia dapat tuh list nama-nama pembeli."


"Tau gitu, aku sekalian minta tanda tangannya. Kamu sih enggak ngomong kalo dia model terkenal." Kata Glydis memonyongkan bibirnya.


"Emang aku enggak ngomong ya, kalo dia model?" Tanya Milka, dan Glydis pun menggelengkan kepala.


"Berarti aku lupa." Ucap Milka.


Dan saat berada di dalam kelas Dennis begitu serius menatap catatan list nama itu, bahkan tanpa berkedip.


"Tantriyani.." Dennis mengucapkan satu nama yang tak asing.


"Bukannya itu bu Tanti ya?" Tanya Glydis dengan suara pelan.


"Iya itu nama panjang bu Tanti." Ucap Milka berbisik. Mereka bertiga saling melempar pandang.


Pertanyaan terlayangkan lewat pandangan itu, apakah mungkin pembunuh itu bu Tanti guru mereka sendiri. Atau pembunuh itu mengambing hitamkan bu Tanti. Kembali pikiran mereka menjadi kalut dengan praduga-praduga itu.


Milka pun kembali mengingat ucapan Raja yang mengatakan jika pembunuh itu akan muncul saat jam sembilan, dan tepat jam sembilan bu Tanti juga masuk ke dalam kelas mereka. Apakah mungkin benar bu Tanti si pembunuh?


Dan, masih di dalam pikiran menerka-nerka akan kebenaran, guru pun masuk. Dan guru itu adalah bu Tanti. Semerbak wangi parfum itu tercium. Benar sama seperti yang ada pada ketiga mayat itu.


Pelajaran akan segera di mulai. Milka, Dennis dan Glydis menghentikan sejenak pemikiran tentang si pembunuh dan fokus pada pelajaran mereka.


"Coba cek lagi siapa tau di list itu ada nama-nama yang meninggal itu." Kata Milka pada Dennis agar Dennis mencari dengan teliti.

__ADS_1


"Memang kalian tau nama yang meninggal itu siapa?" Tanya Glydis. Dan, hasilnya membuat Milka dan Dennis saling pandang. Karena tak satu pun dari mereka yang tau nama yang terbunuh itu.


"Kamu tau Den?" Tanya Milka.


"Enggak, kamu tau enggak?" Dennis balik tanya.


"Ya, aku juga enggak tau." Sahut Milka. Dan, dengan bersamaan mereka pun menghela nafas berat.


"Kamu kan bisa mengejar roh Den, gimana kamu cari aja roh mereka dan tanya mereka siapa yang bunuh." Otak Milka berfungsi meminta Dennis menggunakan keahliannya sebagai pemburu roh.


"Aku pengejar roh jahat Mil, dan, aku enggak tau apakah roh mereka itu masih ada di dunia atau sudah berada di alam baka." Kata Dennis.


"Atau kamu aja Mil, cari mereka di alam baka." Kini Dennis yang meminta Milka untuk mencari para roh yang meninggal itu di alam baka.


"Kalian ngomong apa si?" Tanya Glydis yang kebingungan dengan apa yang di bicarakan oleh Milka dan Dennis.


"Itu film kartun yang baru tayang tentang alam gaib, seru tau Dis. Kamu enggak nonton ya." Ujar Dennis berbohong.


"Film kartun baru?" Ulang Glydis melihat Milka, dan Milka pun mengangguk. Sebenarnya Milka sudah merasa sangat berat karena terus membohongi Glydis, namun Milka masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya pada Glydis.


"Iih, kok kalian malah bahas film kartun sih. Kita kan lagi bahas soal pembunuhan yang di sekolah. Kalian gimana sih." Protes Glydis.


"Iya ya, aduh... Maaf deh." Kata Milka.


Lalu ketiganya kembali menguras pikiran agar benang merah terhubung. Namun semakin mereka mencari, hanya kebuntuanlah yang mereka bertiga dapatkan.


Sehingga Milka kembali ke Underworld dengan wajah kusutnya. Pikirannya benar-benar lelah. Atau apakah perlu dia merengek pada Raja agar Raja mengatakan saja padanya siapa pembunuh yang sebenarnya.


"Putri kau kenapa?" Tanya Grasil yang melihat Milka tanpa semangat.


"Aku lapar." Ucap Milka duduk dengan wajah lelahnya.


"Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu." Kata Clona yang langsung meminta para pelayan untuk membawakan makanan untuk Milka.


"Apa kau ingin aku pijit Putri?" Tanya Grasil.


"Apakah boleh?" Tanya Milka.


"Tentu saja Putri." Sahut Grasil langsung mendekat dan memijit-mijit bahu Milka.


"Waah, rasanya nyaman. Bebanku sedikit berkurang akibat pijatanmu." Ujar Milka pada Grasil yang masih sibuk memijit bahunya.

__ADS_1


"Kalian berdua terima kasih. Kalian sangat baik padaku." Ucap Milka pada Clona dan Grasil dengan tulus.


"Itu adalah tugas kami Putri." Sahut Clona dan Grasil bersamaan dan dengan tersenyum.


__ADS_2