
Hari ini Milka berangkat sekolah dengan wajah ceria, dia dan Raja semakin dekat. Raja pun dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Milka.
"Kamu kenapa Mil senyum-senyum gitu?" Tanya Glydis pada Milka yang sedari tadi terlihat begitu senang di matanya.
"Memangnya enggak boleh ya aku senyum-senyum?" Tanya Milka.
"Ceritalah Mil, kamu dapat rezeki nomplok ya?" Dennis ikut-ikutan, mengira jika Milka mendapatkan sesuatu yang berharga.
"Iya rezeki nomplok emang, tapi enggak bisa di bagi-bagi karna cuman milik aku sendiri aja." Ujar Milka dengan raut wajah bahagianya.
"Iiih kamu kok jadi pelit sih Mil." Kata Glydis memanyunkan bibirnya.
"Kamu lagi jatuh cinta ya? Atau kamu dapat cinta dari Raja?" Tebak Dennis. Dan, wajah kaget Milka menganggap bahwa apa yang Dennis ucapkan adalah benar.
"Kamu sama Raja-"
"Jangan keras-keras ngomongnya Den." Kata Milka membekas mulut Dennis dengan tangannya.
"Kalian ngomongin apaan sih?" Tanya Glydis yang tak mengerti dengan apa yang di bahas Milka dan Dennis.
"Ini Dis, tangan Milka bekap mulut aku, untung tangannya wangi enggak mau eek." Ucap Dennis.
"Dennis jorok iih kamu." Kata Glydis.
"Lah, kok jorok. Aku ngomong apa memangnya di bilang jorok." Tanya Dennis tak mengerti.
"Kita kan ini lagi makan tapi kamu mala bilang eek." Ucap Glydis membuat Dennis menepuk jidat. Milka hanya tertawa melihat tingkah kedua temannya itu.
"Geng udil lagi pada makan ya? Makan apaan tuh?" Melody datang dengan ketiga temannya.
"Kamu enggak liat kita lagi makan apa?" Sahut Milka.
"Liat sih, makan bakso ya. Kesihan. Liat kita dong makannya piza." Melody memperlihatkan Box Piza yang ada pada masing-masing temannya.
"Jangan di gituin Mel, mereka kan enggak mampu beli entar giler lagi." Ucap salah satu teman Melody.
"Kesihan banget deh udil enggak mampu beli." Olok Melody tertawa senang.
__ADS_1
"Baru makan Piza aja udah sombong." Ucap Milka.
"Palingan kotaknya aja tuh." Kata Glydis.
"Piza mah udah bosan aku." Ujar Dennis.
"Banyak omong padahal enggak pernah ngerasain kan rasanya kayak apa." Melody mengambil satu Box Piza yang ada pada temannya lalu membukanya di hadapan Milka, Glydis dan Dennis untuk memperlihatkan isinya.
"Norak banget sih Mel." Ucap Glydis.
"Emang gitu Dis, kampungannya kentara." Tambah Dennis.
"Bodo, sera aku dong." Kata Melody lalu melangka ke salah satu meja dan duduk bersama teman-temannya.
"Enggak usah di ladeni. Kalo di ladeni yang ada kita kayak orang stres." Ucap Milka pada Glydis dan Dennis yang kedek dengan kelakuan Melody.
"Heran deh Mil, kok bisa betah kamu serumah sama Melody." Ujar Glydis yang masih belum tau kebenaran jika Milka tak lagi tinggal bersama dengan Melody di rumah ayahnya.
****
Saat akan pulang ternyata ada pak Harman datang ke sekolah untuk menjemput Melody. Milka, Dennis dan Glydis yang berjalan keluar melihat Pak Harman.
Melihat ayahnya raut wajah Milka seketika berubah. Entah ingin senang ataukah terluka, Milka tak tau lagi bagaimana menggambarkan perasaannya yang begitu kacau saat itu.
Melihat orang yang dulu begitu dia kagumi dan sayangi, namun seketika semua berubah saat Melody dan ibunnya muncul di hidup mereka, lalu ayahnya menjadi seperti orang asing yang tak lagi di kenalnya.
"Mil..." Panggil Glydis membuyarkan lamunan Milka.
"Ayahmu tuh, sana pulang." Kata Glydis lagi.
"Ayah...." Melody yang berlari memanggil Pak Harman dengan suara keras. Mungkin sengaja untuk memperlihatkan Milka.
Melody berlari menghampiri Pak Harman, pak Harman tersenyum ke arah Melody. Pak Harman dan Melody terlihat berkomunikasi sebentar lalu masuk ke dalam mobil tanpa peduli pada Milka yang menatap dari jauh.
Padahal pak Harman sadar jika Milka melihatnya dan dia juga dengan jelas melihat Milka, namun dia mengacuhkan Milka. Seperti tak melihatnya.
Milka hanya mampu menatap mobil yang di kendarai pak Harman menjauh, hingga tak terlihat di matanya lagi.
__ADS_1
"Kok kamu enggak ikut Mil?" Tanya Glydis heran, sementara Dennis hanya diam tak bersuara.
Tanpa sadar air mata Milka jatuh, membuat Glydis semakin ingin tau apa sebenarnya yang terjadi pada Milka dan ayahnya.
"Duduk di sana yuk." Ajak Dennis untuk duduk di sebuah bangku yang berada di luar sekolah.
"Sekarang kami harus cerita semuanya Mil." Pinta Glydis agar Milka menceritakan semuanya.
Milka yang tak lagi ingin menutup-nutupi, menceritakan semuanya dari awal. Bermula saat mereka semua ke desa Under dan saat dia di paksa menjadi pengantin pengganti, untuk menggantikan Melody menikah dengan hantu.
“Kamu serius? Yang kamu ceritakan ini asli? Kamu enggak lagi prank aku kan Mil?.” Glydis tak bisa mempercayai apa yang di dengarnya, karena yang Milka ceritakan itu sungguh tak masuk di akalnya.
“Yang aku ceritakan itu adalah yang sebenarnya Dis,” Ucap Milka. Namun sepertinya otak Glydis sulit untuk mencernanya, itu terdengar seperti dongeng.
“Yang Milka cerita itu semua benar Dis,” Kini barulah Dennis bersuara.
“Kok kamu tau Den? Kamu enggak kaget sama cerita Milka?” Tanya Glydis pada Dennis.
“karna aku adalah pemburu hantu. Dan, aku taunnya Milka adalah Selir Raja alam baka, adalah saat sekolah kita mengadakan study tour.” Jelas Dennis pada Glydis.
“Study tour? Jangan ngaco ah, mana pernah sekolah mengadakan study tour.” Ucap Glydis dan Dennis baru ingat jika ingatan Glydis telah di hapus.
“Kamu enggak ingat karna ingatan kamu udah di hapus Dis.” Kata Dennis memberitahu Glydis.
“Itu benar Dis, saat study tour itu kita semua hampir mati, akibat ulah roh jahat.” Milka menambahkan. Glydis menjadi bingung apakah harus mempercayai ucapan Milka dan Dennis yang di luar nalar itu.
Glydis memegangi kepalanya yang begitu sulit untuk menerima semua yang barusan di dengarnya dari mulut Milka dan Dennis.
“Gini deh, bentar lagi yang jemput Milka datang. Kamu pegang pundak aku biar waktu kamu enggak berhenti dan kamu jadi kayak patung.” Kata Dennis meminta Glydis memegang pundaknya.
“Mil, penjemput kamu bentar lagi datang kan?” Tanya Dennis ingin memastikan.
“Iya, dua menit lagi. Grasil enggak pernah telat kok jemput aku.” Sahut Milka.
“Kamu pengang pundak aku, jangan lepas, kalo kamu mau tau kebenaran yang menurut kamu itu sulit untuk di percaya.” Kata Dennis. Lalu Glydis pun menurut. Memegangi pundak Dennis.
“Putri Aerish..” Panggil Grasil yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
Glydis yang melihat itu menutup mulutnya kaget, tak percaya dengan apa yang di lihatnya, seorang wanita tiba-tiba saja muncul bagai sulap. Dan, saat melihat sekelilingnya, semua orang berhenti bergerak, kecuali mereka berempat termasuk Grasil.
Dan hal di luar nalar itu benar terjadi. Dan, apa yang tak bisa di percaya itu ternyata ada. Kini Glydis percaya dengan apa yang Milka dan Dennis katakan, karena dia sudah melihatnya sendiri. Kehadiran Grasil yang bagai sulap itu menjadi buktinya.