Suami Hantu

Suami Hantu
Kasus Yang Terpecahkan


__ADS_3

"Apa buktimu mengatakan aku adalah pembunuh!" Bu Tanti si guru terlihat begitu marah pada Dennis karena Dennis mengumumkan bahwa dialah si pembunuh itu.


"Bukti? Tentu saja aku memilikinya Bu." Sahut Dennis dengan penuh percaya diri.


"Parfum yang kau pakai itu tercium di tubuh para mayat." Ucap Dennis. Namun bukannya takut bu Tanti malah tertawa.


"Semua orang juga pake parfum Dennis. Mungkin saja kebetulan para mayat itu memaki parfum yang sama denganku." Kata Bu Tanti masih tak mengakui bahwa dirinyalah si pembunuh itu.


"List nama mereka enggak ada di catatan nama pembeli Bu, tapi nama ibu ada di situ." Jelas Dennis.


"Lalu bagaimana dengan temanmu itu? Dia juga kayaknya memakai parfum yang sama denganku." Bu Tanti menunjuk Glydis yang berdiri tak jauh dari Dennis. Dan, saat itulah Glydis menyesal memiliki parfum itu.


Dan sudah bisa Dennis tebak sedari tadi jika itu akan bisa Bu Tanti jadikan alibi. Karena jika dia mengatakan bahwa Bu Tanti adalah pembunuh hanya karena berdasarkan parfum maka dua puluh pembeli parfum itu bisa menjadi tersangka pembunuhan itu.


"Lalu bagaimana dengan ini?" Dennis memperlihatkan buah anting sebelah kiri Bu Tanti yang hilang. Dan, buah itu ada di tangan Dennis.


"Mungkin saja itu terjatuh." Kata Bu Tanti masih mengelak.


"Oya, tapi kok bisa ya Bu, ini ada di kukku mayat perempuan itu?" Dennis semakin menyudutkan Bu Tanti dengan bukti yang dia dapatkan. Dan, bisa di lihat Bu Tanti mulai terlihat gelisah mendengar ucapan Dennis.


Milka yang melihat Dennis memegang buah anting itu terlihat bingung, apakah benar Dennis mendapatkannya dari mayat perempuan itu?..


"Tampaknya dia melakukan perlawanan hingga dia menarik buah anting ini dan menyembunyikannya di kukku." Sambung Dennis. Para Siswa dan Siswi yang menyaksikan itu kini mulai berbisik-bisik hingga membuat Bu Tanti semakin gelisah dan mungkin juga takut karena perbuatannya telah terbongkar.


"Iya aku yang membunuh mereka, karena mereka pantas untuk mati!!!." Sergah Bu Tanti mengakui perbuatannya.


"Tapi sayangnya itu tak sampai di sini saja Bu." Ucap Dennis. Bu Tanti yang tadinya menunduk setelah mengakui perbuatannya kembali mengangkat wajah dan menatap Dennis.


"Bu enggak sendiri melakukan pembunuhan itu." Kata Dennis, sontak mata Bu Tanti terbelalak mendengar apa yang Dennis katakan.


"Pembunuhan itu di lakukan oleh tiga orang." Ujar Dennis membuat semua orang yang menyaksikan menjadi terkejut bahwa ada tiga orang yang melakukan pembunuhan itu.

__ADS_1


"Dan dua orang yang membantu ibu melakukannya adalah mereka berdua!" Tunjuk Dennis pada kedua siswi yang sedang berdiri dengan siswi lainnya. Dennis terlihat seperti seorang detektif yang menunjuk tersangka dengan penuh percaya diri dan kemenangan.


Sontak semua menatap ke arah kedua siswi itu. Kedua siswi itu adalah siswi yang saat itu kembali dari toilet tepat saat jam sembilan.


"Mereka berdualah yang membantu ibu melakukan pembunuhan itu." Ucap Dennis. Dan dengan lemah Bu Tanti terduduk tak berdaya lagi. Tak bisa menghindar.


"Laporkan aku saja. Mereka hanya terpaksa melakukannya karena ancamanku." Kata Bu Tanti mengakui perbuatannya.


"Aku dalang di balik pembunuhan itu. Akulah yang harus menerima hukuman, tidak mereka berdua." Sambung Bu Tanti lagi berlinang air mata.


"Enggak! Bu Tanti enggak salah! Orang-orang itu pantas mati!" Siswi yang berambut pendek sebahu berucap membelah Bu Tanti.


"Ya, mereka bertiga pantas mati! Dan atas kepantasan itulah kami membunuh mereka, mereka bukan manusia!!!" Siswi berambut panjang terurai ikut bersuara.


"Dan seharusnya hari ini ada satu lagi yang ikut ke neraka bersama ketiga orang itu." Tambah siswi berambut panjang dengan tatapan tajam menatap ke arah kepala sekolah yang juga berdiri menyaksikan kejadian itu.


"Mereka adalah iblis yang berkedok manusia lalu memperlihatkan sikap seakan malaikat!" Sambung siswi berambut panjang dengan emosi, sementara isak tangis Bu Tanti semakin terdengar menyayat hati.


"Kami memiliki seorang kakak perempuan yang usianya tiga tahun lebih tua." Siswi berambut pendek mulai menjelaskan.


"Saat di kelas tiga, dia di lecehkan oleh guru di sekolah. Bukan hanya satu tapi dua guru yang melakukannya!!!" Siswi berambut panjang meremas tangannya menahan amarah saat menceritakan kejadian yang di alami kakaknya.


"Saat melapor dan meminta pembelaan dari kepala sekolah, kalian tau apa yang di ucapkan oleh kepala sekolahnya! Dia di minta bungkam dengan alasan nama baik sekolah lebih penting dari kehormatannya!! Pantaskah dia dapatkan penghinaan itu setelah kehormatannya terangut!!!" Mata siswi berambut panjang mulai berkaca-kaca menampung air matanya yang sebentar lagi akan mengalir dengan deras.


"Lalu bagaimana dengan mayat perempuan itu?" Tanya Dennis ingin tau apa kaitan mayat perempuan itu.


"Dia adalah saksi dari kejadian di mana kakak kami di renggut kehormatannya oleh dua iblis itu!" Sahut siswi berambut pendek.


"Dan saat kakak memohon agar wanita ****** itu membantunya menjadi saksi ketika kakak melaporkan perbuatan terkutuk iblis-iblis itu, justru wanita ****** itu membuat kesaksian palsu mengatakan bahwa kakak kami yang menggoda dua iblis itu dan menawarkan diri dengan sukarela!" Jatuh sudah air mata kedua siswi yang menceritakan kejadian di mana hal itu yang memicu berlakunya pembunuhan ketiga mayat yang di temukan di sekolah.


"Karena tak dapat menahan kesedihan rasa malu! Setelah tiga bulan seperti orang gila yang selalu merenung, marah, dan menangis meraung-raung. Kakak mengakhiri hidupnya dengan mengantung diri, selandainya para iblis itu, wanita ****** dan dia! Kepala sekolah yang tak punya hati itu tak melakukan hal itu. Kakak, dia pasti masih ada bersama kami dengan senyumnya!!!" Ujar Siswi berambut pendek dengan derai air matanya.

__ADS_1


"Dan harusnya hari ini dia yang menjadi mayat ke empatnya!!!" Bu Tanti bangkit berdiri lalu menghampiri kepala sekolah dan mencekiknya. Namun karena tubuh besar kepala sekolah, dia menolak Bu Tanti hingga terjatuh.


Kedua siswi itu langsung menghampiri Bu Tanti dan memeluk Bu Tanti dengan erat. Tak lama kemudian para polisi yang menangani kasus itu pun datang membawa Bu Tanti dan kedua siswi itu, begitu pun dengan kepala sekolah.


Kini terungkap sudah kasus pembunuhan misterius yang terjadi di sekolah, dimana Bu Tanti dan kedua siswi yang melakukannya.


Dan di ketahui bahwa kedua siswi itu adalah anak angkat Bu Tanti yang sedari kecil di asuh oleh bu Tanti. Dan, kakak dari kedua siswi itu adalah anak kandung dari Bu Tanti, yang tiga tahun lalu pernah bersekolah di sekolah yang sama dengan Milka dan kedua siswi itu.


Mayat pertama yang seorang laki-laki yang di temukan adalah guru yang dulu pernah mengajar di sekolah itu. Begitu pun juga dengan mayat kedua yang seorang wanita. Dan mayat ketiga adalah pak Badrul, masih mengajar di sekolah itu sampai meregang nyawa.


Dan hampir saja, kepala sekolah menjadi mayat ke empat. Karena dia telah menutupi kasus pemerkosaan yang terjadi di sekolah.


Benar apa kata Dennis bahwa ketiga mayat itu di bunuh di tempat lain lalu di mayatnya di bawa ke sekolah, alasannya adalah untuk menakut-nakuti kepala sekolah agar menyesali keputusannya sebelum di bunuh.


"Den, buah anting itu benaran kamu jumpa di kukku mayat perempuan itu?" Tanya Milka yang masih penasaran akan itu.


"Enggak kok Mil, buah anting itu aku temuin sebelum penemuan mayat, dan kebetulan itu sama kayak punya bu Tanti. Jadi aku pake aja itu untuk di jadikan bukti. Dan, lagi aku liat kukku mayat perempuan itu panjang jadi sempurnalah sudah, dan kebetulannya lagi aku beruntung." Jelas Dennis lega karena ternyata keberuntungan berpihak padanya.


"Tapi kisahnya sedih ya. Aku jadi kasihan sama mereka." Glydis mengatakan itu dengan wajah sedihnya.


"Sedih dan menyayat hati, tapi kita juga enggak boleh berbuat apa-apa Dis, kita enggak boleh membenarkan perbuatan mereka. Karena meskipun begitu membunuh itu salah. Dan, buat mereka yang sudah melakukan hal terkutuk pada anak Bu Tanti, mereka mendapat balasan kejam atas perbuatan keji mereka. Karena apa yang kita tanam maka itulah nantinya akan kita tuai, jika kebaikan yang kita tanam maka kebaikan pula yang akan kita tuai, begitu pun sebaliknya." Milka berucap dengan bijaksana, karena itulah hukum karma yang akan kita dapatkan, jika tidak di dunia maka nanti di akhirat.


Milka juga sangat berterima kasih pada Raja, karena telah mengatakan si pembunuh itu padanya.


Flashback...


"Ayolah Yang Mulia katakan siapa si pembunuh itu agar aku bisa tidur dengan nyenyak." Renggek Milka.


"Baiklah, karena telah berjanji aku akan mengatakannya padamu Putri Aerish, dan dengarkanlah baik-baik." Kata Raja dengan wajah serius.


"Si pembunuh yang kau ingin tau itu, ada tiga orang. Ibu dan anak." Ujar Raja memberitahu Milka. Dan Milka yang mendengarnya menjadi sangat terkejut, apalagi saat Raja mengatakan bahwa si pembunuh adalah guru dan juga siswi di sekolahnya.

__ADS_1


Dan, seperti itulah Milka mengetahui siapa si pembunuh itu.


__ADS_2