Suami Hantu

Suami Hantu
Kepasrahan Hati


__ADS_3

"Yang Mulia..." Milka masih mencoba memanggil Raja lewat hatinya. Namun tak ada jawaban, Dan Milka harus kembali kecewa. Atau mungkin saja dia sudah tak bisa terbubung dengan Raja melalui batin.


Untuk mengobati hatinya dia pun memilih untuk keluar jalan-jalan dengan di temani oleh Clona dan Grasil.


Namun sepertinya Milka tak di biarkan menghirup udara yang melengahkan hatinya, karena di dalam perjalanannya ke taman dia bertemu dengan rombongan Raja yang tengah berjalan untuk ke taman juga.


"Putri Aerish apa kau ingin ke taman?" Tanya Ratu Dayana menghentikan langkahnya.


"Iya Yang Mulia Ratu." Sahut Milka pelan tak mengangkat wajahnya. Karena itu adalah peraturan. Tak boleh menatap langsung ke Wajah Raja, Ratu dan juga Permaisuri.


"Kalau seperti itu, ayo kita ke taman sama-sama." Tawar Ratu Dayana. Milka ingin menolak, karena sangat canggung baginya harus bersama dengan Raja. Karena Raja sudah mengabaikan dirinya dan juga hatinya. Walaupun dia tak tahu apa yang membuat Raja berubah sikap padanya.


"Baik Yang Mulia." Sahut Milka karena tak mungkin dia menolak ajakan Rau Dayana. Dan, Raja hanya diam tak menanggapi apa pun, ajakan Ratu Dayana pada Milka maupun sahutan Milka.


"Dulu aku dan Yang Mulia sering bermain di taman ini." Cerita Ratu Dayana pada Milka saat mereka telah sampai dan duduk di gazebo taman istana itu.


"Dulu dia sangat lucu dan senang berlari-lari." Sambung Ratu Dayana, Milka yang mendengarnya hanya diam, tak heran jika apa yang di ceritakan Clona dan Grasil yang mengatakan jika Ratu Dayana adalah cinta pertama Raja. Dan, mungkin itu jugalah yang membuat Raja berubah sikap padanya. Karena cinta pertama Raja telah kembali.


"Sayangnya saat dewasa aku menikah dengan Reydal, takdir tak berpihak pada kami berdua." Ratu Dayana terdengar sendu saat mengucapkannya. Sementara di depan sana Raja sedang berjalan dan menyentuh setiap bunga yang ia sukai.


Dan, Milka dia merasa semakin hancur mendengar cerita Ratu Dayana dengan Raja. Hatinya seperti tercabik-cabik. Mungkin dia harus membuang perasaannya pada Raja, karena kini mungkin dia tak lagi ada di hati Raja. Buktinya Raja terus mengabaikannya. Tak lagi pernah mengunjungi dirinya di kediamannya.


Dan Raja tak lagi menatapnya seperti sebelumnya, bahkan saat bertemu dengannya, Raja hanya diam, seperti mereka tak pernah membicarakan tentang perasaan mereka berdua sebelumnya.


Atau selama ini dia hanya terlalu percaya diri, jika Raja mencintainya. Ah, yah, Raja tak pernah mengatakan cinta padanya. Mungkin selama ini dia yang terlalu berlebihan. Ucap hati Milka.


****


"Arkkk...!!! Aku benci perempuan itu!" Ucap Permaisuri meradang.


"Tahan dirimu Yang Mulia." Nyonya East mencoba menenangkan Permaisuri.


"Kenapa dia harus kembali!!!" Permaisuri meluapkan emosinya.

__ADS_1


Dia tak bisa terima jika Ratu Dayana kembali, karena posisinya sangat terancam.


"Yang Mulia tahan dirimu, jangan sampai ada yang melihatmu seperti ini." Kembali Nyonya East meminta Permaisuri untuk bisa mengontrol emosinya.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang Nyonya East. Cinta pertama Yang Mulia kembali. Perempuan yang begitu di cintai Raja kembali!" Kali ini nada suara Permaisuri menjadi pelan, dan dia seperti menahan tangisnya.


"Selama ini aku mengira Raja akan menjadi milikku seutuhnya, namun, selir baru itu datang membuat aku menjadi waswas, dan sekarang cinta pertamanya yang kembali. Apakah aku harus tetap bersikap sewajarnya? Katakan Nyonya East. Apakah aku harus bersikap seperti perempuan yang tak akan kehilangan cintanya?" Tanya Permaisuri dengan nada lirih. Hatinya juga terluka sama seperti Milka.


Dan, mungkin yang membedakan hannyalah, Raja tak pernah memberikan harapan pada Permaisuri tentang perasaannya, sementara Milka, Raja memberikannya harapan. Harapan bahwa Raja juga mencintainya, meskipun Raja tak pernah mengatakan cinta pada Milka.


"Yang Mulia..." Nyonya East memeluk Permaisuri, dia bisa merasakan sakit yang di rasakan oleh Permaisuri.


****


Pagi ini Milka bertekad tak akan lagi memasang wajah tak cerianya, dia rak ingin lagi terluka. Dia akan mencoba melupakan semuanya, seakan dia dan Raja tak pernah dekat. Sama seperti saat pertama kali datang ke Underworld.


"Pagi.." Ucap Milka pada Glydis dan Dennis yang sudah berada di kelas pagi itu.


"Pagi juga. Cie udah ceria nih." Kata Glydis.


"Iya deh Den. Kamu deh juaranya kalo memberikan ucapan puitis." Ucap Milka senyum.


"Hai Zan.." Sapa Glydis yang melihat Zandra memasuki kelas. Dan sapaan Glydis di balas senyum menawan dari Zandra.


"Senyumnya.. jantungku kayaknya bakalan meledak deh Mil." Ucap Glydis pada Milka sambil memegangi dadanya saat mendapatkan senyum Zandra.


"Berarti bentar lagi kamu mati." Ucap Dennis tak suka.


"Mil liat deh Dennis, pengen banget dia kalo aku mati." Kata Glydis merenggek seperti sedang anak kecil yang sedang melapor kepada ibunya jika permennya di ambil oleh anak lain.


"Makanya Dis, kamu jangan gitu ke cowok lain, Dennis kan jadi cembukor." Ucap Milka.


"Apa? Aku cemburu? Ogah banget Mil." Dennis tak ingin di katakan cemburu karena Glydis tertarik pada laki-laki lain.

__ADS_1


"Cie Dennis cemburu ya?" Goda Glydis mencolek-colek pipi Dennis.


"Enggak, mau banget kamu aku cemburu." Kata Dennis.


"Jam kelas masih lama kan?" Tanya Milka.


"Masih beberapa menit lagi Mil, Emangnya kenapa?" Tanya Dennis.


"Aku mau ke toilet." Sahut Milka.


"Mau aku temenin?" Tanya Glydis.


"Enggak usah deh, aku sendiri aja." Sahut Milka.


"Ya udah deh," Kata Glydis lalu Milka pun keluar kelas dan berjalan pergi ke toilet.


Saat masuk ke dalam toilet Milka tak menyadari jika Melody mengikutinya dan mengunci Milka di dalam.


"Lah kok enggak bisa di buka." Gumam Milka saat memutar gagang pintu untuk membuka pintu toilet.


"Kok ke kunci? Siapa yang kunci?" Tanya Milka bicara sendiri.


"Hello, siapa di luar, tolong bukain dong pintunya.." Teriak Milka berharap ada orang di luar dan mendengarkan teriakannya.


Namun saat mencoba memutar gagang pintu, tetap masih sama, pintu masih terkunci. Sepertinya tak ada yang mendengar teriakan Milka.


"Tolong dong yang di luar bukain pintunya.." Teriak Milka lagi. Berharap kali ini akan ada yang mendengarkan teriakannya.


Namun masih tetap sama tak ada yang membukakan pintu untuknya. Milka masih mengedor-gedor pintu toilet sambil berharap dalam hati ada yang mendengarnya.


"Kamu enggak apa-apa?"


"Iya, aku ke kunci, tolong dong bukain pintunya." Pinta Milka pada orang yang berada di luar. Dan, tak lama pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Zandra..." Ucap Milka melihat ternyata yang membukakan pintu untuknya adalah Zandra.


"Sebaiknya kita keluar, jam pelajaran sudah mau mulai. Dan aku juga enggak mau lama-lama ada di sini. Aku enggak mau di bilang cowok masuk karna masuk ke dalam toilet cewek." Zandra lalu menarik tangan Milka untuk keluar dari toilet. Dan Milka hanya mengikutinya tanpa kata.


__ADS_2