
"Putri Aerish.. kau di sini juga" Pangeran Ells menyapa Milka yang berada di taman sore itu sedang menikmati indahnya bunga-bunga.
"Pangeran." Milka memberikan hormatnya.
"Putri Aerish tak perlu begitu sopan padaku." Ucap Pangeran Ells pada Milka,
"Santai saja ok." Katanya lagi.
"Apa kau sering ke sini?" Tanya Pangeran Ells.
"Hanya sesekali, jika aku lagi ingin memandang bunga-bunga ini." Jawab Milka.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Milka pada Ells yang sedang mengarahkan pandangannya pada bunga-bunga indah yang terpampang keindahannya itu.
"Sering, jika aku sedang berada di Istana." Sahut Pangeran Ells.
"Ternyata kau suka bunga ya." Kata Milka yang juga mengikuti arah pandang Pangeran Ells.
"Ya, bahkan jika bunga itu manusia aku pasti akan menikahinya." Kata Pangeran Ells membuat lelucon.
"Aku baru tau ada laki-laki yang secinta itu pada bunga." Ucap Milka.
"Ah, kau terlambat tau jika begitu." Pangeran Ells berucap dengan senyum.
"Ya sepertinya begitu." Milka pun ikut senyum. Milka tak menyangka jika Pangeran Ells memang benar-benar ramah . Dan juga murah senyum, bahkan itu di perlihatkannya saat pertama kali mereka bertemu.
"Bagaimana? Apa kau suka kehidupan di Underworld Putri Aerish?" Tanya Pangeran Ells.
"Suka tak suka, aku rasa aku tak punya pilihan lain selain harus menyukai tempat ini. Karna aku tak akan pernah bisa meninggalkan tempat ini." Sahut Milka. Karena memang seperti itulah, dia memang tak punya pilihan.
__ADS_1
Dan, jika pun di punya pilihan untuk bisa meninggalkan tempat itu dia pasti tak akan mau, karena di dunia manusia dia sudah tak punya rumah tempat untuk tinggal.
"Kau pasti kesulitan tinggal di tempat ini." Ucap Pangeran Ells.
"Awalnya ya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa." Jawab Milka dengan jujur.
"Apa Raja menyebalkan?" Tanya Pangeran Ells.
"Terlalu, dan sangat menyebalkan. Bahkan awalnya aku sempat mengira jika dia itu tak punya hati dan belas kasihan pada orang-orang." Kata Milka dengan ekspresi lucu, membayangkan saat pertama kali bertemu, saat Raja selalu menggodanya.
"Dia memang selalu seperti itu." Ucap Pangeran Ells.
"Tapi lama kelamaan, pandanganku berubah, karna yang kulihat dia tak sepenuhnya sama seperti anggapanku itu." Ujar Milka senyum mengingat Raja. Membahas Raja membuat Milka merindukannya, karena Milka belum bertemu Raja hari ini.
"Seperti itulah dirinya. Dan, terkadang dia juga ke kanak-kanakkan." Kata Pangeran Ells.
"Kalau itu aku setuju, Yang Mulia itu sangat ke kanak-kanakkan." Lalu keduanya pun tertawa membayangkan Raja.
"Yang Mulia sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Milka.
"Apa kau dari tadi?" Tanya Pangeran Ells.
"Tak berapa lama, aku hanya mendengar saat kalian mengataiku ke kanak-kanakkan, dan menertawaiku." Sahut Raja. Milka menelan ludahnya. Apakah Raja akan menghukumnya karena perkataan itu?.
"Benarkah kau mendengarnya? Syukurlah, jadi mulai sekarang kau harus membuang sikap ke kanak-kanakkanmu itu." Ucap Pangeran Ells tanpa takut. Selama ini Milka tak pernah melihat ada orang yang begitu berani pada Raja, ya, selain dirinya, tentunya. Selama ini kan hanya Milka yang begitu berani pada Raja. Membantah dan juga melawan.
"Kalian benar-benar sama." Ucap Raja melihat Milka dan Pangeran Ells bergantian.
"Benarkah, mungkin kami berjodoh." Kata Pangeran Ells.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu." Kata Raja dengan mata yang membulat karena mendengar ucapan Pangeran Ells.
"Putri Aerish, nanti datanglah ke kediamanku." Ucap Raja pada Milka sebelum meninggalkan taman itu, dan, setelahnya dia dan rombongannya pun pergi.
****
"Kau sudah datang," Ucap Raja saat Milka sudah berada di kediamannya. Seperti yang di suruh oleh Raja Milka mendatangi kediamannya.
"Apa yang ingin Yang Mulia sampaikan?" Tanya Milka mengira jika ada yang ingin Raja katakan padanya.
"Kemarilah." Raja mengerakkan tangannya meminta Milka mendekat.
"Jika kau ingin memarahiku karna mengatakan kau ke kanak-kanakkan. Kau tak boleh melakukan itu, karna itu artinya kau memang ke kanak-kanakkan." Ucap Milka tak ingin mendekat.
"Baiklah, biar aku yang mendekatimu." Raja berjalan mendekati Milka.
"Ya, aku ingin menghukummu karna telah berani membicarakanku di belakang, dan juga berani menertawaiku." Kata Raja tiba di hadapan Milka.
"Apa kau akan marah karna itu?" Tanya Milka.
"Ya, aku akan marah." Sahut Raja.
"Aku akan menghukummu." Tambahnya lagi. Lalu dengan cepat Raja mengecup bibir Milka.
"Apa ini hukumannya?" Tanya Milka yang melepaskan ciuman itu.
"Iya," kata Raja.
"Jika ini hukumannya aku akan dengan senang hati menerimanya Yang Mulia." Ucap Milka mulai berani. Kembali keduanya hanyut dalam ciuman mesra itu.
__ADS_1
Milka menautkan tangannya di leher Raja dengan kaki yang berjinjit, meresapi tiap detik sentuhan bibir Raja, begitu pun dengan Raja. Dan, setiap kali bersama Raja Milka selalu merasakan hatinya bergetar hebat, dan jantungnya berdetak dengan kencang.