
Gak Kerasa udah 100 Bab terimakasih yang masih setia mengikuti cerita ini dari awal sampai sekarang. 🙏🙏🥰🥰🥰
...----------------...
Satu Minggu Kemudian...
Setelah persoalan Sania tempo hari. Kini tidak ada lagi orang yang mengusik kehidupan Zevin dan Nazia. Kejadian itu juga terlupakan begitu saja.
"Sayang nanti sore aku jemput ya, jangan berangkat sendiri." Ucap Zevin berpamitan ke kantor.
"Iya. Tapi kita belum membeli hadiah untuk, Ay." Ujar Nazia.
"Hadiahnya sudah kusiapkan, sesuai janji kudulu." Balas Zevin.
"Baiklah, hati-hati sayang." Nazia tersenyum lembut.
Mobil Zevin melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Ia bersama Erik beraktivitas seperti biasa.
"Rik, kamu sudah membuka kotak hadiah yang aku bawa tiap hari dari kantor saat kamu sakit?" Tanya Zevin. Mengisi keheningan mereka berdua.
"Belum Kak, siapa yang memberikannya?" Balas tanya Erik. Ia mulai terbiasa memanggil Zevin dengan sebutan Kakak di luar kantor.
"Entahlah, di situ hanya tertulis pengagum rahasia." Zevin terkekeh.
"Nanti saja aku buka setelah pulang." Erik membelokan mobil masuk ke halaman kantor.
Di dalam kantor, Ralda termenung sendiri. Ia sudah mendengar cerita Alby mengenai Sherin. Ia juga senang karena Alby memberitahunya, tanpa tahu dari orang lain.
Namun ia juga takut jika Alby dan Sherin kembali bersama. Meski pun Alby meyakinkannya itu tidak mungkin.
Andai pun itu terjadi, maka Ralda harus bisa menerima dan melepaskannya meskipun ia mencintai Alby.
Zevin dan Erik juga tahu tapi mereka tidak ingin ikut campur dan membiarkan Alby menyelesaikan urusannya sendiri. Mereka juga tidak akan membiarkan Ralda menghadapi itu sendiri.
"Ra, jangan terlalu dipikirkan ! Jika, Al tidak mampu mengurusnya maka aku yang akan mengurusnya. Kamu tenang saja, selagi wanita itu tidak menyentuhmu." Zevin memberi semangat.
Ralda tersenyum mengangguk.
"Baiklah, waktunya bekerja." Ia menyemangati dirinya sendiri.
Zevin dan Erik tersenyum, mereka mulai menggarap pekerjaan hari ini.
__ADS_1
...----------------...
Alby tengah kesal saat ini, ketika dirinya tiba di kantor. Ia malah disambangi Sherin bersama putrinya. Wanita ini tanpa malu menghampiri Alby yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai kantor.
"Pagi, Al." Sapa Sherin tersenyum.
Alby tak menggubrisnya ia terus saja melangkah masuk menuju lift di ikuti Jimmy. Sherin menjadi kesal dan malu karena Alby tak menghiraukannya.
"Al, tunggu. Lihat putriku sekarang dia sudah bisa merangkak dan duduk." Sherin melangkah mendekat ke arah Alby dan Jimmy.
"Maaf Nona, sebaiknya anda pulang saja kasian putri anda harus merasakan dinginnya pagi ini dan AC
Itu sangat tidak baik untuk kesehatannya." Usir Jimmy secara halus.
Sherin menatap tak suka pada Jimmy. Karena ada benarnya penuturan asisten Alby ini, Sherin memutuskan untuk pulang. Ia akan mencari cara agar bisa dekat dengan Alby, ia juga akan mencari tahu calon istri mantan suaminya itu.
"Apa wanita itu pulang?" Tanya Alby.
"Sepertinya pulang." Jawab Jimmy.
"Sampaikan pada pihak keamanan di depan jangan membiarkan dia masuk lagi kesini. Aku tidak mau dia datang mengusik kehidupanku seperti dulu." Kata Alby.
"Baik tuan, sore nanti kita dapat undangan ke acara ulang tahun pernikahan dokter Rayya dan tuan Vian." Ucap Jimmy.
...----------------...
Kantor ZG pusat
Ralda tengah fokus bekerja terganggu karena getaran ponselnya. Ia melihat nama calon suaminya yang memanggilnya.
"Iya kak, Al." Sahutnya lembut.
"Masih sibuk?" Tanya Alby.
"Iya, mempersiapkan bahan meeting kak Zev bersama klien." Jawab Ralda.
"Kamu ikut dengannya?"
"Sepertinya tidak, karena Kak Zev pergi bersama Erik." Jawab Ralda.
"Baiklah, nanti jam makan siang aku jemput ya sayang. Kita harus mencari hadiah untuk Rayya dan Vian." Ucap Alby.
__ADS_1
"Iya, Kak ! Sekalian makan siang di luar." Balas Ralda.
"Siap sayang, tunggu aku ya. Semangat kerja ! Aku mati kan dulu telpon nya." Ujar Alby.
Ralda tersenyum, setelah telponnya mati. Ia merindukan calon suaminya itu saat ini. Zevin dan Erik menuju tempat janji temu dengan Klien mereka sementara itu Ralda melanjutkan pekerjaannya.
Waktu terus berdetak, tanpa terasa jam makan siang pun hampir tiba, seluruh karyawan mulai menutup pekerjaan mereka. Bersiap menyerbu kantin atau kafe terdekat.
Ralda sedang menunggu kedatangan Alby di dekat meja resepsionis. Tak lama pria yang ditunggunya itu datang. "Ayo !" Ajak Alby. Ralda tersenyum mengangguk
"Kita makan dulu ya." Ucap Ralda sambil memasang sabuk pengamannya.
"Iya, apa Zev dan Erik belum kembali ke kantor?" Tanya Alby.
"Belum, mereka makan siang di rumah. Kak Zev tidak mau istrinya makan siang sendiri." Jawab Ralda.
Tak ada perbincangan lagi dua insan ini larut dalam pemikirannya masing-masing. Hampir sepuluh menit terdiam, Alby kembali buka suara ia berkata. "Dia datang lagi ke kantor." Ucapnya pelan seiring helaan nafasnya.
Ralda berpaling menghadap Alby dengan perasaan sulit diartikan.
"Mau apa dia?" Tanyanya datar.
Alby tersenyum secara tidak langsung Ralda menunjukkan jika ia cemburu. "Entahlah, dia datang bersama putrinya. Tapi Jimmy mengusirnya. Percayalah aku tidak akan menanggapinya. Aku sudah muak dengan tingkahnya. Aku hanya mencintaimu." Alby menggenggam tangan Ralda.
"Aku percaya, apa mungkin dia menggunakan putrinya untuk meluluhkan hatimu. Agar iba dan menerimanya kembali." Ujar Ralda.
"Tebakanmu benar sayang, tapi aku tidak akan terpengaruh putrinya masih memiliki ayah kandung. Hanya waktunya saja masih lama untuk mereka bertemu." Balas Alby.
"Biarkan saja sampai sejauh mana usahanya." Kata Ralda.
"Jangan terlalu dipikirkan." Alby menghentikan mobilnya di salah satu restoran kota itu.
Mereka makan siang terlebih dulu, baru mencari hadiah untuk ulang tahun pernikahan Rayya dan Vian.
"Sudah selesai?" Tanya Alby.
"Iya, ayo kita lanjut cari hadiahnya. Keburu jam istirahat habis." Jawab Ralda.
Alby mengangguk setelah membayar, mereka segera menuju pusat perbelanjaan. Di sana mereka mulai memilih hadiah yang cocok untuk Rayya dan Vian.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan sinis. Dia lah Sherin setelah di usir dari kantor Alby. Ia tidak langsung pulang tapi menghabiskan waktu berbelanja sementara putri nya, ia titipkan pada pengasuhnya agar lebih dulu pulang.
__ADS_1
"Jadi dia calon istrimu, Al. Orang kantoran." Gumam Sherin.